{FF} [12 Love Stories Relay] – Ep. 01 – A Cup of Greentea Latte

 A Cup of Green Tea Latte

Cast: Xiumin (EXO) | Lee Aerin (OC)

G/R: Romance/Teen

Length: Oneshot

A/N: Waaaaa first story dari project dadakan 12 Relay Love Story! Enjoy 😀 (ini pertama kalinya aku buat FF tokoh utama umin :3)

Disclaimer: I DONT OWN EXO. STORY IS PURE MINE. NO PLAGIARISM!

 

 

Super bad day! Aerin menghentakkan kakinya setiap ia melangkah. Wajahnya kusut, begitu juga rambutnya. Bagaimana tidak sebal? Tulisannya ditolak lagi. Padahal, ini sudah ia revisi hampir 5 kali. Naskah novel berhalaman 304 itu untuk ke 10 kalinya di tolak. Apa yang salah dari tulisanku?! Umma dan teman-temanku semuanya bilang bagus!

Saking kesalnya, Aerin malah tidak memperhatikan jalan.

Bruk!

Aerin jatuh di tengah jalan. Beberapa orang hanya memperhatikannya, beberapa orang mendekat untuk membantunya. Tapi karena kesal, Aerin malah berteriak pada mereka, “I’m okay! Please, aku bisa bangun sendiri!”

Dewi fortuna sedang membenciku, batin Aerin sambil mencoba berdiri. Saat sukses berdiri, tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan. Aerin mengutuk dirinya sendiri, Aaaakh!

Grep. Aerin membuka matanya. Kenapa…aku tidak jatuh? Pikirnya. Ia melihat seorang pria dengan apron hijau memegang tangan beserta melingkarkan tangannya di pinggangnya.

“Whoops, hati-hati, nona.”

Wajah Aerin memerah, “Le…lepaskan! aku bisa sendiri, sungguh!”

Pria itu tetap menahan Aerin yang berusaha melepaskan dekapannya dari pria itu.

“Wait, hold still nona!”

“No!” semua orang melihat, pria bodoh! batin Aerin.

Perlahan, pria itu melepas kitten heel milik Aerin. Aerin membuka matanya.

“Hey—sepatuku!”

“Lihat, sol sepatumu lepas. Makanya kau terjatuh.”

Apa?! S…solnya lepas?!! Padahal sepatu itu baru aku beli kemarin! Sialan, aku ditipu SPG itu!!! Aku… aku…

Dengan satu tarikan napas, Aerin menangis. Menangis seperti bayi. Aerin menangisi dirinya sendiri.

“Huweeee!!”

Pria itu kaget, begitu juga para pejalan kaki yang lewat. Semua orang kini memperhatikan mereka berdua. Aerin sudah tidak peduli lagi. Kini, pria itu panik karena tatapan orang mengatakan bahwa wanita itu menangis karenanya.

“Y—ya, kenapa menagis? Ssssh, semua orang memperhatikanmu…”

“Tidak peduli! Aku tidak peduli! Huwweeeeee!”

Beberapa orang yang lewat mulai berbisik. Dikiranya, sedang ada pertengkaran sepasang kekasih. Pria itu pun menyerah. Ia membawa sebelah sepatu Aerin, lalu membawa wanita itu masuk ke dalam cafe di sampingnya. Cafe tempat ia bekerja.

Cafe tempat pria itu cukup sepi, karena biasanya ramai di malam hari. Aerin duduk di salah satu meja, masih dengan wajah sembab dan napas yang sesenggukan.

“Hey, sudah, ya… sudah. Kau menangis karena sepatu ini? Aku bisa membenarkannya untukmu.”

Mendengar itu, isakkan Aerin mereda, “Be…benarkah?”

“Mm! Temanku punya toko sepatu, dan hal seperti ini bisa ia perbaiki. Sudah, ya?”

Aerin mengangguk patuh. Pria itu menghembuskan napas, lalu tersenyum kecil. “Hey, tunggu disini, ya.”

Aerin menatap punggung pria itu bingung. Setelah menuggu sekitar 5 menit, pria itu datang dengan nampan. Diatasnya ada satu cangkir kopi yang mengepul.

“Green Tea latte, one of my favorite. Paling laku juga di cafe ini.”

Trak. Pria itu mendorong cangkir ke hadapan Aerin. Aerin mengerjap,

“Ini… buatku?”

“Mm! Kau terlihat sangat down, jadi kuberikan itu. Aroma Green Tea membuat pikiran menjadi tenang. Cobalah, enak lho.”

Aerin meraih cangkir berisi cairan hijau itu. Sekali isap, Aerin langsung jatuh cinta dengan minuman itu. Pria itu benar… pikiranku langsung tenang… eh, siapa sih pria ini? Na—namanya… Kim… Minseok…

Pria itu sadar melihat mata wanita itu yang sedang mencoba membaca name-tagnya.

