{FF} [12 Love Stories Relay] – Ep. 03 – Seoul Tour

STOUR COVER

Seoul Tour 

Cast: Kris | Yoon Bomi (Apink)

G/R: Romance, fluff | Teen

Length: One Shot

Disclaimer: DONT OWN ANYTHING. STORY AND COVER IS MINE. NO PLAGIARISM!

A/N: Hello~ sorry for long update -_- hehe pikiran lagi terbagi dua nih ama UAS dan lomba *doakan aku kawan, aku akan ikut lomba menulis novel ><* maaf juga dengan judulnya yang sounds cheap hahaha I’m bad at title. So, kali ini bang Kris yang muncul. Crack pair, pula. Dua kata buat galaxy hyung satu ini: Miss you.

Kris melihat jam tangan Rolex-nya, lalu mendesah. 3 jam lagi baru mendarat di Seoul, batinnya. Kini, pria dengan tinggi 185 cm ini sedang ada di dalam pesawat Korean Air dari Kanada menuju Korea. Sebenarnya, Kris tidak mau ke Seoul. Tapi, karena ini perintah ayahnya kemarin malam, Wu Fan! Cepat terbang ke Seoul, karena mulai hari ini pusat perusahaan ayah akan pindah ke Seoul. Sebagai pewaris tunggal, kau harus tahu apapun tentang Korea. Itu agak menganggunya, memang. Siapa yang mau jadi pewaris tunggal? Batinnya kesal.

Kris membuka pesan yang dikirimkan salah satu temannya di Seoul. Katanya: Hey, dimana kau akan tinggal, Kris? Kris beripikir sebentar, lalu merogoh sakunya. Disana, ia mengeluarkan sebuah sobekan kertas dengan tulisan acak dari ayahnya.

Jika sudah sampai bandara, temui wanita bernama Yoon Bomi.

Kris pun mengeluh, Yoon Bomi, ya…

 

“What, mum?” Bomi hampir saja menjatuhkan beberapa gantung baju yang ia pegang. Yang dipanggil ‘Mum’ oleh Bomi masih fokus pada pekerjaannya, memisahkan baju yang kira-kira sudah out of season di butiknya ini.

“Iya, sayang. Kau ingat tidak Kris, teman sepermainanmu waktu masih di Vancouver?”

Bomi terhenti, “Ngg… ah! Tiang Listrik!”

Ibu Bomi menyemburkan tawa, “Ahaha! Ya, kau memanggilnya Tiang Listrik karena ia sangat tinggi.”

Bomi mendekati ibunya, “Jadi, Mom, dia mau ke Korea? Hari ini?”

“Mm. Dan ia akan tinggal di rumah kita untuk sementara.”

Bomi terkejut, “HUH?!”

Ibu Bomi memberikan lagi beberapa gantung baju pada Bomi, “Kenapa terkejut begitu? Lho, waktu kita di Vancouver juga kita menginap di rumah Kris, kan?”

“Bu… bukan begitu, Mum! Ya ampun, kita kan masih kecil… sekarang kita sudah dewasa…”

Kini ibu Bomi menyerahkan piece baju terakhir pada Bomi, “Dia belum punya tempat tinggal, sayangku. Nah, setelah ini kau jemput dia di Incheon, ya?”

“EH?!”

 

Bomi tidak percaya kini ia berada di Incheon Airport, sendirian. Terakhir ia di Airport ini… ya saat ia kembali dari Vancouver. Bomi menatap jamnya. 10 menit lagi, batinnya. Ia pun berdiri di depan pagar pembatas tepat di depan pintu otomatis arrival. Tangannya memegang erat buku gambar dengan tulisan besar, KRIS (크리스) dengan tulisan acak-acakkan.

Masalahnya, Bomi tidak begitu ingat wajah Kris. Yang bisa Bomi andalkan adalah, pasti dia lebih tinggi dari orang-orang Korea kebanyakan. Setelah lewat 10 menit, dari arah pintu arrival pun mulai keluar banyak orang. Dari bule sampai orang Korea sendiri. Dengan semangat, Bomi mengangkat banner-nya, semoga ia bisa membacanya!

