part 13

Part 13 – Dia disini? Dimana?

Adzan subuh terdengar, murid-murid yang beragama islam langsung terbangun dan langsung menunaikan sholat subuh.

“Debo… bangun! Udah subuh tuh, sholat yook, Cakka juga, bangun heey” irsyad yang bangun pertama kali membangunkan Cakka dan Debo untuk sholat subuh. Akhirnya, Debo terbangun. Tapi, matanya masih terpejam. Entah kenapa, ia langsung ngeloyor ke kamar mandi sambil tidur, sleep walking kah?

“Woi woi woi! Bo! Yaelah, tuh anak asal ngeloyor aje! Mana sambil tidur… mantap gila” kata irsyad yang kaget melihat Debo sleep walking. Sekarang ia fokus membangunkan Cakka yang susah minta ampun! Dari awal, Cakka memang sulit dibangunkan. Mau ngadain konser di kamar pun belum cukup kuat untuk bangunin Cakka (lebay).

“Cakkaaaaa, please deh! Bangun! Entar telat!!” irsyad makin menjadi, dengan penuh keterpaksaan, irsyad nimpa Cakka. BRUK!

“Waaa! Ampun mbaaaak jangan bunuh sayaaaa!” tiba-tiba Cakka bangun gara-gara ditimpa irsyad. Irsyad bernapas lega.
“Bangun juga lo. Udah, sholat subuh jug!” kata irsyad, berusaha berdiri. Cakka mengucek-ngucek mata.
“Ha?? Ah, sholat ya? Ya udah yuk. Ambil wudhu dulu…” kata Cakka sedikit lemas, lalu mengajak irsyad ke kamar mandi.

—-

Irsyad menemukan Debo yang mentok di belokan mau ke kamar mandi. Masih dalam keadaan tidur. Dengan sigap, irsyad membangunkan Debo,
“Bo! Bangun hoy!” kata Irsyad, Cakka diam di belakang irsyad.
“Waaa… ha?? Kok gue disini??? Loh?? Loh???” debo bingung.
“Lo sleep walking” jawab Cakka dari belakang yang langsung ngerti apa sebab Debo disini. Irsyad memberi anggukan setuju.
“Sleee, slee apa??” tanya Debo belom konek.
“Sleep walking, debooo. It means, tidur sambil jalan” jelas Cakka sejelas-jelasnya. Debo manggut-manggut. Ia gak percaya sejak kapan dirinya bisa sleep walking. Aneh, gumam nya. Irsyad pun menarik debo dan Cakka untuk ke tujuan awal, mengambil air wudhu.

—-

Rahmi, agni, oik dan Gita sudah selesai menunaikan sholat subuh, plus mandi. Mereka juga udah siap menjalankan MOS ini dengan stamina full.

“Udah siap kalian?” tiba-tiba, kakak asuh mereka, kak Angel, masuk mengecek apakah adik-adiknya sudah siap.
“Udah kak! Ini juga uda mau keluar…” kata Oik sambil tersenyum.
“Oh, ya udah. Langsung ke dining room bawah ya, buat breakfast. Oke?” kata angel.
“Oke kak” jawab mereka ber-4 serempak.

Tradisi (alaaah) di ICA, makan pagi di dining room asrama. Ini juga demi meningkatkan keharmonisan para murid. Mereka biasanya disuguhi telur dan daging, lalu teh hangat. Kadang-kadang juga susu, keju dan roti.

Kali ini, tak ada masalah apa-apa. Semua berjalan lancar. Tetapi, masih ada 1 hal yang mengganjal di hati para murid. Ada apa sebenarnya sama sekolah ini? Kenapa Miss Ira begitu khawatir? Mengapa banyak security menjaga tiap kamar? Kenapa juga peraturan sekolah ini diperketat?

