part 17

Part 17 – Missing

Agni dan Oik masuk kamar, disitu ada Rahmi dan Gita yang menunggu mereka. Mereka senyum-senyum melihat Agni dan Oik datang, seperti ingin mengetahui sesuatu.
“Kenapa kalian senyum-senyum??” tanya Oik sambil duduk di ranjangnya.
“Hayoo looo, tadi ngapain sama Debo, Irsyad sama Cakka! Hayyooo loooo” kata Gita menyelidik. Agni memanjat kasurnya, lalu melompat. Ia membaringkan tubuhnya,
“Want to know aja! Lagian, bukan hal yang penting kok… ya kan ik?” jawab Agni. Oik mengangguk sambil tersenyum.
“Ah, gue gak percaya! Pasti ada apa-apanya deh. Tapi gak dikasih tau. Deuh, udah main rahasia- rahasiaan nih…” ledek Rahmi. Oik membuka lemarinya, mengambil baju ganti.
“Gak ada apa-apa kok. Gak penting. Entar kalian juga tau, tapi gak sekarang. Ada yang mau ikut ganti baju??” Oik mengalihkan pembicaraan. Rahmi melihat ke baju yang ia pakai, masih seragam. Begitu pun agni dan Gita. Akhirnya, mereka ikut bareng Oik ke toilet.

—-

Debo, Irsyad dan Cakka memasuki kawasan asrama putra. Cakka masih menyembunyikan buku di balik Jas nya. Ia sedikit hati-hati, agar tidak ketahuan yang lain. Septian melihat mereka datang, langsung saja Septian menghampiri ke-3nya.

“hoy! Kemana aja kalian? Dicariin…” kata Septian, Cakka memperdalam letak buku.
“Enggh, tadi dari sekolah kak. Masih mau keliling2…” Kata Irsyad cari alasan.
“Wah?? Tadi tour nya belom puas?? Apa aku minta gabriel buat nambah tour nya ya?” tanya septian sambil mengelus-elus dagu.
“JANGAN KAK!” kata Debo dan Cakka. Jujur, mereka sedikit muak dengan tour sekolah. Dasar, irsyad cari alasan yang kerenan dikit napa??
“Loh, kenapa jangan? Gak papa lagi…”
“Eeh, tadi kita udah puas!” kata Cakka, sedikit melirik ke Irsyad. Irsyad hanya nyengir.
“Oh, ya udah. Sana ke kamar! Siap-siap buat makan malem. Dicariin obiet tuh” Septian menyuruh mereka ke kamar. Dan juga memberi tahu bahwa mereka dicariin obiet.

Mereka pun mengagguk, lalu mereka mulai menaiki tangga ke lantai 3. di tangga, mereka melihat obiet yang sedang berjalan sambil berangkulan dengan Patton.
“Obiet! Patton!” panggil Debo, lalu menghampiri mereka. Patton terlihat sakit, teman sekamarnya pun kahwatir,
“Patton? Patton kenapa biet??” tanya Icad khawatir. Alasannya konyol sih, obiet asalnya enggan memberi tahu alasan konyol ini.
“Ah, kalah main game sama kak Dayat. Bantuin dong! Patton berat juga ternyata!” jawab obiet sambil mengeluh. Patton shock dirinya kalah main game! Dalam sejarah hidupnya, tak ada kata ‘kalah’ dalam main game! Uh, rasanya sakit sekali. Patton hanya bisa terkulai lemas menerima kekalahan.
“HUAAAA, KALAH?! APA KATA DUNIA… hiks, hiks hiks…” Patton mengerang. Cakka ilfil melihat Patton. Lebay, pikirnya. Icad bun tanpa ba-bi-bu lagi membantu membopong Patton ke lantai 3. Debo juga ikutan ilfil.
“Ni anak sampe segitunya kalah doang…” bisik debo pada Cakka.
“Iya ya, iya!” respon Cakka, setuju.

