[FF] 다시… 사랑합니다 (Love Again) – Chapter 02

CHAPTER 02


 

 

Tanpa Kai dan Sehun, jujur, Suho kewalahan. Ia harus bangun lebih pagi. Menyiapkan sarapan Corn Flakes, memandikan dan memakaikan baju Chaerin, mengantarnya sekolah, menjemputnya di tengah pekerjaannya, dan menitipkan Chaerin di penitipan anak di kantornya. Walaupun begitu, Suho merasa tidak aman dengan menitipkan anaknya di penitipan, karena disana hanya ada satu pengawas dan membiarkan anak-anak bermain video games. Video games, Suho menghindari itu.

Ini sudah seminggu berjalan, dan Suho benar-benar capek. Ternyata mengurus anak itu sangat sulit… batinnya. Syukurlah, ini sudah hari sabtu, dimana Chaerin libur dan Suho bisa free keluar masuk kantornya karena bukan hari wajib. Kini Suho mengkonsumsi banyak caffein, meminum kopi instan dua kali dalam sehari, bahkan tiga.

“Dad? Apa kau melihat Sally?” Chaerin kini mengobrak abrik kamarnya, mencari dimana keberadaan Sally. Suho yang sedang berbaring di sofa—sehabis begadang menyelesaikan pekerjaannya—menggumam,

“Sally… siapa… tetangga sebelah?”

Chaerin mendesis, “Dad, jangan bercanda! Bonekaku! Boneka Sally!”

“Oh… yang pakai gaun ungu?”

“Iya!”

“Entahlah, cari saja di tumpukkan baju atau dimana…”

“Dad tidak pernah membereskan rumah!” komentar Chaerin sambil berbaring di atas ayahnya. Ayahnya kini membuka matanya,

“Eoh? Chaerin-ah, apa yang kau lakukan di atas perut ayah?”

“Kenapa Kai umma dan Sehun umma tidak pernah datang lagi?”

Suho mengerjap. Chaerin akhirnya menyadarinya. “Uh… Kai dan Sehun umma, sibuk, sayang.”

“Sibuk apa? Mereka tidak pernah sibuk.”

“Mmm… mereka membuat suatu pekerjaan… laporan…”

“Laporan?”

Suho bingung menjelaskan pada putrinya apa itu ‘Skripsi’. Tapi bagaimana caranya? Anak umur 4 tahun tidak mungkin mengerti!

“Eum, ah, seperti tugas…mengarang…”

“Apa itu seperti pekerjaan rumah?”

“Ah, ya! Benar! PR! Seperti PR. Dan PR mereka sangat-sangat-sangaaat banyak, Chaerin-ah. Jadi, mereka sibuk sekali.”

Chaerin mengangguk, “Oh… lalu, apa aku bisa membantu mereka?”

Suho menahan tawanya, “Apa yang bisa kau bantu, honey?”

“Aku bisa membantu menghitung. Dad! 1+1 sama dengan 2! Lalu, aku bisa membantu mereka menggambar kucing.”

Tawa Suho lepas, lalu mencium pipi buah hatinya itu, “Anak Dad pintar, nanti Dad sampaikan pada Kai dan Sehun umma ya.”

“Yeeaaay!”

Ting tong!

Chaerin memekik senang, “Kyaaaa! Mereka datang!”

Kemarin malam, Suho memberi tahu Chaerin bahwa teman-temannya akan datang. Lebih tepatnya, anak dari kedua sahabatnya. Chanyeol dan Baekhyun. Mereka adalah happy-married-man, punya istri yang cantik dan anak yang lucu. Mereka menikah lebih dulu dari pada Suho. Hari pernikahan mereka juga hanya beda seminggu.

Chaerin membuka pintu, dan melihat dua Pria dengan senyum lebar, di depan mereka ada anak-anak mereka. Anak dari Byun Baekhyun, Byun Haneul, adalah perempuan berusia 5 tahun dengan rambut pendek. Lalu anak dari Park Chanyeol, kembar identik laki-laki, Park Himchan dan Park Gongchan. Mereka bertiga suka berkunjung ke apartement Suho untuk bermain dengan Chaerin dua minggu sekali.

“Haneul! Gongchan, Himchan! Ayo kita main!” Chaerin langsung mengajak ketiga temannya itu dan mereka pun berteriak senang, masuk ke dalam kamar Chaerin.

Suho menatap kedua sahabatnya, lalu memberikan mereka sebuah pelukan.

“Ahaha! Long time no, see, bro!”

