[Flashfic] EXO Overdose Album Fanfiction!

[3rd project] Overdose album Fanfiction

Track List:

01 중독(Overdose)

02 월광 (Moonlight)

03 Thunder

04 Run

05 Love, Love, Love

Cast: EXO’s Vocal Line

Disclaimer: Dont own EXO. Story pure mine. No plagiarism.

A/N: TADAAA~ Ini dia project ke-3 gue wkwkwk~ like I told you, this is a flashfic! Gak ada plotnya. Oh ya, di tiap tracknya itu ceritnya gak sesuai dengan lirik, ya (mungkin ada sebagian). So please, I know it’s very weird hahaha hope you like it!!^^

 

Track 1: Overdose  

Love is an addiction, I can tell. Itu memang benar adanya. Itu sebabnya kini aku ada di rumah sakit, di ruang rawat nomor 1201 lebih tepatnya. Di depanku terbaring seseorang dengan wajah pucat, mata yang tertutup, dan tangan yang disambung oleh selang infus.

Ia adalah kakakku, Luhan. Sudah satu minggu ini ia dirawat di rumah sakit karena depresi. Bagaimana tidak? Ia baru saja kehilangan wanita paling dicintainya. Ya, kalian bisa tahu, kan. Ia bersama laki-laki lain. Ia mencapakkan kakakku. Jadilah begini, kakakku terbaring lemah di rumah sakit.

Aku sangat sedih sekali dengan keadaan kakakku. Setiap malam, ia akan mengigau nama wanita itu. Keringat dingin selalu keluar, bahkan yang paling parah, ia akan beteriak-teriak.

“Jihye…”

Aku mendengar suara kakak yang parau itu. Seketika aku meraih tangannya yang lemah itu,

“Ya, oppa?”

“Sa…sakit…”

“Iya, oppa… sebentar, aku panggilkan suster—“

“No, Jihye. Please… I need her… I need her… please…” katanya lemah. Matanya memelas menatapku. Bagaimana bisa aku tidak menangis? Ia mengencangkan genggamannya padaku,

“Jihye, can you hear me? Bring her! Please… please…”

Aku hanya bisa menangis melihat kakakku yang begitu depresi ditinggal oleh wanita itu. Dan dimulai lagi, kakakku mulai berteriak-teriak. Aku hanya bisa menangis makin keras, saat tim dokter mulai masuk dan dokter menyuntikkan obat penenang kepada kakakku.

*

Kakak sudah mulai tenang sekarang, dan aku memutuskan untuk keluar. Kejadian yang menimpa kakakku memberiku banyak pelajaran. Semua itu benar, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Kakakku jatuh terlalu dalam pada wanita itu. Too much of her love, begitu kata kakakku.

Cinta wanita itu sudah bagai candu bagai kakakku. Dan kali ini, kakakku menderita overdosis. Overdosis akan cinta wanita itu.

 

Track 2: Moonlight

Aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Ya, gadis itu. Aku sudah jatuh cinta padanya saat pertama kali bertemu. Aku menyukai semua hal yang ada padanya. Rambutnya yang hitam pekat, kulitnya yang pucat, dan mata yang lebar dan membuatmu terus ingin menatapnya.

Pernah sekali aku mencoba muncul, berharap ia masih ingat padaku. Tapi, ia hanya menatapku dan menanyakan lagi namaku. Ia tidak ingat. Sedih rasanya.

Ia adalah juniorku di kampus. Pertemuan kami pertama kali cukup klasik, aku tidak sengaja menabraknya dan menjatuhkan buku-bukunya. Anehnya, detik itu juga aku jatuh cinta padanya.

Sudah banyak cara aku menunjukkan rasa cintaku padanya. Aku selalu menyelipkan potongan-potongan kata-kata indah pada secari kertas dan menyelipkannya di buku-buku tebalnya.

2 minggu sekali, aku mengiriminya bunga mawar, dengan inisial namaku: D.K.S. Aku juga kadang sering muncul di depannya, menyapanya, menanyakan apa harinya baik. Sudah kulakukan hampir satu tahun ini. Dan… sepertinya ia juga responnya baik.

Hari ini, tepat awal bulan Desember ini aku akan menyatakan cinta padanya. Aku sudah siap dengan satu tangkai bunga mawar.

Tapi langkahku terhenti. Kau sedang bersama teman-temanmu. Kau dirangkul oleh seorang pria, dan kalian tampak bahagia sekali. Keberanianku mulai surut saat aku melihat pria itu mulai menciummu dipipi. Dan lihatlah, kau sangat bahagia!

Saat itu aku tahu kau begitu dekat tapi juga begitu jauh. Itu seperti bulan, kau terlihat tapi tidak bisa kujangkau. Senyummu seperti sinar bulan, terang benderang tapi aku sadar senyuman itu bukan hanya untukku.

Jika aku punya satu permintaan, aku akan memintamu untuk menatapku, jangan alihkan wajahmu pada pria lain. Hanya aku. Tolong hentikan rasa cintamu pada pria itu, hanya aku. Cukup hanya aku.

Tapi aku sadar, itu semua hanya mimpi. Seperti bulan yang tidak akan pernah bisa kuraih.

 

Track 3: Thunder

Punya seseorang yang bisa kau cintai sepenuhi hati dan ia mencintaimu balik adalah hal yang paling membahagiakan di dunia ini. Begitulah menurut Jongdae. Tapi tidak setelah ia hari itu. Hari dimana wanita yang Jongdae cintai mengatakan bahwa ia tidak mencintainya lagi.