Kris sendiri menenteng tas hitamnya sambil berjalan pelan. Saat sudah keluar pintu arrival, matanya terperantuk pada banner bertuliskan namanya. Kris menepuk kepalanya, ya ampun, Yoon Bomi itu…

Dengan cepat Kris menghampiri gadis itu dan menurunkan bannernya.

“Tidak usah pake banner seperti itu bisa, kan?”

Bomi mundur selangkah, “U—ugh, Kau… Kris! Kris, kan?!”

“Iya. Dan kau… Yoon Bomi.”

Gadis itu tersenyum, “Ah, kau tahu aku. Masih ingat aku, ya?”

“Sepertinya. Aku ingat badanmu yang kecil itu. Tidak berubah.”

Bomi cemberut, “Hey! Aku termasuk normal, tahu. Kau sendiri, tinggimu itu tidak normal.”

Kris memutar matanya, “Hah, terserah. Aku capek, kau tahu berapa jam dari Kanada ke sini? Dimana kau parkirkan mobilmu?”

“Mo…bil?”

 

Bomi rasanya ingin mati saja. Makhluk tinggi di sebelahnya ini kini menunjukkan wajah kesal yang bercampur dengan wajah kelelahan. Bomi memang tidak bisa menyetir, makanya ia menggunakan transportasi umum. Bomi yakin, sebenarnya Kris bukan tidak mau naik kendaraan umum, tapi dengan kendaraan pribadi akan lebih cepat sampai rumah.

“Ma…maaf ya, Kris-sshi. Aku bukan tuan rumah yang baik.”

Kris menghela napas, “Hhh. Kuajarkan kau naik mobil lain kali.”

Mendengar hal itu, pipi Bomi memerah. “Be…benarkah?”

“Hn.”

 

Dari Incheon menuju Seoul tidak memakan waktu cukup lama, tapi cukup melelahkan bagi Kris. Untungnya, Mama Bomi sudah sedia dengan mobilnya di tempat pemberhentian Seoul Metro.

“Uwaa~ Kris kau sudah tinggi sekali, ya?”

Kris tersenyum, menanggapi ibu Bomi dengan sangat manis dan sopan. Bomi hanya melipat tangannya dari belakang, Cih, dia tersenyum! Selama denganku dia seperti orang yang membenciku… apa? Baik-baik saja katanya? Dia bilang padaku tadi kalau dia lelah! What? ‘Bomi mengurusku dengan sangat baik’? Mulutnya benar-benar manis, ya.

“Hey, Bomi-ya! Mau sampai kapan berdiri disitu?” tanya sang Mama. Bomi tersadar,

“Eh? Tunggu aku~!”

 

Rumah Bomi termasuk rumah minimalis, tapi tetap nyaman. Bomi punya seorang kakak yang kini sudah pindah ke apartement-nya sendiri karena pekerjaannya. Kamar kakaknya-lah yang kini Kris tempati.

Kini, Bomi berada di tengah perbincangan seru antara Mama, Papa dan Kris yang Bomi tidak mengerti. Dari bisnis, sampai hal-hal di Vancouver. Bomi iri, mengapa ia tidak banyak tahu tentang Vancouver, padahal ia tinggal disana cukup lama—2 tahun.

“Nah, Bomi… karena Kris akan lama di Seoul, besok kalian bisa jalan-jalan mengitari Seoul!” Papa Bomi mengatakannya dengan semangat. Bomi yang sedang menyuapi dirinya sendiri dengan nasi membulatkan matanya,

“Eh? Tur?”

“Iya, Kris pasti ingin tahu tentang Seoul, kan?”

Kris tersenyum, “Ya, eomoni.”

“Bomi pasti mau menemani Kris selama di Korea, kan?” kini tiga pasang mata menatapnya.

“Mm—Ti—Eh, iya, mau!” Bomi merubah jawabannya karena Kris menendang kakinya cukup keras. Mama dan papa wajahnya tampak senang sekali. Bomi mendelik pada Kris yang kini dengan senyum palsunya.

 

Sebelum Kris meraih gagang pintu kamarnya, Bomi meraihnya lebih dulu.

“Stop right there, mister!” kata Bomi, tubuhnya menghalangi pintu. Kris melipat tangannya,

“Apa lagi?”

“Memangnya aku mau mengantarmu tur besok? Kenapa kau melakukan hal itu, hah?”

