[FF] 다시… 사랑합니다 (Love Again) – Chapter 03

Note: Gila ya, gue tau. Setahun dong, bahkan lebih engga gue update. Hahaha. Siapa yang baca ini juga, ya kan? :> tapi… daripada menggantung, gue post deh! Double post, bonus buat di tahun 2016. KEKEKE

 

CHAPTER 03


 

 

Suho menatap jamnya berkali-kali. Kadang, ia mondar-mandir tidak jelas di ruangannya, membuat asistennya menatap bingung.

“Mr. Kim, are you alright?” tanya asistennya, “Mau kubuatkan kopi atau teh?”

Suho cepat cepat menggeleng, “Ah, terima kasih. Tidak apa-apa…aku hanya sedikit…khawatir.”

“Khawatir tentang apa, tuan?”

“Aku meninggalkan Chaerin… uh, dengan baby sitter baru.”

“Benarkah? Anda mau pulang untuk mengecek dulu, mungkin?”

“Tidak, tidak. Aku percaya padanya. Tapi, mungkin aku akan pulang lebih cepat. Kuserahkan pekerjaan padamu, ya.”

“Baiklah, tuan.”

Setelah berbagi keresahannya sedikit pada asistennya, Suho merasa sedikit tenang. Jam 3 sore, Suho akan pulang lebih cepat dari biasanya.

 


 

Suho memacu mobilnya lebih cepat dari biasanya. Ia juga mampir ke toko kue untuk membeli cemilan. Setelah itu, ia setengah berlari menuju apartementnya. Saat pintu dibuka, Suho terkejut.

Ia hampir saja menjatuhkan kotak kue yang baru saja dibelinya. Tidak lama setelah itu, terdengar suara yang agak asing—suara sang baby sitter.

“Ah! Tuan sudah datang! Chaerin-ah, appa-mu sudah datang!”

Suho mengerjap. Kini menatap Eunji serius.

“Eung… apa ada yang salah, tuan?”

“Salah? Ini luar biasa! Ya tuhan, kau… kau membereskan rumahku?”

Itulah yang Suho lihat. Tidak ada lagi tumpukan piring dan baju kotor. Sampah sudah dibuang, ruang TV sudah tidak berantakkan lagi. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun.

“Mm, ya…begitulah,” Eunji memainkan jarinya.

“Kau…kau tahu… aku hanya membayarmu untuk menjaga Chaerin. Nanti akan kutambah gajinya—“

“Jangan! Anu, maksudku, anda tidak usah repot-repot. That’s my habbit, aku suka bersih-bersih. Salah satu cara menjaga anak dari penyakit adalah lingkungan yang bersih.” Eunji menjelaskan.

“Benarkah? Tapi jika kau minta extra bilang saja. Aku sangat berterima kasih.”

“No problem,” wanita itu tersenyum.

Setelah itu, Suho dan Eunji berbincang di dapur dengan segelas teh hangat yang dibuat Eunji, juga dua potong red velvet yang baru saja Suho beli. Suho kini melihat CV yang dibuat Eunji, yang tidak sempat Eunji kasih pagi-pagi.

“Umurmu 25 tahun?”

“Ya..begitulah…”

“Benarkah? Kukira kau kurang dari itu. Kita hanya beda satu tahun, jadi berhenti memanggil ‘Tuan’. Aku kurang suka hubungan seperti itu.”

Wanita itu mengangguk, “Uh… baiklah umm…”

“Suho. Namaku Suho.” Ujar Suho. Wanita itu menahan tawanya,

“Suho…artinya guardian? Guardian dari Chaerin?”

Suho tidak menyangka wanita di depannya berpendapat tentang namanya. Artinya memang itu, Guardian. Dengan tidak sengaja, wanita itu membuat nama Suho jadi spesial.

“Wah, benar juga! Aku tidak terpikir, lho. Hahaha. Oke, kita lanjutkan. Kau… punya pekerjaan?”

Eunji mengangguk, “Mm. Aku penulis.”

“Wah, banyak juga ya pekerjaannya. Apa… baby sitting ini mengganggu pekerjaanmu? Kalau mengganggu…aku bisa…”

“Tidak, Suho-sshi. Uh, aku… aku memang butuh pekerjaan yang banyak, memang.”

Suho tersenyum, “Wow, korean dream job. Susah lho mencari banyak pekerjaan. Kau hebat sekali, Jeong Eunji-sshi.”

Wanita itu terkekeh mendengar pujian dari Suho. Lagipula, Suho kagum sekali dengan wanita ini. Ia punya banyak pekerjaan dan ia tidak terlihat lelah.

“Baiklah, kukira kau cocok dengan pekerjaan ini. Bagaimana hari pertama?”

