FF One Shoot

Halo -_- saya baru apdet lagi! hoho. saya mau post FF nih haha. FF ini sebenernya buat tugas b. indo *suruhbuat cerpen* nah dan hasilnya gini! hhe. kayaknya ceritanya biasa aja.

Gak ada judul, soalnya gak tau judulnya mau apa! hhe 🙂

Cast: Lee Taemin, Kim Jonghyun, Kim Key Bum & Choi Minho (SHINee)

Genre: Thriller (ini FF thriller pertama gue-_-jadi jelek deh)

Disclaimer: I dont own SHINee. SHINee belongs to SMEnt.! but the plot is mine!! :p hhe

“Ya! Taemin!” aku mendengar seseorang memanggilku. Suara yang sangat aku kenal. Kim Jonghyun. Aku menoleh padanya, dengan tatapan bingung. Ia datang dengan kedua temannya, Choi Minho dan Kim Kibum. Jonghyun berdiri tepat di depanku, dengan tatapan membunuh. Apa salahku kali ini?

“Taemin. Bisa ikut kami?” Tanya Jonghyun. Tumben cara bicara sedikit santai kali ini. Dan bodohnya, aku menerima permintaan mereka. Aku dibawa ke gudang di belakang sekolah. Sekolah sudah sepi, hanya tinggal kami ber-4. Aku sudah punya firasat buruk.

BUGH! Satu pukulan mendarat di perutku. Sakit. Keluar cairan kental dengan bau yang menyengat dari sudut bibirku. Aku berdarah. Karena pukulan Jonghyun sangat keras, dan terasa amat sakit di perutku, aku terduduk di bawah.

“Dasar tidak tahu malu, kau Taemin!” bentak Jonghyun. Aku mendongak, menatap wajahnya.

“Ap… apa salahku?” tanyaku terbata, karena menahan sakit.

“Apa salahmu? Apa salahmu?! Yak! Kau benar-benar menyebalkan!” Jonghyun menendang pelan kakiku. Aku kembali meringis. Kali ini Choi Minho yang berbicara.

“Ya! Kami sudah berjanji tidak menganggumu selama sehari asalkan kau memberikan kunci jawaban kepada kami saat ujian! Tapi kau malah tidak memberikannya pada kami! Padahal kami sudah tidak menganggumu selama sehari!” bentak Minho dengan suara beratnya, lebih mengerikan daripada Jonghyun.

Aku tidak menjawab. Saat aku di suruh minta maaf pun, aku tidak mengucapkan maaf. Memangnya aku bodoh? Tidak semudah itu aku memberikan jawaban pada mereka. Aku sudah belajar mati-matian. Hingga akhirnya, aku dipukuli habis-habisan.

Aku, Taemin memang suka disiksa oleh mereka. Selalu. Hampir setiap hari. Dan mereka sudah pernah sekali mematahkan pergelangan tanganku. Tapi mereka mengancamku agar aku tidak memberitahu kejadian itu pada siapapun. Jadi saat orang tuaku menanyakan kenapa aku bisa mematahkan pergelangan tanganku, aku hanya menjawab terjatuh di jalan. Dasar Taemin bodoh, ya?

Jujur, aku sudah lelah hidup seperti ini. Aku adalah laki-laki yang pendiam, lemah, dan tidak pintar bergaul. Hanya satu kelebihanku, otakku. Aku termasuk orang yang pintar di sekolah. Bukannya aku sombong, tapi memang begitu kenyataannya.

Setiap hari, aku berpikir. Bagaimana agar mereka tidak pernah menggangguku lagi. Apa aku perlu membalasnya?

“Tidak, Taemin. Kau tidak perlu membalasnya” kata malaikat di sebelah kananku.

“Hey, Taemin! Kau lelah kan diperlakukan seperti itu oleh mereka? Apa kau tidak marah? Dimana harga dirimu? Ayolah, balas mereka” kata iblis di sebelah kiriku. Sial, Taemin, kau mulai berhayal lagi. Aku menghembuskan napas. Aku setuju dengan perkataan sang Iblis. Bukankah itu bagus? Membalas mereka. Atau lebih tepatnya, balas dendam. Hm, oke, apa yang bisa kau lakukan pada mereka, Taemin?