—-

“Ag, ke wc yuu. Aku kebelet ni…” bisik Oik pada Agni. Agni mengangguk. Ia sekalian cuci muka. Ia masih merasa sedikit mengantuk.
“Eh, kalian, entar ya. Gue sama Oik mau ke toilet dulu…” pamit agni kepada Rahmi dan Gita. Rahmi dan Gita mengangguk dan melanjutkan acara makan-makannya. Agni pun menarik Oik keluar dining room, dan menuju toilet.

Toilet di lantai bawah, alias lobby cukup mengerikan. Harus melewati lorong yang cukup gelap. Makanya, jarang sekali siswi disini menggunakan toilet lobby. Oik memegang tangan agni erat, jujur, ia takut dengan keadaannya. Lalu, Oik merasa ada yang mengikuti dirinya dan Agni.

“Ag, sumpah deh, ag… kayak ada yang ngikutin kitaa…” bisik oik pelan.
“Apaan sih kamu ik? Gak ada apa-apa! Kita Cuma berdua kok ik” tepis Agni. Ia juga sedikit takut, makanya ia membuang jauh-jauh perkataan Oik.
“Tapi bener ag! Aku ngerasanya gitu…” Oik masih yakin dengan apa yang ia rasa.
“Udah ik, itu kan Cuma perkiraan kamu aja! Nah, tuh, toiletnya” kata Agni masih menepis. Dan akhirnya, mereka sampai di toilet.

Toilet yang sepi. Hanya ada 3 washtafle dan 3 toilet. Agni menunggu di depan washtafle sambil membasuh mukanya. Oik sudah masuk dalam toilet paling ujung.

“Buruan ya ik… udah jam 7..” kata Agni kepada Oik yang ada di dalam toilet.
“Iyaaa” kata Oik lumayan keras.

Agni menatap cermin. ZAP! Tiba-tiba ia melihat orang memakai pakaian serba hitam. Agni kaget, ia mencoba tidak berteriak. Ia melihat kebelakang, tahunya gak ada siapa-siapa. Jantung Agni dag-dig-dug. Nafasnya tersenggal-senggal, keringat dingin keluar. Akhirnya, Oik keluar juga.

“Kenapa kamu ag?” tanya Oik heran.
“Ah, entar gue ceritain! Yang penting kita keluar dulu dari sini secepatnya!” Agni pun langsung menarik Oik keluar toilet. Mereka berlari. Agni melihat ke belakang lagi, ada orang itu lagi! Agni mempercepat larinya, melihat kebelakang lagi, hilang.

—-

“Kenyang…” kata Irsyad sambil memegangi perutnya.
“Sekarang lo yang kayak Patton…” canda Debo pada irsyad. Melihat Patton pada hari kemarin makan banyak sampe mau nambah porsi.
“Hahaha, bisa aja lo bo! Eh, kenapa tuh anak-anak kamar 20??” kata irsyad tiba-tiba melihat ke meja anak kamar 20.

Ternyata, Bastian menantang Obiet dan Abner buat minum Teh sebanyak – banyaknya. Yang menang, bisa ngegunain komputer kamar duluan (soalnya game online-nya lengkap. Udah di install semua…)

“MINUM MINUM MINUM!” kata Bastian dan Olin kompak. Meja-meja lain juga tampak seru melihat persaingan antara Obiet dan Abner.
Obiet dan Abner masih berusaha minum. Obiet udah menghabiskan 5 gelas. Sedangkan abner menghabiskan 6 ¼ gelas.

“Gue dukung obiet!” kata Cakka tiba-tiba yang tertarik melihat fenomena ini.
“Ah, gue abner!!!” kata Patton gak mau kalah.
Irsyad sama Debo hanya bengong, mereka sih gak dukung siapa-siapa. Menurut mereka, ini hal konyol yang sepantasnya gak dilakukan.

Obiet minum seteguk lagi, gelas ke 6. mereka berdua udah gak sanggup. Perut mereka sudah penuh…
“Nye… nyerah biet???” kata Abner terbata.
“Gggg… gak!” kata Obiet yang juga terbata.