“Karena aku membutuhkannya. Lagipula, kau kan tuan rumah. Aku seorang tamu. Bukankah tamu itu seorang raja? Jadi, minggir. Raja mau lewat.” Tangan panjang Kris mendorong pelan bahu Bomi. Yang di dorong hanya diam, kata-kata Kris ada benarnya juga.

Blam! Pintu di tutup dan membentur bagian belakang kepala Bomi.

“Y—YA!!”

 

Pagi hari. Bomi merasakan sesuatu mengganggu tidurnya. Sesuatu menggelitiknya…

“Uh… hajima~ hajima~” kata Bomi terdengar sangat manis. Kris memutar matanya, wanita ini mimpi apa sih, dasar.

“Hey tukang tidur, bangun!”

Mata Bomi kini terbuka saat mendengar suara yang sangat keras di telinganya. Saat matanya terbuka, ia melihat sepasang mata cokelat nan bening milik… milik… Oh My god!

“KRIS!!!” pekik Bomi saat menyadari wajah Kris yang begitu dekat dengannya.

Kris menyentil kening Bomi, “Bangun, anak ayam.”

Bomi mengerjap, “A—Apa katamu? Hey! Anak ayam apanya! Hey! Tunggu!”

 

Bomi menyantap sarapannya dengan cemberut. Ujung rambutnya masih basah karena baru saja selesai mandi. Di sebrangnya, Kris dengan mulut manisnya memuji masakan Mama Bomi yang membuat Mama Bomi tersipu-sipu.

“Masakan buatan Bomi juga enak, lho! ya kan, Bomi-ya?”

Bomi menghentikan kunyahan rotinya, “Eung?”

Kris menatap Bomi, “Benarkah?”

“Iya! Kris mau kan memakan masakan Bomi lain kali?”

“Ah, tentu saja. Dengan senang hati aku akan memakannya.”

Bomi begidik melihat Kris tersenyum seperti itu. Walaupun ia terlihat tampan sih…

 

Tur mengelilingi Seoul pun dimulai! Bomi membawa banyak perbekalan di ranselnya seperti plester sampai semprotan merica (yang mendapat omelan dari Kris) sedangkan Kris tidak membawa apa-apa.

Perjalanan mereka pun dimulai dari Gwanghwamun Plaza. Itulah yang Bomi tahu kemana pertama harus mengajak turis jika ingin jalan-jalan sekitaran Seoul.

“Wuah! Kris, lihat! Itu patung Great King Sejong!” kata Bomi senang.

“Kau ini seperti baru pertama kali kesini.”

Bomi menoleh, “Heheh. Memang benar! Aku tidak sempat ke tempat seperti ini. Tapi aku tahu sejarahnya, kok! Kau tahu tidak, King Sejong ini adalah yang menciptakan hangul, lho!” Kris pun hanya mendengar celotehan Bomi (yang ia contek dari Naver tadi pagi, Kris tahu) dan menyerahkan ponselnya pada Bomi.

“Eh, kenapa?”

“Foto aku.”

“EH?!”

Bomi tidak percaya makhluk dingin satu ini ternyata punya tingkat kenarsisan yang cukup tinggi. Sering sekali Kris minta difoto di semua tempat. Di Hanok Village, Cheonggyecheon, beberapa museum Nasional, Namsan Tower, dan kini mereka ada di pinggir Han River.

Hari sudah cukup sore, pemandangan di Han River sangat indah.

“Indah…” gumam Kris. Bomi mendengarnya,

“Indah, ya? Memang. Salah satu tempat favoritku di Seoul.”

Kris menoleh, “Aku juga.”

Mereka pun saling melempar senyum. Karena lelah, mereka pun duduk di tangganya sambil melihat matahari yang mulai turun.

“Apa kau ingat?” ucap Kris yang membuat Bomi menoleh, “Kita juga pernah seperti ini di Vancouver.”

Bomi mencoba mengingat, “Ah! Benar! Di sungai apa itu… aku tidak ingat.”

Kris terkekeh, “Aku ingat, wajahmu sembap karena dijahili anak-anak sana karena kau seorang asia. Dasar cengeng.”

Bomi memerah, “H—hei! Namanya juga masih kecil… tapi… Kris datang melindungiku. Ingat?”

“Mm. Walaupun akhirnya aku dapat luka lebam di pelipis.”

Bomi terkekeh, “Iya, kau juga hampir menangis kan! Aku ingat, tahu!”

