[FF] 다시… 사랑합니다 (Love Again) – Chapter 01

Sebelumnya: Prologue

CHAPTER 01


Terlambat. Ia benar-benar terlambat. Jam sudah menunjukkan jam 7 lewat 15 menit, dan 15 menit lagi ia harus sudah sampai di kantornya. Suho benar-benar bablas. Semalaman ia mengerjakan pekerjaan kantornya, dan sekarang ia malah terlambat. Dengan waktu 10 menit, Suho mandi seadanya, memakai kemeja, celana dan jasnya, mengambil tas kerjanya—tanpa membereskan kamar, cukuran dan sarapan. Saat tangannya menyentuh gagang pintu keluar, ia ingat satu hal.

Astaga, Chaerin!

Buru-buru ia membuka kamar Chaerin. Gadis kecil itu masih terlelap dalam tidurnya. Dengan cepat, ia mengambil tas pink milik Chaerin, memasukkan beberapa baju, mainan dan jaket ke dalam situ, mengangkat Chaerin dari tempat tidurnya, dan buru-buru keluar dari apartement mereka.

Karena sudah benar-benar terlambat, ia memacu mobilnya dengan sangat cepat. Syukurlah lalu lintas Seoul kali ini cukup lancar. Ia membelokkan mobilnya ke arah distrik apartement, parkir seadanya, mengangkat Chaerin dan buru-buru naik ke lantai 12.

Ia memencet bel beberapa kali, panik. Ayolah, buka cepat cepat cepat, Kai-ah! Batin Suho dan akhirnya trak! Pintu dibuka. Disana berdiri seorang pemuda awal 23 dengan wajah mengantuk. Ia menggosok matanya,

“O—oh? Su—suho hyung?”

“Cepat buka matamu, babo, dan gendong Chaerin!” Seru Suho tidak sabar, membuat Kai, pemuda itu membuka lebar pintu apartementnya, menggendong Chaerin,

“H—hey! Hyung!”

“Aku sudah terlambat, demi tuhan, Kai! Ini! Ini ransel Chaerin! Ia belum sarapan dan mandi! Jaga yang benar, eo? Aku pergi dulu!”

Kai ditinggal dengan wajah bingung oleh kakak kelasnya itu. Setelah Suho pergi, Kai kini merasakan tubuh Chaerin yang bergerak. Anak itu sudah bangun.

“Oh… sudah bangun? Good morning, Chaerin-ah!” Kai tersenyum. Chaerin mengerjap,

“Kai umma… Dad mana?”

Kai menurunkan Chaerin, “Sudah bekerja. Ia terlambat. Aish, ayahmu memang sering terlambat…”

Chaerin menggosok matanya, “Ng… begitu, ya… Kai umma, aku lapar…”

Kai tersenyum, “Kebetulan sekali! Sekarang Sehun sedang membuat pancake, kesukaanmu!”

Chaerin melompat senang, “Yay! Ayo masuk, Kai umma!” Tangan mungil Chaerin menarik ujung kaos biru Kai yang ia pakai. Kai pun mengambil tas pink milik Chaerin, dan menutup pintu.

Memang sudah dua tahun ini, Suho menjadikan Kai dan Sehun—dua adik kelasnya yang kini sedang kuliah semester akhir menjadi tempat penitipan Chaerin. Semenjak istrinya meninggal, di rumah benar-benar Cuma ada Suho dan Chaerin. Suho orang yang sangat sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Chaerin belum waktunya sekolah. Jadi, Suho mengandalkan dua mahasiswa yang mengganggur ini untuk menjaga Chaerin.

Itu tidak masalah bagi Kai dan Sehun, selama Suho memberi mereka uang saku. Chaerin membuat apartement mereka sedikit lebih terisi. Lagi pula, Sehun benar-benar suka dengan kehadiran Chaerin, mengingatkannya pada adiknya yang ia tinggalkan di kampung halamannya.

“Omaigat! Chaerin-ah!” Sehun berseru dari balik kompornya, ia sedang membuat pancake. Chaerin tersenyum dan memeluk kaki Sehun,

“Sehun umma! Satu pancake untukku!” pintanya.

“Tenang saja, Chaerin-ah! Satu pancake spesial~!”

“Yay!”