—–

Sesampainya di kamar 16, Patton dibaringkan. Cakka dan Debo hanya geleng2. Obiet mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya. Sebatang coklat.
“Nih, coklat. Kata Om aku, coklat bisa bikin tenang” kata obiet sambil menyerahkan sebatang coklat itu pada Patton. Tanpa basa-basi, Patton langsung merebut coklat itu.
“HAHAHAHA,ini yang gue tunggu dari tadi! Thx biet.” Patton pun mebuka coklat itu, dan HAP! Ia melahapnya. Penuh napsu.
“Nah, ni anak kenapa lagi, kurang makan??” bisik Cakka pada Debo. Debo tertawa mendengar kata-kata Cakka. Irsyad dan Obiet bengong, ni anak beneran lemes GARA GARA KALAH atau Cuma ingin cari PERHATIAN terus dikasih COKLAT? Who knows, hanya Patton yang tahu.

Saat obiet keluar, Cakka mengeluarkan buku yang ia sembunyikan. Ia menaruhnya dengan cepat di bawah bantal. Hampir saja ketahuan Paton. Yah, entar Patton juga tahu. Pasti, ide mereka menemukan Je akan ketahuan guru juga. Semoga, mereka dapat mengalahkan Je. Setelah itu, Septian masuk untuk memperingatkan mereka lagi, bahwa akan ada makan malam di dining room asrama. Sayangnya, acara makan malam tak bersama anak – anak putri. Jika digabung, rencananya Debo, Irsyad dan cakka akan kembali membahas misinya besok dengan Agni dan Oik.

—-

Setelah makan malam, Cakka benging di balon kamar. Ia melihat langit malam tak berbintang. Cukup aneh, untuk apa dia keluar di bakon kamar, mana dingin (ya, dia pake jaket) dan menatap langit tak berbintang. Ia sih sedang memikirkan saat Oik memegang tangannya. Ada rasa yang berbeda. Jujur, Cakka gak pernah disentuh oleh perempuan, dan ia gak mau! Sejak kepergian ibunya, (bercerai dengan Ayahnya) ia jadi anti perempuan. Setiap ia melihat perempuan, rasanya ingin lari. Itu hanya mengingatkannya pada mamanya. Sakit. Tapi, entah kenapa, ia tak keberatan tangannya disentuh Oik. Dan juga, cakka merasa Oik dapat mengobati sakit hatinya. Hm, apakah benar bisa? Tidak tahu, ia pun bingung dengan perasaannya sendiri. Oik hanya teman, itu aja. Bukan siapa-siapa. Ugh, Cakka gak negrti ah!

Icad menghampiri Cakka, lalu menepuk pundaknya.
“Lo aneh deh, ngapain malem-malem ke balkon? Mikirin apa?” tanya Irsyad.
“Gue ngerasa aneh, pas tangan gue disentuh…” jawab Cakka gak sadar.
“Disentuh sama siapa dulu?? Kalo sama kebo ya, gue jijik lah” jawab Icad asal.
“Bukan… anehnya, gue gak marah”
“Yeee, disentuh siapa dulu??” tanya Irsyad.
“Eng, gak penting!” kata Cakka, lalu menunduk. ‘ialngin cakka, ilangin!’ batin Cakka dalam hati.
“Ah, lo aneh ah!” Icad pun meninggalkan Cakka diluar. Cakka gak peduli. Ia pun jadi teringat Je a Panther. Buru-buru ia masuk, mungkin aja dia ada disisni! Cakka pun menutup pntu balkon, dan menguncinya. Cakka juga mengecek satu-satu jendela, apakah sudah terkunci rapat. Untungnya, Patton sudah tertidur pulas. Jadi ia tak curiga. Cakka jarang mengecek satu-satu kamar jendela. Debo pun mengerti apa yang dilakukan Cakka, begitu pun Irsyad.

—-

Gak hanya Cakka yang seperti itu. Oik pun berjaga-jaga. Malah, ia menyarankan pada Gita dan Rahmi kalau ke toilet jagan sendirian. Apalagi tengah malam. Dan 1 hal yang perlu diingat! Jangan masuk ke toilet lobby! Soalnya, Je pernah muncul disitu. Mungkin, sekarang pun Je sedang disitu.