#

Semalaman aku memikirkan bagaimana membalas dendam dengan mereka semua. Dan tepat pada jam 12 malam, aku mengambil satu jalan. Membunuh. Aku akan membunuh mereka semua. Mengerikan memang, tapi satu-satunya jalan agar mereka tidak menggangguku lagi adalah, membunuh mereka. Aku tersenyum puas. Besok. Ya, besok aku akan membunuh mereka semua.

Aku berangkat sekolah dengan perasaan senang, dan berdebar. Tentu saja, aku akan membunuh manusia untuk pertama kalinya. Aku sudah sediakan peralatan yang sekiranya bisa kugunakan untuk membunuh.

Seperti biasa, dikelas sangat ribut. Dan yang paling ribut tentu saja Jonghyun, Minho dan Kibum. Dan saat mereka melihat ku yang masuk dengan senyum terkembang, mereka langsung meledekku.

“Heh Taemin, kenapa kau tersenyum seperti itu? Itu membuatku mual” kata Kibum, yang langsung di sambut oleh gelak tawa dari Jonghyun dan Minho. Aku tidak menanggapinya. Tertawalah sepuas kalian, karena ini adalah hari terakhir kalian hidup.

Bel pulang sudah berbunyi. Dan betapa beruntungnya aku. Jonghyun, Minho dan Kibum sedang di panggil oleh guru karena tugas mereka yang belum lengkap. Ini memudahkanku untuk menjalankan rencana awalku.

Aku menunggu mereka keluar dari ruang guru. Tidak lama aku menunggu, aku melihat mereka bertiga keluar bersamaan dari ruang guru.

“Hey, Jonghyun, Minho, aku toilet sebentar, ya” kata Kibum sambil bergegas meninggalkan mereka. Bagus.

“Kibum! Kami tunggu di depan kelas, ya” teriak Jonghyun. Kibum mengangguk cepat dan melesat ke toilet. Aku mengikutinya.

Aku memasuki toilet. Sepi, tidak ada siapa-siapa. Terdengar suara siulan dari mulut Kibum. Setelah 3 menit berlalu, Kibum keluar dari toilet. Saat ia keluar, BUKH! Aku memukul keras tengkuk lehernya hingga ia tidak sadarkan diri. Aku memukulnya dengan balok kayu. Ia terjatuh. Aku tersenyum puas dan menyeretnya ke dalam gudang.

#

“Cih, mana Kibum itu? Lama sekali!” keluh Jonghyun sambil melihat jam tangannya.

“Aku susul, ya. Bagaimana?” tawar Minho. Jonghyun berpikir sebentar, dan mengiyakan tawaran Minho. Minho bergegas menyusul Kibum ke toilet.

Setelah aku menyeret Kibum kedalam gudang, aku kembali menuju toilet. Aku kembali tersenyum. Minho ada disana. Sepertinya ia mencari Kibum. Di waktu yang tepat, aku melakukan hal yang sama dengan apa yang aku lakukan pada Kibum. Dan Minho pun terjatuh tak sadarkan diri. Aku juga menyeretnya ke dalam gudang. Tinggal 1 orang lagi. Kim Jonghyun.

Aku melangkah ke tempat Jonghyun menunggu teman-temannya. Tentu saja dengan balok kayu yang aku gunakan untuk memukul Kibum dan Minho. Tanpa sepengetahuan Jonghyun, aku memukul kepala Jonghyun. Kepala. Hingga kepalanya mengeluarkan darah. Aku menyeringai, dan menyeretnya ke gudang. Rencana pertama, selesai.

Jonghyun, Kibum dan Minho. Mereka tampak tak berdaya sekali saat ini. Apalagi saat aku mengikat mereka di kursi bekas yang ada di gudang itu. Hm, aku sudah siap untuk membunuh mereka.