“Chaerin-ah, duduk disini, jangan dekat-dekat kompor!” Kai mengangkat tubuh mungil Chaerin dan menaruhnya di atas sofa kecil di depan TV. Kai menyalakan TV, dan tayangan Pororo menghiasi layar TV.

“Waaa it’s Pororo!” kata Kai yang membuat Chaerin tertawa.

“Kai umma lucu! Hahaha~”

Kebiasaan Chaerin adalah memanggil Kai dan Sehun dengan embel-embel Umma. Sebenarnya, Chaerin menyebut Kai dan Sehun dengan Spare mom 1 dan Spare mom 2, tapi karena kepanjangan cukup Umma saja. Kai dan Sehun pun hanya membiarkan, walaupun agak miris mendengarnya. Ia pasti ingin ibunya di sampingnya… pikir Sehun saat itu. Tapi bagaimana lagi? Chaerin memang butuh kasih sayang… makanya Kai dan Sehun dengan ikhlas menjalankan tugas baby-sitting ini.

Suho sendiri adalah busy-dad-type. Dia bekerja di sebuah perusahaan bernama Daehan Group. Kau tahu, ia membuat alat-alat rumah tangga seperti TV, kulkas, kompor listrik, blender dan semacamnya. Untuk tahun ini, Suho sibuk karena perusahaan mereka akan menambah produk ponsel—dan ini membutuhkan waktu yang cukup lama.

Kini Suho benar-benar panik, ia ada rapat dan ia terlambat. Semoga Mr. Lee memaafkanku, batinnya. Kantornya berada di daerah Cheonchamdong, dan itu memakan waktu cukup lama. Untung saja lalu lintasnya lancar—hey!

Ckit!

Lagi-lagi Suho kedapatan orang yang menyebrang jalan asal. Lagi-lagi ini wanita! Ada apa sih dengan wanita-wanita ini? Kali ini sang wanita membungkuk minta maaf dan langsung pergi. Suho ingin meneriaki wanita tadi, tapi ia tidak punya waktu untuk itu. Setelah wanita itu menyingkir, Suho langsung menancap gas menuju kantornya yang tinggal 500 meter lagi itu.

 


Terlambat. Ini awal bulan dan ia terlambat. Kau memang bodoh, Jeong Eunji! Eunji benar-benar panik saat melihat jam. Ia ada rapat awal bulan demi tuhan! Ia tidak bisa terlambat, ada konsekuensi sendiri jika terlambat. Sang pemimpin redaksi akan mengawasimu sepanjang bulan, dan itu bukan hal yang bagus.

Eunji berpakaian seadanya, hanya sweater, rok selutut, dan converse pink-nya—ia bahkan hampir lupa membawa tas-nya—lalu melesat pergi. Sebenarnya, dari apartement menuju kantornya tidak terlalu jauh. Hanya naik subway sekali, lalu sampai.

Tapi karena terlambat, semua jadi terasa jauh. Dan wanita itu hampir ditabrak oleh mobil, lagi, demi tuhan! Eunji membungkuk minta maaf dan buru-buru menyingkir. Kabur, sih, lebih tepatnya. Ia tidak mau kena sembur dari sang pemilik mobil tersebut.

Eunji sendiri bekerja sebagai writer di sebuah perusahaan yang bernama Han Group, dimana perusahaan ini adalah induk dari anak perusahaannya—yang banyak itu. Han Group menghasilkan banyak majalah, dari anak-anak sampai dewasa. Eunji, bekerja di sebuah majalah gaya hidup, lebih tepatnya majalah Life n’ Style. Ia mengisi dua halaman penuh—rubrik Tips n’ Trick.

Eunji menyukai pekerjaannya. Ia tidak harus duduk di kantor seharian, ia boleh mengerjakan pekerjaannya dimanapun. Di rumah, di cafe, atau bahkan di perpustakaan umum. Yang jelas, selama rentang waktu dua minggu, Eunji harus menyerahkan pekerjaannya ke Editor, jika melewati kriteria, tulisannya akan dimuat.

