part 23

season 2! enjoy…

Part 23 – Normal. Mulai belajar (semester awal)

Saat celebrate dinner, ada acara pembagian kelas juga. Nah, jadi mereka udah punya kelas masing-masing. Juga udah dibagiin jadwal belajarnya.
Oik, Gita, Rahmi, cakka dan Debo sekelas. Sayang ya, mereka pisah sama Icad dan Agni. Tapi, Agni sama Icad sekelas, di kelas 7-B (tadi, mereka itu 7-A).

“Ada pelajaran bahasa prancis??!” Mata Debo terbelalak saat melihat jadwal hari Rabu, ada pelajaran bahasa Prancis di jam pertama.
“Kok kaget gitu bo? Biasa aja kali” komen Patton.
“Ya enggak, aku kan belom tau apa-apa tentang bahasa prancis…” kata Debo sambil berbaring di kasurnya.
“Ya kan belajar! Tenang aja Bo, aku juga belom terlalu tau bahasa Prancis. Tau nya jepang…” jawab cakka sambil mebuka-buka buku barunya. “sayangnyaa, disini gak ada pelajaran bahasa jepang ya…” lanjut Cakka.
“Mending kalian! Aku Cuma tau bahasa inggris! Kalo Patton kan Bisa bahasa turki, Debo bisa bahasa Arab (wkwkwkwk), Cakka bisa bahasa Jepang, aku?? Gak ada satupun!!” Icad akhirnya ikutan, mana pake urat lagi!
“Udah ah! Ntar juga tau bahasa yang lain! Nih, disini juga ada pelajran bahasa spanyol, inggris… sama coversation nya…” debo kembali membuka jadwalnya. Semua Cuma manggut-manggut.

—-

“Kapan latian band lagi iel? Udah lama gak latian…” kata riko saat sedang mengantar Gabriel ke bank siswa.
“Entar aja Rik! Gue gak ada waktu. Tunggu gue lengser jadi ketos yah! Sekarang kan gue sibuk bina OSIS… ya, lo tau sendiri kan?” Gabriel menjawab pertanyaan Riko. Riko Cuma menghembuskan napas panjang.
“Ya udah… tapi, entar pas festival kita jadi manggung kan?” tanya Riko lagi.
“pastinyaa!!” jawab Gabriel sambil mengacungkan jempol.

Bruuk!! Sivia gak sengaja nabrak gabriel. Semua buku yang dia bawa terjatuh. Sivia sih, lari-lari dikoridor, mana bawa buku segitu banyak.
“Eh, maaf vi…” kata Gabriel langsung membantu Sivia membereskan buku-bukunya. Sivia diam. Dia termasuk tipe cewek pemalu, pendiam, dan gak deket sama cowok.
“Ehm, gak.. papa. Harus nya aku yang minta maaf… maaf…” kata Sivia pelan. Mukanya memerah.
“Ih, gak papa lagi vi!” gabreil memberikan buku terakhir pada sivia. Sivia bangkit,
“Mmmh, duluan…” sivia pun melengos pergi. Riko hanya menonton dari tadi.
“Iel, iel, mau sampe kapan lo gitu terus sama sivia?? Tiap ketemu, malu2, canggung- canggungan! Gak risih apa lo?” Riko menepuk2 pundak Gabriel. Gabriel menatap Sivia yang berlalu.
“Gak tau rik. Tunggu nyamep dia sadar aja kali ya… hahaha… udah ah! Gak penting!! Lanjut ah…” gabriel pun memutuskan untuk emlanjutkan ke tujuan awal. Riko hanya menurut.

—-

Sivia berhenti dibelokan, melihat gabriel pergi. Ia menunduk lesu. Lalu melanjutkan melihat gabriel sampai benar-benar pergi.
“Via?” sapa seseorang dibelakangnya.
“Ah, emm… shila?” sivia sedikit kaget.
“Ngapain kamu disini?? Gak ada apa-apa disitu tuh, kok diliatin terus?” shila melihat ke arah pandangan sivia tadi. Hufft, itu artinya, gabriel udah gak keliatan lagi.
“Huuuft… gak papa. Udah yuk, ke kelas! Bentar lagi jam 8” ajak sivia. Shila mengangguk. Memang disini PBM dilakukan jam 8, sampai jam setengah 4. yah, berbeda sama sekolah-sekolah yang lain yang biasanya memulai PBM jam 7, bahkan jam 6.45.

—–

“Aduuuuh, Oik buruan dong!! Kita udah telat tau!” Gita menarik – narik Oik yang lagi pake sepatu talinya. Jam delapan lewat 1 menit. Mereka udah telat. Oik kelamaan nali sepatu sih.
“I… iya! Sabar!” Oik pun mempercepat gerakan menali sepatunya.
“Gak ada waktu!” Gita menarik lagi, hingga Oik gak sempat menali sepatu yang satunya lagi.
“Auuh!” Oik hanya mengikuti tarikan Gita yang cukup kuat itu.

Fan benar adanya, mereka telat. Ms. Okky, wali kelas mereka sudah masuk. Gita dan Oik tertahan di depan pintu. Belum berani menampakkan diri.
“tuh kan! Telat! Gimana dong ik??” Gita panik.
“mmm… ya apa boleh buat? Kita masuk aja…” Oik pun menarik Gita, masuk ke kelas.

Oik pun membuka perlahan pintu masuk kelas. KRIEEET… Miss Okky yang sedang menjelaskan tata tertib kelas langsung berhenti dan melihat ke arah Oik dan Gita. Begitu pun murid yang lain.
“Pe… permisi miss… we sorry we late” kata Oik malu-malu.
“Kenapa kalian telat? Liat udah jam berapa ini?! Sehabis ini, kalian menemui saya ya! Nah, silahkan duduk sekarang!” Miss Okky sedikit emosi juga. Maklum, sekolah ini sangat disiplin. Telat masuk kelas aja bisa kena hukuman (yah, tergantung gurunya juga sih).

Oik dan Gita pun duduk di bangku mereka. Dibelakang Rahmi dan Ourel. Bangku mereka udah di booking.
“Psst… kenapa kalian telat?” rahmi berbisik hingga nyaris gak kedengeran.
“Oik lama make sepatu” jawab Gita. Oik Cuma nyengir.

“Ibu lanjutkan ya, gak boleh main bola dikelas, merusak atribut kelas, naik-naik meja guru, menghina guru, menyontek saat belajar..”
(fade out)

—-

“Buat kelas 8, bakal ada Try Out ya lusa… jadi siap-siap aja! Ini Cuma untuk mengetes kemampuan kalian aja. Pelajarannya hanya yang di-UN kan saja. Oh iya, ini kan Pake LJK, dan di scan, jadi jangan lupa ya bawa pensil 2B, dan penghapus yang bersih.” Umum zahra di depan kelas.
“Jiaaaah!! Scanner!!! Gak akurat!! Masak waktu kelas 7, nilai matik aku 30?! Padahal pas diperiksa manual nilai aku 78.5!!! kan jauh banget tuh!!” septian protes, betapa biadab nya scanner sekolah.
“Septian, berarti elo nge-buletinnya gak bener!!” kata zahra, beserta tawa yang keluar dari mulut anak – anak.
“Ah!! Terserah deh!! Pokoknya aku tetep gak suka TUH SCANNER!” septian masih aja kesel sama scanner. Ia nggap scanner adalah rival abadinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s