Wanita itu mulai tersenyum, “Pertama-tama, your daughter is ve~ry cute! I mean, walaupun ia masih terlihat cuek… tapi ia cukup bisa diatur. Dia anak yang baik. Aku menikmati pekerjaan ini.” Suho senang melihat Eunji yang begitu ekspresif, seakan pekerjaan ini tidak ada apa-apanya.

“Haha, banyak yang bilang Chaerin memang cute. Aku senang mendengar kau menyukai pekerjaan ini. Aku benar-benar membutuhkanmu.”

“Uh… anu… boleh aku bertanya?”

Suho menatap Eunji serius, “Ada apa?”

“Maaf tapi… dimana ibunya Chaerin? Alias istrimu…”

Suho mengerjap. Ia tahu pasti Eunji akan menanyakannya. Suho menghela napas, “Mm… ibunya Chaerin… meninggal, 2 tahun yang lalu. Kanker otak.”

Eunji terlihat sangat bersalah, “Omo, Suho-sshi maaf…”

Suho mengulas senyumnya, “It’s okay, itu kan sudah lama… haha.”

“Kau pasti merindukan istrimu, ya?”

“Begitulah, tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.”

Suasana pun menjadi awkward, Suho pun mulai bercerita tentang Chaerin—untuk pengetahuan Eunji. Eunji pun mendengarkannya dengan seksama. Karena sudah cukup, Suho pun kembali ke permasalahan gaji.

“Baiklah, Eunji-sshi. Kau ingin cash atau ditransfer ke rekening?”

“Rekening saja, biar tidak repot.”

“Uh, aku kasih uang perhari saja, bagaimana?”

“Eh? Benarkah?”

“Sepertinya kau sedang mengumpulkan uang, terlihat dari pekerjaanmu yang cukup banyak jadi—“

Eunji bangkit dari tempat duduknya dan membungkuk berkali-kali, “Terima kasih Suho-sshi! Terima kasih!”

Suho menahan senyumnya, “Ah, tidak apa-apa, Eunji-sshi tolong, jangan sungkan.”

Hari pun menjadi larut, Eunji izin pulang.

“Kau yakin tidak mau diantar?”

Wanita itu menggeleng cepat, “Tidak, sungguh. Aku bisa sendiri, kok.”

“Baiklah. Chaerin, ayo ucapkan selamat tinggal.”

Chaerin menahan kantuknya, “Bye, bye… eonni…”

Suho menahan tawanya, begitu juga Eunji. “Chaerinnie annyeong! Besok eonni kesini lagi!”

“Hati-hati, Jeong Eunji-sshi.”

“Oke. Selamat malam, Suho-sshi.”

 


 

Eunji menutup pintu apartement, dan menjatuhkan tubuhnya di sofa soft blue-nya. Lelah sekali. Ia sudah lama sekali tidak mengurus anak kecil. Well, Eunji memang berpengalaman untuk urusan anak. Dulu, saat Minseok masih kecil, Eunji-lah yang menjaganya. Jadi, Chaerin bukanlah masalah. Yah, walaupun Chaerin masih terhitung cuek padanya.

Telepon pun berdering. Dari Naeun. Pasti ia penasaran dengan pekerjaan baruku, batin Eunji.

“Halo?”

“EUNJI-YA! EOTTE?!”

“Hey…pelankan suaramu itu…”

“Eotte, eotte? Malhaebwa!”

Eunji menahan senyumnya, “Geurae. Mm, well… ternyata Suho adalah orang yang sibuk. Dia orang kantor…punya anak satu… yah, dia membutuhkanku karena istrinya meninggal…karena kanker otak… ya…Naeun-ah… bukankah itu sedih?”

“Omona! Kau serius?! Hanya seorang ayah muda dan anaknya yang masih kecil?! Kenapa sedih sekali? Yuyuyu… untung kau datang, ya!”

“Mm. Dan kau tahu, Chaerin—anaknya—lucu banget! Pasti… istrinya cantik.”

“Eeey, apa Suho-suho itu tampan?”

Eunji kini mengingat-ingat wajah dari bapak satu anak itu, “Mm… yah, lumayan…”

“I knew it! Ini benar-benar seperti drama! Apakah anaknya susah diatur atau apa…?”

“Nope, Chaerin bisa diatur.”

“Baiklah, jika pekerjaan itu sudah nyaman buatmu. Jangan lupa dengan pekerjaan aslimu, eo? Arasseo??”

“Nee, arasseo Naeun-ah. Naeun-ah, pigonhae… sudah ya?”

“Ne, ne, jaljayooong Eunjiya~”

“Eung~ Jaljayooong~”

Pip. Eunji pun langsung menutup matanya. Beberapa saat kemudian, ia pun tertidur. Untuk pertama kalinya, ia tidur dengan nyenyak—bebannya seakan melayang ke udara.

 


 

No prove reading, no editing. Ya tuhan, ini tulisanku tahun berapa coba? hhahaha xD just enjoy yah. Click next for the next chap!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s