Gara-gara ribut, tiba-tiba Sion datang,
“Eh, apa-apaan nih?!” pecah Sion. Ia kaget melihat kelakuan adik aduhnya. Lalu geleng-geleng kepala. Semua berhenti bersorak. Cakka dan Patton yang asyik ngeliatin memalingkan muka pura-pura gak tahu.
“Bubar bubar!” kata Dayat yang mengikuti Sion dari belakang. Semua bubar, ada yang melanjutkan makan, ada juga yang memutuskan ke sekolah.

—–

Agni dan Oik datang ngos-ngosan ke meja mereka. Rahmi dan Gita udah selesai makan, lalu heran melihat mereka datang dengan seperti itu.

“Kenapa sih kalian? Kayak habis liat hantu aja!” kata Gita.
“Emang!” kata Agni, Oik menoleh.
“Jadi itu ag, alasan kamu lari-lari…?” tanya Oik.
“I… iya! Aduh, sumpah…” Agni masih tersenggal-senggal.
“Sssst, udah, ntar kamu cerita di sekolah aja. Sekarang kamu tenang dulu aja ya ag… yuk, kesekolah…” kata Rahmi lembut. Mereka pun setuju.

Disekolah…

Agni menuruh teman-temannya duduk di bangku taman. Ia ingin bercerita tentang hal yang tadi. Lalu, Agni mulai memberi tahu semuanya.

“Tuh kan! Jangan-jangan itu orang yang ngikutin kita dari belakang tadi…!” respon Oik. Ia selalu mengikuti feelingnya.
“Bi… bisa aja deh ik… tapi…” Agni sedikit tak yakin. Tiba-tiba, Miss Reina lewat.
“Sayang, ada apa? Kok kayak lagi ketakutan banget?” tanya Miss Reina lembut.
“Agni liat hantu! Di toilet lobby!” kata Gita kencang.
“Hantu? Gimana maksud kamu?” tanya Miss Reina heran.
“Gini miss, jadi Agni ngeliat orang pake baju serba item di toilet… terus, tiba-tiba ilang! Kan itu aneh banget buu…” jelas Oik.
“Orang… baju… hitam-hitam ya… hm…” Miss Reina curiga, itu Je a Panther.
“Gak papa, mungkin Agni salah liat. Udah tuh, kalian kesana. Kayak nya Gabriel mau ngumumin sesuatu…” kata Miss Reina menutup-nutupi. Agni bernapas lega, mereka ber-4 pun menuju lapangan.

—-

Miss Reina bergegas menuju ruangan Miss Ira. Ia berniat memberi info ini pada Miss Ira. Mungkinkah itu Je a Panther? Sudah ada di sini kah?? Di asrama?? Dimana?

“Miss!” Miss reina membuka pintu ruangan Miss Ira tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
“Miss Reina, sudah saya bilang, ketuk dulu. Untung saya sedang minum teh. Ada apa? Sepertinya penting…” kata Miss Ira tenang.
“Miss, Je a Panther kemungkinan ada disini! Lebih tepatnya, di asrama putri!” kata Miss Reina penuh nafsu (hahaha).
“Apa? Bagaimana kejadiannya?” tanya Miss Ira mendekat pada Miss reina.

Miss reina pun menceritakan semua apa yang dilihat Agni di toilet. Miss Ira pun yakin itu Je a Panther. Je a Panther datang tiba-tiba, hilang tiba-tiba. It could be anywhere. Itulah Je a Panther.

“Panggil Mr. Joe dan Mr. Dave untuk memeriksa seluruh sekolah! Termasuk ruang bawah tanah…” perintah Miss Ira. Miss Reina pun mengerti dan langsung memberi tahu Mr. Joe dan Mr. Dave.

—-

“Sekarang pengenalan sekolah ya… kalian bakal dipandu sama Kakak asuh laskar kalian… oke, agar gak berdesakan, laskar 1 (Ryuusei) ke bagian lapangan-lapangan dan tempat latihan untuk eskul ya… laskar 2…” gabriel memutuskan untuk tour sekolah saja. Lalu, anak-anak mulai memencar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s