“Yeah! Kami juga sibuk, tahu. Hahaha!” kata Baekhyun yang mendapat anggukan dari Chanyeol,

“Gongchan dan Himchan sudah masuk SD, pengeluaranku bertambah. Haha.”

“Ayo masuk, masuk!”

Chanyeol dan Baekhyun masuk dan duduk di sofa ruang TV. Suho mengambil 3 botol Soju dari kulkasnya.

“Wew, hyung, kau harus beres-beres rumah.” Komentar Chanyeol meliihat keadaan rumah yang chaos. Baekhyun mengangguk,

“Kau benar-benar dalam masalah, Hyung! Jinjja, ini namanya kapal pecah.”

Suho terkekeh, “Tidak sempat. Nih, Soju-nya.”

Chanyeol tampak bahagia, begitu pun Baekhyun. Mereka pun memulai percakapan Soju mereka, dimana anak-anak mereka asyik bermain power ranger di kamar Chaerin.

“Lalu istriku bilang, ‘tidur saja diluar jika terus terusan lembur!’ wah, saat itu istriku benar-benar membiarkanku tidur diluar. Mengerikan.” Cerita Baekhyun yang diikuti tawa keras dari Suho dan Chanyeol. Chanyeol megangguk setuju,

“Istri, mereka sangat mengerikan. Berkali-kali aku mendapat cubitan bahkan tendangan… Jinjja, daebakida!”

Suho tertawa, “Ahaha, nikmati saja.. disitulah kesetian kalian diuji.”

Baekhyun menaruh gelasnya, “Hyung, kudengar Kai dan Sehun sedang sibuk-sibuknya skripsi, apa benar?”

Suho meneguk Soju yang tersisa di gelasnya, “Mm.”

“Lalu, siapa yang menjaga Chaerin?” tanya Chanyeol.

“Aku sendiri~! Jujur, aku kewalahan…”

“Cari saja baby sitter,” usul Baekhyun, “Kadang aku memanggil mereka. Kau tahu, istriku seorang bidan, ia suka tiba-tiba dibutuhkan… tidak ada yang menjaga Haneul.”

Suho seperti mendapat pencerahan, “Baby-sitter?”

“Yo, hyung. Mereka bisa menjaga Chaerin. Yah, ada dua opsi sih. Cari ibu baru… atau baby sitter.” Baekhyun menambahkan. Suho tampak berpikir.

“Tentu saja baby-sitter. Bagaimana caranya?”

“Kau harus membuat iklan di koran juga internet. Cepat, kok.” cerita Chanyeol. Suho mengangguk-angguk mengerti. “Ah… arasseo. Membuat iklan, ya?”

Jam dua siang, anak-anak mulai kelelahan. Mereka pun memakan makan siang mereka dan pulang. Chaerin sendiri langsung tertidur di sofa ruang TV bersama boneka-bonekanya. Di kamarnya, Suho sedang membuat sebuah advertising untuk memperkerjakan seorang baby-sitter.

Kata Chanyeol, Suho harus menuliskan kriterianya, batas usia, dan gaji. Suho berpikir sebentar, lalu mulai mengetik. Karena Chaerin anakku satu satunya, baby sitter ini harus perfect. Pertama, umur minimal 19… ah, tidak, tidak. Ia harus lebih dewasa. Umur minimal 22. Oke, cekatan, tidak banyak mengeluh, harus berpengalaman dalam mengurus anak, wanita pastinya, dan punya banyak waktu luang untuk pekerjaan ini. Aku pikir ini cukup. Ah, oh iya. Gaji besar. Nah, ini baru sempurna.

Merasa selesai, ia pun ke kantor sebuah Koran, membayar biaya iklannya—ia minta dengan spot paling besar—juga meminta mempost-kannya di internet.

Suho menghela napas saat pembayaran selesai. Semoga ia bisa menemukan baby sitter yang tepat.


Setelah menginap tiga hari di Busan, Eunji pamit pulang untuk bekerja lebih keras lagi di Seoul, demi ibunya. Saat sampai di Seoul, Eunji sudah harus dihadapkan lagi dengan deadline tulisannya yang belum selelsai. Mencari lowongan kerja pun dibantu dengan Naeun.

Setiap malam, Naeun datang ke apartement milik Eunji, membeli banyak koran dan mencari pekerjaan sampingan yang sekiranya dengan gaji besar. Sering terjadi perdebatan dengan Naeun. Ada kalanya kata Naeun cocok, tapi Eunji tidak mau melakukannya. Dan itu tidak mudah. Ada disaat kau suka dengan pekerjaannya tapi gajinya terlalu kecil, ada disaat gajinya cukup besar, tapi pekerjaannya yang tidak cocok.