Sebenarnya, gaji dari bekerja di Han Group cukup besar, tapi itu belum cukup untuk mengembalikan tabungannya. Ya, tabungan. Ia masih sangat jelas sekali satu bulan yang lalu dimana pernikahannya yang gagal itu… Demi tuhan, Eunji menghabiskan seluruh tabungannya hanya untuk gaun pengantinnya! Dan sekarang gaun itu berakhir di gudang—berwarna kusam dan rusak. Ibunya marah-marah karena sang ibu juga memberi sebagian tabungannya untuk pesta pernikahan. Ini jelas-jelas salah laki-laki brengsek itu! Sampai sekarang, Eunji tidak tahu dimana laki-laki brengsek tersebut.

Oke, back to the topic. Jadi, untuk menambah, Eunji juga bekerja sebagai citizen jurnalism di site Naver News, dan mendapat keuntungan lumayan dari sana. Sejauh ini, artikel Eunji sering dimuat.

Akhirnya, ia sampai di kantornya. Syukurlah, mereka baru akan memulai rapatnya.


Selalu seperti ini setiap harinya: bangun, siap-siap pergi ke kantor, menitipkan Chaerin ke duo Spare mom, ke kantor, menjemput Chaerin, lalu pulang. Kadang Suho menyesal, ia kurang banyak waktu bersama putri semata wayangnya itu. Tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Toh, ia bekerja juga untuk masa depan Chaerin.

Hari minggu, hari dimana Suho libur dan menghabiskan waktu di rumah bersama Chaerin. Kini Suho sedang menyeduh teh hijaunya, sedangkan Chaerin duduk dengan tenang di depan TV menonton Pororo—tayangan pagi kesukaannya.

“Dad? Mana Honey Star ku?” Chaerin berseru, tanpa mengalihkan pandangannya pada TV.

Suho jadi teringat pesanan Chaerin. Setiap pagi, ia akan sarapan sereal Honey Star, her favorite. Suho membuka rak dapurnya yang super berantakkan itu, where’s that damn honey star…where, where… oh! Ini dia! Suho menemukan kotak Honey Star dan kaget saat melihat isinya kosong. Oh my, aku belum me-re-stock lagi persediaan.

“Chaerin-ah, Honey Star-nya habis~ Dad hanya menemukan Corn Flakes, makan Corn Flakes saja ya.” Suho mengambil Corn Flakes—sarapan kesukaannya—yang tinggal setengah itu dan menuangkannya di atas mangkuk, memberinya susu vanilla dingin dan Voila! Sarapan pagi ini sudah jadi. That’s why I love fast food, gumam Suho sambil duduk di sebelah Chaerin.

Sebenarnya, Chaerin tidak begitu suka Corn Flakes, tapi ia adalah anak yang tidak banyak omel—kalau lapar, ia akan langsung makan apa yang ada.

Suho mengambil remote dan memindahkan channel ke channel berita. Chaerin memekik,

“Dad! I’m watching!”

“Tadi sedang iklan dan—“

“Daaaad iklannya cepat, kembali ke Pororo!” titahnya. Suho mengalah, dan layar dipenuhi oleh gambar dari penguin biru itu. Chaerin tersenyum, dan ia mulai tertawa-tawa menonto Pororo.

“Chaerin-ah.”

“Mmm?”

“Bagaimana harimu? Apa Kai dan Sehun memperlakukanmu baik?”

“Oh, spare mom? Baik, kok!”

Suho menaikkan alisnya, “Apa? Spare…mom?” sejak kapan anak ini punya istilah sendiri pada dua adik kelasnya itu?

Chaerin mengangguk pelan, “Mm. Spare mom satu dan dua, Kai dan Sehun! Besok aku kesana lagi, kan?”

Suho melirik tanggal. Besok, ia sudah menandakan dengan spidol merah di kalendernya.

“Nope, mulai besok kau akan sekolah.”

Chaerin menoleh, “Be…benarkah?!”

“Ya, ini sudah waktunya… dan…”

“Kya!” Chaerin melompat senang dan memeluk ayahnya itu, “Thanks daddy! Dari dulu aku ingin sekolah!”

Suho tersenyum. Ia ingat betul, Chaerin bertanya mengapa anak-anak kecil itu membawa tas dan mereka masuk ke sebuah gedung. Suho menjelaskan kalau mereka sekolah, dan banyak hal yang bisa dilakukan disana. Semenjak itu, Chaerin ingin cepat-cepat sekolah.

Ting, tong!