“Kau ingat setelahnya kau melakukan apa?”

Bomi memringkan kepalanya, “Apa?”

Kris mendekatkan wajahnya ke wajah Bomi, “Ini.” Kris menyentuh pipinya, “Kau menciumku di pipi.”

Bomi kini benar-benar merasa panas, pasti wajahnya sangat merah! “K—kau ini!”

Setelahnya, Kris malah terbahak-bahak. Ia berhasil membuat wanita itu malu. Bomi cemberut, “Ugh! Aku cari minum dulu! Tunggu disini!”

 

Kris duduk santai melihat matahari yang mulai tenggelam. Tapi… sampai langit sudah gelap pun Bomi tidak kunjung kembali. Kris menatap jamnya, beli minuman bisa sampai setengah jam? Entahlah, Kris mencium sesuatu yang tidak beres. Dengan langkah cepat, ia mencari Bomi. Anehnya, di booth minuman Bomi tidak terlihat.

Kris pun berlari sepanjang Han river mencari Bomi. Hingga matanya menangkap suatu pemandangan yang membuatnya marah. Lagi-lagi wanita itu terjebak diantara laki-laki bejat yang mengganggunya. Dengan cepat, Kris mendatangi mereka dan menonjok mereka keras.

“Kris!”

“Y-YA!” teriak orang yang ditonjok.

“Apa yang kau lakukan padanya, huh?!”

“Siapa kau hah, pacarnya?!”

“Geurae! Aku pacarnya! Ada masalah?!”

Bomi menahan napas saat mendengar perkataan Kris. Para pria-pria nakal yang mengganggu Bomi pun langsung lari terbirit-birit. Salah satu dari mereka mengumpat, sialan dia sudah punya pacar!

Bomi langsung menghampiri Kris yang kini memegangi tangannya.

“Kris, kau tidak apa-apa!?”

Kris mengaduh, “Uh, aku sudah lama tidak menonjok orang… dan tadi… sakit sekali.”

Bomi menahan tawanya, “Kau ini!”

Pletak, Kris menjitak pelan kepala Bomi. “Y—ya!” pekik wanita itu.

“Kau ini sama sekali tidak berubah, ya! Jika ada pria-pria brengsek seperti itu kau tendang saja *****-nya!”

Bomi memerah, “Y—ya! Mana bisa aku melakukan itu!”

Kris merangkul Bomi, “Hah, ya sudahlah. Lain kali hati-hati ya.”

Bomi hanya menahan napas. Selama perjalanan, Kris tidak melepaskan rangkulannya dari tubuh Bomi. Gadis itu terenyum, jadi Kris ini mau melindungiku, ya? Ihihi so sweet.

“Kenapa terenyum-senyum seperti itu?”

“Eh? Ha—habisnya… Kris merangkulku terus sih…”

“Lho, kita kan pacaran?”

Bomi terkejut, “EH?!”

“Hahaha, bercanda.”

“Ish! Menyebalkan!”

Kris kini melepaskan rangkulannya dan menatap Bomi, “Memangnya kalau jadi pacarku… kau mau?”

Blush. Bomi diam dengan wajah merahnya. Kris menahan senyumnya, “Cepat jawab atau nanti menyesal, lho…”

Bomi pun mengapit tangan Kris, “Ah! Kau sudah tahu jawabannya, kan?”

Kris terlihat bingung, “Eh? Apa jawabannya? Aku tidak tahu!”

Bomi berjinjit, lalu mengecup lembut pipi Kris, “Ini jawabanku.”

Kris masih terlihat bingung, wajahnya memerah, “Apa…apaan itu! Harusnya disini, kan?!” Kris menunjuk bibirnya sendiri. Bomi terkekeh,

“Lain kali!”

“Ya! Yoon Bomi! Aku ingin sekarang!”

“Lain kali, ah!”

“Bomi-ya~~! Tunggu!”

Kris berlari kecil menyusul Bomi, lalu menggenggam tangannya. Bomi tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya ke lengan Kris dengan sayang. Kris juga begitu. Ia tidak akan melepaskan genggamannya sampai mereka sampai rumah.

 

***FIN***

 

Fluffy gimana gitu yaaah, hahaha. Love it. Next? Tunggu episode selanjutnya 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s