“Ergh…” aku melihat Jonghyun menggerakkan kepalanya perlahan. Nampaknya ia kaget apa yang terjadi dengannya sekarang. Ia mengerang kesakitan karena kepalanya yang berdarah. Cih, itu tidak seberapa dengan penderitaanku selama ini!

“Kau sudah sadar, ternyata” kataku sambil berjalan menghadapnya. Ia mengerjapkan matanya, dan menatapku tak percaya. “Selamat datang di Neraka” lanjutku tersenyum.

“Taemin?! Kenapa aku bisa terikat?! Kenapa kepalaku berdarah?! YAK, Taemin!! Jelaskan padaku!” erang Jonghyun. Tangannya berusaha melepaskan ikatan. Percuma.

“Tentu saja aku yang melakukan ini semua. Bagaimana, kau senang?” aku terkikik. Wajah Jonghyun mendadak pucat.

“Taemin… aku tak percaya kau…” katanya tak sanggup berkata lagi. Aku mengangguk, angguk.

“Ya, ya, ya… aku memang terlihat lemah ya?”. Aku mengeluarkan sesuatu dari sakuku. Sebuah pisau. Aku melangkah ke depan Kibum yang masih tak sadarkan diri. Jonghyun makin pucat, dan menatapku ngeri.

“Apa yang akan kau lakukan dengan Kibum?!” tanyanya panik. Aku tak mempedulikannya, dan meraih tangan Kibum. Aku menempelkan ujung pisau itu di pergelangan tangannya. Tepat di urat nadinya. Mata Jonghyun membulat,

“Kau mau membunuhnya?!”

“Ya, tebakanmu tepat” aku mengangguk. Aku mendengar Jonghyun berteriak-teriak agar aku tidak membunuh Kibum. Cih, dia cerewet sekali! Dengan cepat, aku menggurat tangan Kibum hingga cairan merah keluar perlahan dari tangannya. Aku mengguratnya semakin cepat, dan semakin dalam. Darah merah mengalir ke tanganku, aku tidak peduli. Sepertinya ini kurang kejam. Aku mengecek apakah Kibum masih hidup apa tidak. Oh, sudah mati rupanya. Aku tersenyum senang. Jonghyun berteriak. Cih, dia mengeluarkan air mata. Ternyata dia cengeng juga.

“Kenapa kau lakukan itu, Taemin?” Tanya Jonghyun sambil terisak. Aku melepas pisau yang asalnya menancap di tangan Kibum. Aku mendekati Jonghyun, dengan darah yang menetes – netes dari pisau.

“Kenapa aku melakukannya?” Jonghyun mengangguk. Aku menatap Minho, yang juga belum sadar. “Akan aku jelaskan setelah aku membereskan Minho” kataku dan mulai menikam perut Minho. Darah Minho muncrat kemana-mana. Ke wajahku, lantai, dan pipi Jonghyun. Jonghyun kembali menangis. Aku menikam lagi, dan lagi perut Minho sampai perutnya sudah tidak berbentuk lagi. Banjir darah. Dan aku semakin bernafsu untuk membunuh.

“Kim Jonghyun” aku memanggil nama sasaran terakhirku. Ia menatapku takut-takut. “Kau mau tahu alasannya kan? Aku balas dendam” jawabku jujur.

“Balas dendam?”

“Tentu saja! Aku balas dendam pada kalian! Apa kalian tidak tahu perasaanku tiap kalian memukulku, menendangku dan meledekku? HAH? APA KALIAN MERASAKANNYA?! TIDAK! karena kalian bukanlah orang lemah, aku akui itu. Aku orang lemah. Dunia memang tidak adil, ya? Orang lemah memang selalu kalah dengan orang yang lebih kuat. Tapi, sekarang ini, aku lebih kuat dari kalian. Aku bisa membunuh Kibum dan Minho. Dan sekarang, giliranmu, Kim Jonghyun…” aku menggerakkan pisau yang aku pegang menuju leher Jonghyun. Jonghyun meringis.