Bel apartementnya berbunyi, Suho pun membuka pintunya. Saat dibuka, ia melihat Kai dan Sehun yang berdiri disana sambil membawa bungkusan.

“Hyung!” sapa mereka berdua sambil tersenyum. Suho menaikkan alisnya,

“Oh? Kai, Sehun, kenapa tumben…”

“Kami datang berkunjung, hyung! Memangnya tidak boleh?” cibir Sehun.

Suho menggeleng, “Iya, tidak boleh. Bercanda. Ayo, masuk.”

Saat mereka masuk, mereka sudah tidak heran lagi melihat keadaan apartement Suho yang chaos. Mainan Chaerin tersebar di ruang tengah, beserta CD-CD Princess Movies, lalu pakaian kotor, piring kotor yang menumpuk dan… sampah yang berisi bungkus bungkus makanan cepat saji.

“Aku bawa makanan, lho!” Kai menggoyang-goyangkan bungkusannya, sengaja agar Chaerin berekasi. Dan benar saja, Chaerin langsung melompat dari sofanya, dan menarik-narik celana Kai.

“Kai umma! Apa ada cokelat untukku?”

Disini, Suho langsung bereaksi, “Seriously, Kai, cokelat? No! Chaerin-ah, tidak ada cokelat untuk minggu ini! Lihat gigimu, sayang, No cokelat.”

Chaerin cemberut, “Arasseo.” Gumamnya dan berjalan gontai ke sofanya lagi.

“Hyung, you’re too serius.” Ujar Sehun yang kini sedang di dapur, mengecek kulkas.

“Tentu saja harus serius. Kau akan merasakannya jika punya anak, tahu!” omel Suho. Sehun tertawa, dan mengangguk mengerti.

Suho, dan kedua adik kelasnya saat kuliah itu kini berbincang di meja dapur, dimana Chaerin tenang dengan tayangan kartun paginya.

“Chaerin akan sekolah besok, jadi ia tidak akan dititip di kalian lagi. Maksudku, mungkin hanya siang sampai sore saja.” Cerita Suho sambil memakan chips yang mereka bawa.

“Sekolah? Ah, benar! Sudah waktunya ya!” sahut Sehun.

“Ah, kebetulan. Hyung, sekarang kita juga sedang sibuk skripsi.” Kai mulai berbicara, “Kita kesini mau bilang kalau…mungkin Chaerin tidak bisa masuk apartement kita lagi…”

Suho melebarkan matanya, “Skripsi? Sudah sampai sana lagi, ya? Wah… sudah mau lulus ya…”

“Hyung, serius.” Kai menatap sunbae yang sudah ia anggap kakak sendiri ini, “Kau tidak bisa selamanya seperti ini.”

Suho menatap Kai yang kini berbicara serius padanya. Disana, Sehun diam tidak berani berkomentar. Mereka sudah sepakat bahwa Kai yang akan mengatakannya.

“Apa maksudmu?”

“Chaerin… ah, bagaimana ya? Hyung, kita mengatakan ini karena kita sayang hyung, dan juga sangat sayang Chaerin… Hm, well, apa kau tidak berpikir…untuk mencari ibu baru untuk Chaerin?” Finally! Kai akhirnya mengatakannya! Ia inginn sekali berkata ini pada Suho, tapi ia benar-benar tidak tega untuk mengatakannya.

Hening.

Lalu Suho menyemburkan tawa, yang langsung mendapat tatapan aneh dari Kai dan Sehun.

“Hyung…kita serius…” ujar Sehun.

“Wait, apa tadi kalian bilang? A new mom? For Chaerin? Are you kidding?”

“Hyung… kami—“

“Tidak, Sehun, Kai. No. Chaerin akan baik-baik saja.” Suho yakin ini pasti akan terjadi. Dan ini dimulai dari hoobaenya itu, Kai dan Sehun.

“Hyung, kami akan sibuk dengan skripsi. Kau juga akan sibuk dengan pekerjaan. Siapa yang akan menjaga Chaerin?”

Suho tampak berpikir, “Hmm… akan kupikirkan nanti.”