Eunji membanting tubuhnya di kasur, “Aaaaah! Naeun, aku bisa gila!”

Naeun yang masih berkutat di depan koran menghela napas, “Kau menyerah begitu saja? Ayolah, aku sudah bantu mencari nih!”

Eunji mengacak rambutnya, “Aish, tapi tidak ada yang cocok!”

“Sabar lah sedikit. Nah!” Naeun mengodok tasnya, mengeluarkan sebuah koran, “Ini koran yang baru lho! pasti list pekerjaannya juga baru.”

Tak lama, Naeun berseru, “Eunji-ya! Eunji-ya! Lihat ini!” Naeun mengacung-ngacungkan korannya. Eunji menatap Naeun, “Ada apa, ada apa??”

“Ini! Kupikir ini cocok, lihat!”

Mata Eunji menatap sebuah iklan dengan space besar disana.

 

Dibutuhkan cepat! Baby-sitter, min 22th, punya pengalaman, cekatan, tidak banyak mengeluh, perempuan. Gaji besar. Hub: 012xxx-xxx-xxx

 

Eunji dan Naeun saling menatap. Iklan ini… cukup aneh. Tidak seperti pekerjaan lowongan kerja yang lain. Mereka pun menatap iklan ini lama.

“Oke, Eunji. Iklan ini… tampak menjanjikan.”

Eunji mengangguk setuju, “Mm. Aku rasa juga begitu.”

“Kau juga masuk kriteria… umurmu 25 tahun, kan? Cekatan? Kuarasa begitu. Oke, call. Hubungi nomor ini sekarang!”

Eunji terkejut, “Eh? Sekarang?”

“Kau mau tunggu apalagi?!”

Eunji pun meraih ponselnya, menelepon sang nomor.

“Halo?” suara laki-laki. Eunji terlihat gugup, Naeun memberi kode ‘ayo-cepat-bicara’ dengan matanya.

“Halo?” ulang sang laki-laki. Eunji menelan ludahnya,

“A—ah, iya, apakah ini benar orang yang memasang iklan baby sitter di koran?”

“Oh, ya. Itu aku.”

“Eummm, aku ingin melamar jadi—“

“Maaf, aku sedang ada dalam rapat, nanti aku kirim pesan alamatnya, kau langsung saja kesana, ya.” Pip. Orang itu langsung menutup teleponnya. Eunji hanya bingung.

“Bagaimana?” Naeun mengguncangkan lengan Eunji.

“Well…sepertinya dia orang sibuk. Pantas saja butuh baby sitter. Dia bilang ia akan mengirim pesan.”

“Syukurlah! Nah, kalau begitu problem solved, kan?” Naeun tampak sangat lega. Eunji mengangguk. Ya, masalah sudah dipecahkan. Tapi… apakah ia akan diterima? Apakah pekerjaan itu bukan tipuan? Ia tidak akan tahu kebenarannya jika ia tidak mencoba.

Drrrt. Satu pesan pun masuk.

 

From: 012xxx-xxx-xxx

Kau bisa datang ke Unione Apartment Complex Lt. 14 no. 1402, Gangnam. Datanglah pada jam 7 pagi. Jangan terlambat.

 


Ia tidak percaya feed-backnya akan secepat dan sebanyak ini. Seoul, memang kota pekerjaan. Banyak sekali yang mencari pekerjaan ini. Suho pun meminta profil mereka lewat email, dan kebanyakan wanita dibawah umur 22 tahun. Dan pagi ini, adalah penelepon terakhir. Semoga sesuai harapannya.

Suho yang baru saja memakai kemeja kantornya, mendengar bel apartementnya berbunyi. Itu pasti dia, batin Suho. Dengan perlahan, ia membuka pintu. Disana, sudah ada seorang wanita dengan long-coat berwarna cream, kemeja putih, celana panjang dengan Timberland Boots berwarna krem.

Wanita itu membungkuk, “Ah! Annyeong haseyo!”

Suho mengerjap, “Ah, ya… kau pasti…”

“Aku penelepon yang kemarin! Halo! Namaku Jeong Eunji!” sahut wanita itu bersemangat. Suho menahan senyumnya melihat semangat dari wanita di depannya ini.

“Oo—oh, oke, Jeong Eunji. Berapa umurmu?”