“Let’s breakup, Jongdae-ya.”

Dua kata yang membuat Jongdae seperti disambar petir.

“W—wait, breakup?”

“Yeah.”

“Ke…kenapa?”

“Semua orang berubah, Jongdae-ya. Dan…cintaku padamu tidak seperti dulu lagi.”

“T—tunggu—“

“Goodbye Jongdae…”

Jongdae membuka matanya. Keringat mulai mengucur dari pelipisnya. Napasnya tidak beraturan. Jongdae memegangi kepalanya. Lagi-lagi mimpi buruk, batinnya. Kejadian yang sudah berhari-hari lamanya itu selalu teringat, bahkan masuk ke dalam mimpinya.

Jongdae seperti kehilangan semuanya. Selera makan, senyuman, tawa… semuanya. Ia selalu dihantui oleh bayang-bayang wanita itu. Ia belum bisa melupakannya, dan ia tidak berusaha untuk itu.

Sekeras apapun Jongdae berusaha, wanita itu tidak akan pernah kembali ke pelukannya. Entah kenapa, setiap ia melihat gadis itu disuatu tempat, ia selalu terlambat untuk meraihnya lagi.

Wanita itu seperti kilat, dan Jongdae adalah gunturnya. Guntur selalu datang setelah kilat, kan? Sampai mati pun, Jongdae tidak akan pernah menggapai gadis itu lagi. Dunia seakan tidak membolehkan mereka bersama.

Kini, Jongdae lagi-lagi terlambat. Wanita itu bersama pria lain. Jongdae menyumpah, membenci dirinya sendiri. Sampai kapanpun, ia tidak bisa meraih kilat itu. Oh, I want to grab you!

 

Track 4: Run

Di dunia ini, tidak lepas dengan kesedihan. Tapi entah kenapa, hari ini kesedihanku begitu mendalam. Orang tua yang bertengkar, teman yang tiba-tiba menjauhimu, bagaimana bisa kalau tidak menangis?

Tapi ditengah kesedihan itu, pasti ada saja yang membuatmu tersenyum lagi. Disaat itulah dia datang. Ia datang dengan sapu tangan putihnya, mengelap air mataku pelan. Tangannya yang lembut menggenggam tanganku,

“Ayo kita pergi.” Katanya.

“Ke…kemana?” masih dalam isakku.

“Kemanapun sesukamu. Tapi, ke tempat dimana yang tidak bisa menganggumu.” Katanya dengan senyuman paling lembut sedunia.

“Tapi tidak ada tempat seperti itu.” Kataku. Ia terkekeh,

“Aku tahu tempat seperti itu. Ayo. Genggam tanganku.”

Awalnya sempat ragu, karena dia bukanlah orang yang dekat denganku. Dia, Kim Junmyeon hanya seorang ketua kelas yang dingin yang hanya peduli dengan dirinya sendiri. Aku tidak tahu bahwa ia punya sisi angelic seperti ini. Melihat keraguan dimataku, ia berkata lagi,

“Jangan takut, ada aku disini. Ayo.”

Entah kenapa, kata-katanya begitu menghipnotisku. Tanpa ragu, aku menggenggam tangannya yang hangat, lalu kami pun mulai berlari. Berlari menuju tempat dimana hanya ada kita berdua, dan tidak akan ada yang mengganggu kami lagi.

 

Track 5: Love, Love, Love

Ia tidak tahu sejak kapan ini dimulai, yang jelas yang ia tahu ia mulai jatuh cinta dengan gadis itu. Entah sejak kapan ia, Byun Baekhyun, selalu menatap wajahnya. Tersenyum jika ia tersenyum, tertawa jika ia tertawa, dan yang ajaibnya saat gadis itu menangis, ia juga bisa merasakan sakitnya.

Cinta. Cinta itu perasaan yang ajaib. Gadis itu bisa membuat nafsu makan Baekhyun hilang jika gadis itu tidak ada di dekatnya. Perasaan yang begitu dahsyat, yang membuat Baekhyun menginginkan gadis itu jadi miliknya, terus berada disisinya.

Jika di dekatnya, ia merasa tenang. Ia merasa waktu akan berhenti, dan ia berharap akan berhenti selamanya. Ia tidak bisa hidup tanpanya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika gadis itu tidak ada.

Apakah gadis itu tahu bahwa perasaan ini adalah cinta? Apakah gadis itu tahu, setiap tatapan Baekhyun padanya itu adalah tatapan bukan pada seorang teman? Ya, percayalah padaku, bahwa perasaan itu adalah perasaan cinta.

Kini Baekhyun berada di depan gadis itu, mencoba meyakinkannya.

“Look at me. Perasaanku padamu adalah perasaan cinta. Tolong, tatap aku dan tetaplah bersamaku. Tanpamu, aku bukan apa-apa. Tidak ada yang bisa aku harapkan. Will you stay with me?”

Tidak peduli gadis itu mau percaya atau tidak, tapi yang jelas perasaan ini tidak hilang. Tidak akan hilang.

 

***END***

 YEHET… bentar banget kan ya wkwkwk total cerita kalau digabungin cuma sekitar 1200 word lah .___. hehehe gue tidak memberitahu secara langsung siapa tokohnya tapi kalian bisa nebak sendiri lah yaaaa kekekek

By the way, pusing banget pas bagian Thunder sama Love, Love, Love. Hahaha-_- maaf kalau aneh ya *bow*

Are you ready for the next project? 😉

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s