“Hyung—“

“Aku bilang akan kupikirkan!” Suho agak menaikkan suaranya, yang membuat Sehun dan Kai tidak bergeming. Melihat suasana jadi awkward, buru-buru Suho meminta maaf, “Sorry. Sungguh, aku tahu maksud kalian baik hanya…” Suho menghela napas, matanya menatap sebuah frame yang ia gantung tidak jauh dari sana. Foto seorang wanita dengan senyum yang paling indah yang pernah Suho lihat, istrinya.

“…hanya, aku belum siap.” Lanjutnya. Sehun langsung merangkul hyung-nya itu.

“Oh, hyung… maafkan kami juga… tapi, suatu saat ini semua memang harus terjadi…”

Kai mengangguk, “Cepat atau lambat, Chaerin juga akan meminta untuk itu.”

Suho menatap Chaerin yang sedang tertawa-tawa menonton kartun. Sosok ibu baru, ya…

“Baiklah, baiklah. Aku akan pikirkan. Tidak apa, jika kalian sibuk skripsi. Aku tidak akan menganggu kalian. Tenang saja, Chaerin tidak akan kubiarkan, kok. Terima kasih telah mengurus Chaerin, Kai, Sehun.” Suho mengacak rambut kedua hoobae-nya itu.

“Kami minta maaf, hyung, sungguh…”

“Tidak apa-apa. Nah, sekarang siapa yang mau eskrim?”


Eunji menghela napas. Ini adalah hal yang super ia benci. Writers block. Yah, semua penulis mengalaminya. Ia benar-benar bingung dengan tips n’ trick untuk majalah kali ini. Biasanya, jika Eunji sedang mengalami writers block, ia akan mengambil marshmallow yang ia simpan di dalam rak dapur yang terdalam. Gadis ini kalau stress bisa menambah berat badan!

Kriiing! Ponsel Eunji berbunyi.

“Yeoboseyooo?” kata Eunji dengan mulut penuh dengan marshmallow.

“Are you eating marshmallow again?” suara sebrang sana seakan bisa melihat apa yang Eunji lakukan. Eunji langsung menelan marshmallownya.

“Gluk. Eum, enggak…”

“It sooo obvious! Ya tuhan Eunji kau sudah menambah berat badan 5 kilo! Stop eat that marshmallow!” itu adalah kenyataan. Karena kejadian pernikahannya yang gagal, ia menjadi gadis yang menyedihkan; menonton drama yang super sedih, makan tidak teratur, tidak olah raga dan ngemil makanan manis. Menyedihkan, kan? Nah, Son Naeun yang bertanggung jawab untuk mengontrol makan sahabatnya itu.

“Okay, okay, ada apa, Naeun-ah?”

“Aku bosan. Mall, yuk?”

Sahabatnya ini jika ia sedang sumpek dengan pekerjaan kantornya, ia akan mengajak ke Mall dan belanja sesuai hatinya.

“Kenapa? Kena omel bosmu?”

“Tidak juga, Bos ku sedang baik sih sebenarnya hari ini. Hanya saja, aku benar-benar bosan! Ayolah, aku sedang istirahat. Ya?”

Eunji melirik pekerjaannya yang belum selesai, tapi sulit menyelesaikan!

“Oke!”

“Yeay! Kau di rumah, kan? Aku jemput sekarang ya!” Pip! Naeun mematikan ponselnya. Eunji menghembuskan napas. Yah, mungkin dengan jalan-jalan sedikit ia bisa mendapat inspirasi.

 

Son Naeun daebak, pikir Eunji. Sahabatnya ini baru saja memberi dua piece kemeja di Guess, satu piece rok floral di Zara, dan sebuah scarf di Celvin Klein. Eunji sendiri hanya bisa menelan ludah. Sebenarnya, Eunji juga tergiur untuk menggesek kartu kreditnya untuk sepasang sepatu dockside dan sebuah sweater di Uniqlo, tapi ia sedang puasa belanja. Ingat kau sedang menormalisasikan tabunganmu.

“Eunji-ya, kau benar-benar tahan puasa belanja, ya? Aku sih tidak bisa!” komentar Naeun, kini mereka sedang me-recharge tenaga di Starbucks. Eunji mengaduk cappuccino-nya.

“Aaaah~ sebenarnya aku benci ini. Aku benar-benar ingin sepatu dockside yang tadi…”

“Kau seharusnya minta ganti dengan si sialan itu.” Naeun menyebut mantan calon suami Eunji dengan ‘si sialan’. Eunji menggeretakkan giginya,

“Huh. Jangan sebut lagi namanya! Aku bisa gila!”