Agni mengecek semuanya, apakah sudah aman. Yap! Aman. Mereka pun bersiap untuk tidur. Sebelum itu, Oik berbisik pada Agni.
“Ag, aku takut niiih…” kata Oik lirih.
“Gue juga. Tapi, ik, keep open your eyes! He could be anywhere…” kata Agni sok jago.
“Ha?? Berarti gak tidur dong???” tanya Oik polos.
“Yee, bukan! Kalo lo kemana-mana, buka mata lo! Jangan ampe bengong! Oke??” kata Agni. Oik mengangguk. Lalu, mereka melanjutkan tidur.

—-

Angel tak bisa tidur. Ia melihat temantemannya. Sudah tidur pulas. Apalagi Irva, yang tadi sempat mengambil 3 slice pizza di dapur. Uh, hasrat ingin buang air kecil pun keluar. Angel kebelet. Ia pun sepakat membangunkan Shila, yang tidur diatasnya.

Angel pun memakai jaketnya, dan sendal tidurnya. Ia bangkit, lalu melihat ke atas. Sepertinya, shila belum tidur. Tampak shila sedang menyelimuti tubuhnya sampai kepala, tapi, Angel melihat ada yang meyala dari bawah selimutnya. Dengan gak tau malu, Angel membuka selimut shila. Dan Oh, shila sedang membaca buku sabil diterangi senter.

“lo belum tidur shil??” tanya Angel.
“Hehe, belom. Habis, gue penasaran sama isi buku ini! Kata Riko seru…” jawab shila sambil menutup buku yang ia baca. Angel menghela napas.
“Haduhh… Rikoooooooooo mulu. Kalian tuh deket banget ya?? Anyway, temenin gue ke toilet yuuuk…” Ajak Angel.
“Jam segini??? Jam 23.04 tau!” jawab Shila sedikit protes.
“Udah gak tahan niiii, ayyoooo…” Angel memaksa. Shila menghembuskan nafas.
“Oke laaah” Akhirnya, Shila setuju. Shila pun turun ke bawah, lalu mengambil jaket pink nya yang ia gantungkan dilemari. Ia pun membawa novel yang ia baca. Yah, itung-itung bisa baca sambil nungguin Angel di toilet.

Di toilet, Shila merinding. Perasaannya gak enak. Untungnya, mereka gak masuk toielt lobby. Tapi, tetep aja, Shila ngerasa gak enak. Apalagi, saat melihat toilet paling ujung yang sedang dipake entah sama siapa.

“Ngel, gue tunggu sini ya…” kata Shila pada Angel. Ia memilih nunggu Angel di dpan kamar mandi aja. Gak masuk ke dalmnya. Shila merasakan hal yang aneh. Angel kok lama banget ya??? Dari tadi juga gak kedengaran suara apa-apa.

“Ngel??” panggil Shila. Suara Shila menggema. Shila melihat kanan-kiri.
“Ngel?? Angel??” Panggil Shila lagi. Tak ada jawaban. Shila sedikit takut. Kamar mandi ujung pun udah gak kedengeran lagi ada orang. Tapi, pintunya masih tertutup rapat. Karena gak ada jawaban, shila pun memberanikan diri MEMBUKA PINTU TOILET yang dipakai Angel. Anehnya, GAK DIKUNCI! Dan apa yang shila liat, ANGEL GAK ADA! Jelas, shila langsung teriak histeris.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!” teriakkan Shila sangat keras, hingga terdengar sampai Lobby. Miss Reina, yang kebetulan sedang patroli malam, mendengar teriakkan Shila. Ia pun bergegas menuju lantai tiga, dan mendapati Shila yang sedang terduduk di lantai toilet, sambil menangis. Ia pun membiarkan bukunya tergeletak dibawah. Kenapa angel hilang??? Angel kemana???? Pikir shila saat ini.

bersambung!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s