“Apa kata terakhirmu, Jonghyun?” tanyaku sebelum benar-benar membunuhnya. Ia menelan ludah,

“Ja.. jangan bunuh aku! Kumohon, Taemin! Tolong, jangan bunuh aku! Aku berjanji tidak akan pernah menganggumu lagi. Tolonglah, aku janji…” Jonghyun mulai terisak lagi. Aku menggeleng cepat,

“Apa saat aku disiksa oleh kalian aku diberi kesempatan untuk tidak disiksa? TIDAK! Kalian suka tidak mau tahu dan terus menyiksaku!” bentakku pada Jonghyun.

“Tap… AHHH!!” tanpa ba-bi-bu, aku menggoreskan pisauku di leher Jonghyun. Jonghyun berteriak keras. Tentu saja ini akan terasa sangat sakit, Jonghyun merasakannya dengan keadaan sadar. Ia berteriak kesakitan saat aku juga menikam punggungnya berkali-kali. Darah kembali mencuat dimana-mana. Gudang ini sudah dipenuhi dengan darah, dan bau yang sangat menyengat. Tapi aku menyukainya. Jonghyun mati. Mereka semua mati. Tidak terkecuali. Tugasku selesai. Aku bebas. Tidak akan adalagi yang mengangguku, untuk selamanya. Aku membiarkan pisauku itu menancap di punggung Jonghyun. Aku tertawa terbahak-bahak. Akhirnya, aku bisa membunuh mereka dengan tanganku sendiri.

#

“Hyaaa!” aku terbangun dari tidurku. Keluar keringat dingin dari kepalaku. Mimpi apa aku tadi? Membunuh Jonghyun, Kibum dan Minho?! Ya tuhan, mengerikan sekali! Syukurlah itu hanya mimpi! Aku mengacak rambutku pelan. Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu ya? Memang, awalnya aku pernah terbersit untuk membunuh mereka. Tapi aku mengurungkannya. Membunuh itu dilarang oleh agama. Dan jika aku membunuh mereka, berarti aku tidak ada bedanya dengan mereka kan? Aku tidak mau kejam seperti mereka. Aku tidak mau disamakan oleh mereka. Kekerasan tidak dibalas dengan kekerasan, itu yang pernah Ibuku katakan saat aku masih TK.

“Aku berangkat sekolah~” aku pamit pada Ibuku dan pergi dengan riang ke sekolah. Tunggu. Ini hampir sama dengan mimpiku itu.

Seperti biasa, dikelas sangat ribut. Dan yang paling ribut tentu saja Jonghyun, Minho dan Kibum. Dan saat mereka melihat ku yang masuk dengan senyum terkembang, mereka langsung meledekku.

“Heh Taemin, kenapa kau tersenyum seperti itu? Itu membuatku mual” kata Kibum, yang langsung di sambut oleh gelak tawa dari Jonghyun dan Minho. Aku terdiam sebentar. Ini sama dengan mimpiku semalam! Aku menoleh ke arah mereka bertiga,

“Kalian… berusahalah untuk tidak meledek orang orang, termasuk aku. Bagaimana jika kalian mati hari ini dan tidak sempat bertobat?” kataku. Ini pertama kalinya aku melawan mereka.

“Cih, cerewet sekali sih! Sudah sana duduk di tempatmu! Membuat kami kesal saja” Minho mengomel. Aku mengedikkan bahu dan duduk di bangkuku. Aku sedikit lega akhirnya aku bisa melawan mereka, yah, walaupun tidak sama sekali berpengaruh pada mareka. Aku juga lega, aku tidak membunuh mereka. Yah, jika aku tidak sabar menghadapi mereka mungkin aku akan membunuh mereka sekarang juga. Tapi tidak. Aku tidak akan membunuh mereka atau siapapun. Aku berjanji, sekejam apapun orang itu padaku, aku tidak akan membalas mereka dengan kekerasan.

FIN!


HAHAHAHA geje abis! maaf ya gue masih amatiran kalo tentang ff ber-genre kayak gini! cast nya shinee pula.

curhat: GUE lagi PATAH HATI gara-gara namja yang bernama KIM JONGHYUN. pada tau kan dia skrg kan UDAH punya pacar -___________- shin se kyung terkutuk kau! #emosi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s