Naeun terkekeh, “Lagipula, tenang saja, sayang… masih banyak laki-laki di dunia ini yang jauh lebih baik darinya.”

“Ya… semoga saja.” Eunji mengedikkan bahu. Well, kini Eunji memandang semua lelaki sama saja. Maksudnya, ia kini tidak mau dekat dengan lelaki manapun. Ia takut, ia akan tersakiti lagi.

“Hei, Jeong Eunji! Kenapa kau makan marshmallow? Writers block?” tanya Naeun. Eunji mengangguk pelan,

“Hu-uh… aku benar-benar bingung. Apa kau punya ide?”

“Apa temanya?”

“Tema… ah! Tentang ekonomi sehat.” Jawab Eunji. Naeun menjentikkan jarinya.

“Aku tahu! Kenapa kau tidak membuat tips n’ trick tentang berhemat? Kau kan sedang melakukan itu.”

Eunji seperti mendapat pencerahan, “Ah! Benar juga! Wah, Son Naeun, kau jenius!”

Naeun terbahak, “Hohohoh! I know, darling!”

Kriiing~ ponsel Eunji berdering lagi.

“Halo?”

“Nuna!” Eunji kini mendengar suara berat adiknya, ia terdengar panik.

“Oh? Minseok-ah? Waeyo?”

“Nuna harus pulang sekarang! Sekarang juga!” desaknya.

“I—iya, tapi ada hoy Minseok-ah?!”

“Mom…mom sakit! Tiba-tiba Mom jatuh di kamar mandi dan sekarang aku bersama paman sedang di UGD, nuna harus pulang!”

Eunji merasa seperti disambar petir. Ia menjatuhkan ponselnya, yang buru-buru di tangkap Naeun,

“Y—ya! Jeong Eunji! Kenapa kau banting ponselmu? Hei, ada apa?”

Tangan Eunji bergetar memegang lengan Naeun, “Na…Naeun-ah… antar aku ke stasiun… sekarang…”

Naeun menatap wajah Eunji yang terlihat shock, tanpa banyak kata, mereka keluar dari Starbucks Cafe dan menuju stasiun bis antar kota.

Eunji langsung memesan satu tiket menuju Busan. Disanalah keluarga Eunji tinggal. Hanya ia sendirian yang pindah ke Seoul untuk kuliah dan bekerja. Setelah membayar, ia duduk di ruang tunggu bersama Naeun.

“Eunji-ya, apa kau yakin mau sendiri? Tidak mau ditemani?”

Eunji perlahan menggeleng, “Tidak apa-apa, Naeun. Kau kan harus kembali ke kantormu…”

“Aku khawatir! Aku bisa skip—“

“Tidak, Naeun.” Potong Eunji, “Kembalilah ke kantormu, ya.” Eunji mencoba tersenyum. Naeun menghela napas,

“Baiklah. Telepon aku kalau sudah sampai disana. Ingat, harus telepon! Salam untuk keluargamu.” Naeun memeluk Eunji erat. Untuk sesaat, Eunji merasa tenang. Ini yang ia suka dari Naeun. Walaupun wanita ini tampak high class dan centil, tapi ia tahu Naeun sangat menyayanginya. Hanya Naeun sahabat satu satunya.

10 menit kemudian bis pun datang. Naeun melambai pada Eunji yang sudah duduk di dalam bis. Naeun benar-benar kasihan menatap sahabatnya itu. Pertama, pernikahan yang gagal—ia tahu betapa frustasinya dia—lalu, kini ia mendapat kabar Ibunya jatuh sakit—yang mungkin parah karena Eunji harus ke Busan, kampung halamannya. Naeun menggigit bibirnya, Ya tuhan, lindungi Eunji…

 

Dari Seoul ke Busan memakan waktu cukup lama, 3 jam. Selama 3 jam itu, Eunji terus berdoa agar ibunya baik-baik saja. Ia pun menelepon Minseok, adiknya, untuk menjemput di stasiun. Saat sampai di Busan, ia melihat adiknya yang menjemput dengan motor.

“Nuna!” Minseok melambai. Eunji berlari kecil menghampiri adiknya yang masih SMA itu.

