part 10

Part 10 – Lunch time

Para panitia (bisa dibilang kakak-kakak asuh) mengkondisikan mereka lagi. Kalau sekarang, mereka bebas duduk dengan siapa saja, asalkan masih satu laskar.

Seperti biasa, Oik, Rahmi, Agni dan Gita duduk di satu meja yang sama. Mereka juga bersebelahan dengan Cahya, Ourel, Osa dan Selly. Mereka jadi dekat gara-gara acara penitipan kamar 13 ke kamar 15.

“Irva irva! Kamar 13 meledak ya AC nya! Hahaha” Ledek Dayat pada Irva. Fakta ini baru tersebar ke anak-anak cowok tadi pagi. Irva cemberut.
“Iya! Terus kenapa kalo AC nya meledak?!” Irva emosi. Shila geleng-geleng kepala, menarik Irva untuk menjauh dari Dayat.
Dayat, dayat. Padahal kan dia Waketos. Tapi sifat ‘sering meledek’ belom bisa hilang dari dirinya. Awalnya, waktu pemilihan ketua OSIS dulu, banyak yang tidak setuju Dayat menjadi wakil Gabriel.
Yah, dikarenakan sifatnya yang suka mengejek. Tapi, entah kenapa Gabriel fine-fine aja Dayat jadi wakilnya. Oh, ternyata Dayat adalah sohibnya sejak kecil.

“Tambah lagi mas!” kata Patton sambil menyodorkan piring kepada Mas-mas yang menyediakan makanan.
“Gak bisa, orang 1 orang 1 porsi… gak bisa nambah porsi” jawab mas-mas itu sambil menuangkan kuah gule pada piring Riko.
“Yaaah, kak Riko! Bener nih gak boelh nambah??” keluha Patton. Riko mengangguk.
“Boleh aja sih sebenernya… tapi, gak baik lho makan berlebihan. Entar sakit! Makanya mas-mas ini ngelarang buat nambah lagi” jelas Riko, dan berlalu.
“Tuuh, dengeri toh” kata mas-mas dengan logat jawanya.

Muka Oik pucat. Ia juga gak menghabiskan makanannya. Angel tampak khawatir dengan keadaan Oik.

“Oik, kamu kenapa? Sakit?” tanya Angel lembut. Oik emnggeleng lemah.
“Aku panggilin orang PMR ya?” tawar Angel lagi. Oik lagi-lagi emnggeleng. Rahmi juga pucat. Ha, semuanya pucat! Ada apa sih???

“Shil, shil!” panggil Angel, tergopoh-gopoh menyusul Angel.
“Ada apa?”
“Kok muka mereka pucet sih?? Liat deh! Hampir semua anak disini pucet!” keluha Angel so worry.
“Eh, iya juga. Adik asuh aku juga…! wah, wah, wah! GABRIELL!” shila juga ikutan Panik lalu memanggil Gabriel.

Ternyata, Gabriel dkk sudah mengetahui hal ini.
“Iya, gue tau! Kiki! Panggil Tim lo, lo kan PMR!” perintah Gabriel pada Kiki. Kiki bergegas menuju line telepon yang ada di ujung dining room.
“Halo? Ms. Jannet?? Iya nih miss! Butuh tim PMR segera!” kata Kiki panik.

1 menit kemudian, tim PMR datang, dan memeriksa anak-anak yang pucat. Dokter Melian, mengecek yang makanan yang mereka makan. Uh, ternyata masih ada sedikit racun yang mengendap. Intinya, ini acara keracunan masal!

Lagi-lagi, pihak sekolah meminta maaf pada yang bersangkutan. Ini diluar pengawasan sekolah. Tapi, dalam lubuk hati bu Ira, ada yang ingin menghancurkan sekolah ini. Ada yang sengaja membuat kekacauan. Tapi, siapa?

to be continued! mulai seru kata aku mah :))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s