“Ah, nama ya? Sorry, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Kim Minseok. Kau?”

“Lee Aerin… s—salam kenal…”

Terjadilah percakapan mereka. Atas permintaan Minseok, Aerin mengeluarkan semua permasalahannya. Dari naskah yang ditolak berkali-kali sampai-sampai sepatu yang baru berumur satu hari itu. Dengan tenang, Minseok mendengarkan keluhan gadis itu.

“…bahkan aku belum sempat menyisir rambutku di pagi hari. Mengoles bedak dan lipgloss pun tidak sempat karena mereka menyuruhku cepat-cepat! Tahunya ditolak juga. Dasar penerbit sialan.”

Minseok menahan tawanya, yang membuat Aerin bingung.

“H—hey! Kenapa tertawa?”

“Haha, maaf, maaf. Tapi menurutku kau cukup cantik kok hari ini. Lalu, tentang ditolak penerbit… itu hal biasa. Itu baru langkah awal jadi orang yang sukses, lho.” dimulailah cerita Minseok tentang penolakan pekerjaan barista hampir 20 cafe di Seoul. Akhirnya, Minseok mendapatkan pekerjaan barista di cafe ini. Ia juga bercerita tentang Einstein juga orang-orang hebat lainnya yang sukses, mereka dimulai dengan kegagalan. Entah kenapa, kata-kata Minseok begitu menghipnotis Aerin. Perlahan lahan, kesedihannya pun berkurang.

“…Jadi, tidak ada yang perlu dirisaukan. Semangat, Lee Aerin!”

Aerin tersenyum manis. Ya ampun, wanita ini cantik sekali saat tersenyum, batin Minseok.

“T—terima kasih, Minseok-sshi. Aku… benar-benar payah, ya? Baiklah! Aku akan berusaha lebih kuat lagi!”

Setelah pertemuan mereka itu, Aerin jadi sering datang ke cafe itu. Memesan Green Tea latte kesukaannya, mengerjakan naskahnya, dan yang terpenting… bisa melihat Minseok. Minseok senang wanita itu datang setiap hari.

Suatu hari, wanita itu datang dengan langkah tergesa-gesa dan wajah yang sulit di tebak. Minseok yang sedang melayani salah satu pelanggan, kaget akan kehadiran Aerin.

“Minseok-sshi, minseok-sshi, minseok-sshi!”

“Oh? Lee Aerin! Ada apa? Apa sesuatu terjadi?”

“Mm! Oh my god, Minseok-sshi aku tidak bisa bernapas!”

Minseok mengajak gadis itu untuk duduk dan menarik napasnya, “Tenang, tenang… ayo, ceritakan padaku apa yang terjadi?”

Aerin mengulas senyumnya, “Aku berhasil, Kim Minseok-sshi! Naskahku diterima!!”

Wajah Minseok tampak terkejut, “Woah!! Benarkah?!”

“Ya!! Ya ampun, aku tidak tahu harus bagaimana yang jelas aku senang sekali!”

Hup. Minseok pun memeluk Aerin yang melompat-lompat senang, “Chukkae, Lee Aerin.”

Aerin membalas pelukan Minseok, “Ini berkat Kim Minseok-sshi. Terima kasih.”

Minseok melepas pelukannya, “Aku? Ah, aku tidak melakukan apa-apa…”

Aerin hanya tersenyum, mengingat percakapan antara dirinya dan editor tadi pagi.

 

“Wuah, Lee Aerin! Naskah barumu, ‘A Cup of Green Tea Latte’ ini lebih baik dari naskahmu yang sebelumnya! Aku suka ceritanya. Kau menggambarkan seorang wanita yang sedang jatuh cinta dengan sangat indah. Sweet dan mengalir…”

“Benarkah itu? Hahaha, terima kasih…”

“Apa… kau sedang jatuh cinta?”

“Mm… sepertinya…”

“Apa ia seorang barista sama seperti cerita ini?”

“Ya. Dia inspirasiku, editor-nim.”

“Joha, joha. Selamat, Lee Aerin! Mulai hari ini aku akan jadi editormu. Mungkin ini akan terbit dalam beberapa bulan.”

Aerin memekik senang. Ia pun pamit dan berlari menuju cafe. Cafe dimana sosok inspirasinya berada.

 

“Kau melakukan banyak, Minseok-sshi. Terima kasih, lagi.”

“Terima kasih untuk apa lagi?”

“Terima kasih untuk menjadi inspirasiku.”

 

***FIN***

Gimana? aneh kah? Penasaran siapa namja berikutnya? huahahah! Tunggu episode 2 nya yaaa 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s