“Minseok-ah! Mom bagaimana?”

Minseok menepuk bahu kakaknya, “Tidak apa-apa, sudah stabil. Tapi kondisinya masih mengkhawatirkan… Ayo, lebih baik Nuna ke rumah sakit.”

Eunji mengangguk cepat dan menyuruh Minseok untuk ngebut.

Eunji hanya bisa menatap ibunya dari kaca luar ruang perawatan. Katanya, tidak boleh ada pengunjung yang boleh masuk, karena masih dalam perawatan intensif. Setelah itu, Pamannya—alias adik dari sang ibu—mengadakan pembiacaraan serius di taman rumah sakit.

Paman Jeong menghisap rokoknya dalam, “Eunji-yah… Your mom… punya masalah serius…”

Eunji menatap Pamannya cemas, “Apa itu, paman?”

“Kanker,” pamannya menghela napas, “Sudah hampir 5 tahun ibumu menyembunyikannya. Tapi, mungkin ini saatnya kita semua tahu. Sudah stadium 3, kanker selaput otak.”

Eunji shock. Ia merasa air matanya turun. Pamannya mengelus kepala keponakannya itu, “Hei, tenang dulu. Dokter bilang, kanker ibumu bisa diangkat. Hanya saja… masalahnya, ibumu tidak punya uang sebanyak itu.”

Eunji menghapus air matanya. Ia tahu sekali. Uang ibunya habis untuk biaya pernikaan Eunji bulan lalu yang pahitnya—gagal total. Uang Ibunya juga dipakai untuk membayar sekolah Minseok, dan uang kuliahnya nanti.

“Dengar, Eunji-yah… Paman mau bantu, tapi paman sendiri sedang kesulitan uang. Ayahmu sudah tidak ada… hanya kau harapan satu satunya.”

Pamannya benar. Hanya ia harapan satu-satunya. Walaupun gajinya besar, tetap saja tidak bisa menutupi biaya operasi yang sangat mahal. Ia butuh tambahan pekerjaan.

“Apa penghasilanmu cukup, Eunji?” tanya sang Paman.

Eunji menggeleng pelan, “Biayanya sama dengan biaya gajiku dalam dua tahun, besar sekali. Mungkin aku bisa menyicil atau…”

“Rumah sakit akan mengerti itu… Yang penting kau bisa sedikit sedikit membayar. Nanti aku akan bicarakan dengan pihak rumah sakit. Aku sudah membayar uang muka untuk operasi nanti. Paman hanya bisa segitu… sisanya… aku serahkan padamu.”

Eunji mengangguk pelan, “Terima kasih, Paman…”

“Ya.”

Eunji menginap di rumah sakit, membiarkan paman dan adiknya pulang ke rumah. Otaknya tidak bisa berpikir jernih sekarang. Satu hal yang ia pikirkan, bagaimana aku mencari uang sebanyak itu dengan waktu singkat?

Son Naeun. Tiba-tiba ia teringat sahabatnya itu. Oh iya, ia juga ingat belum mengabarinya.

“H—halo?” suara Naeun tampak serak.

“Uh, Naeun? Apa aku mengganggu tidurmu?”

“Ng… ah! Jeong Eunji! Syukurlah, kau sudah sampai di Busan?!” suara Naeun terdengar lebih manusiawi sekarang. Eunji tersenyum,

“Ya, aku sudah di Busan. Aku baik-baik saja.”

“What’s wrong, Eunji-ya?”

Eunji pun mengeluarkan semuanya, tentang penyakit sampai biaya operasi. Eunji harap Naeun punya sebuah solusi.

“Kerja tambahan. Kau butuh pekerjaan tambahan.”

“Uh? Tapi pekerjaan apa, Son Naeun?”

“Tenang saja, dear. Kau hidup di Seoul, Seoul penuh dengan lowongan pekerjaan.”


I know. INI PANJANG BANGET. He he he. Nah, awalnya mau ku bagi dua, tapi kalau dibagi jadinya nanggung. Nah, jadi kebayang lah ya ceritanya bakal gimana kan ya?

Masalah Suho dan Eunji sudah terungkap, nih! bagaimana solusi mereka?

Harap sabar, karena ini akan sangat panjang he~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s