Wanita itu sempat bingung, tapi tetap dijawabnya, “Euh, 25 tahun—“

“Oke, kau diterima. Dengar, aku cukup buru-buru, jadi… masuklah dulu.”

Untuk pertama kali semenjak kematian istrinya, seorang wanita masuk ke dalam apartementnya. Suho membawa wanita itu langsung ke ruang tengah. Suho menatap ekspresi wajah Eunji yang melihat keadaan apartementnya.

“Jadi, Jeong Eunji, pekerjaanmu mudah. Hanya menjaga anakku, Chaerin. Hanya itu. Gaji bisa kita bicarakan nanti, karena aku buru-buru. Job Desc-mu sudah kutulis dan kutempel di kulkas. Jadi, selamat bekerja! Aku benar-benar membutuhkanmu.” Suho menepuk pundak wanita itu yang wajahnya tampak bingung—tapi sepertinya ia bukan wanita yang bodoh.

Selama perjalanan menuju kantor, Suho agak khawatir. Pertama, ia belum sempat mengenal latar belakang wanita itu. Kedua, style wanita itu terlalu muda untuk umur 25 tahun!  Suho sempat kaget wanita tadi sudah 25 tahun. Ketiga, Chaerin belum bangun. Takutnya, anaknya itu akan berteriak ketakutan karena orang baru. Tapi, entah kenapa… saat melihat wajahnya, Suho langsung mempercayai wanita itu. Begitu saja.


Eunji tidak percaya ini. Ia melamar, diterima, dan bekerja dalam waktu yang sama. Kini Eunji berdiri bingung ditegah ruang TV yang super berantakkan. Bahkan, ia tidak mengetahui nama dari bos-nya satu ini.

Kini, mata Eunji mencari kulkas. Benar saja, disana sudah ditempel dengan magnet satu lembar kertas berisi point-point pekerjaan yang harus Eunji lakukan.

Job Description!

  • Chaerin akan bangun jam 7.30
  • Sarapan: Susu dingin dengan Honey Star. (Jika tidak ada pakai Corn Flakes tidak apa-apa)
  • Makan siang/sore/malam: apapun
  • Sekolah di TK Paran, start jam 9 sampai jam 12.
  • Harus tidur siang
  • Jangan main video game
  • Hindari konsumsi makanan manis: cokelat dan permen
  • Alergi pennicilin
  • Jangan biarkan ia kepanasan, wajahnya akan memerah
  • Tidur paling telat jam 9
  • Pekerjaanmu selesai jika aku sudah pulang

 

Eunji mengerjap. Okay… cukup mudah. Jam menunjukkan jam 7.30, dan benar saja. Ia merasakan sosok kecil dengan piyama motif bebek pink, kaus kaki dan rambut panjang lembut berjalan gontai ke ruang TV.

“Dad?” katanya. Dengan perlahan, Eunji mendekat ke arah Chaerin.

“H—halo, Chaerin.”

Chaerin menoleh, menatap Eunji lama.

“Um.. Tante siapa? Dad dimana?”

Eunji berjongkok, “Halo, namaku Jeong Eunji. Kau bisa panggil aku Eunji. Dad sudah pergi bekerja… mulai hari ini, aku akan jadi penjagamu.”

Chaerin mengerjap, “Oh… spare mom…”

“Uh?”

“Spare mom. Kau spare mom pengganti Kai dan Sehun umma, ya?”

Eunji tampak tidak mengerti, “Ahaha, aku tidak mengerti tapi mungkin saja seperti itu. Apa kau lapar, Chaerin? Bagaimana dengan semangkuk Corn Flakes?”

Chaerin mengangguk. Eunji mengelus pipi Chaerin, “Baiklah, aku buatkan, ya!”

Kini Eunji menatap Chaerin yang sedang memakan sereal sambil menonton Pororo. Anak ini cantik dan lucu dalam waktu yang bersamaan, membuat ia membayangkan bagaimana rupa ibunya, pasti cantik. Pipinya memerah jika kepananasan, tubuhnya terlihat lincah—ia suka melompat dan berlari kesana-sini. Dilihat dari kamar dan bajunya, ia sangat suka warna pink. Dan… sepertinya Pororo adalah serial kartun favoritnya.

Untuk kali ini, status pekerjaan barunya: Aman.


Panjang? Yap! 

Yehey! Akhirnya Suho dan Eunji bertemu! Eunji mendapat pekerjaan dan Suho mendapatkan baby sitternya. Lalu, apa yang terjadi? Hahaha tunggu kelanjutannya xD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s