[FF] 다시… 사랑합니다 (Love Again) – Chapter 06

Yeah, just read it.

By the way, I think I will post one more chappy. He

 

CHAPTER 06


 

I’m dead. I’m dead, I’m dead! Eunji buru-buru membuka laptopnya, lagi-lagi Eunji lengah. Karena kedatangan dua pria asing tadi siang dan ditambah Chaerin yang terus menerus minta main, Eunji jadi lupa akan pekerjaannya itu.

Wajah panik, saat melihat jam menunjukkan jam 8.31, dan tepat jam 9 ia harus mengirim artikelnya. Eunji menekan-nekan pelipisnya, think, think, think! What should you write, Jeong Eunji. THINK.

Eunji melompat kaget dan memekik saat pundaknya ditepuk seseorang.

“Ms. Jeong! Are you okay?” suara lembut Suho menanyakan kabar Eunji. Eunji memegangi dadanya,

“Oh my god… It’s you…”

“You look panic and frustated, are you okay?” tanya Suho sambil duduk di sebelah gadis itu. Mata Suho jatuh pada layar laptop Eunji, yang menunjukkan aplikasi Microsoft Word.

“Work?”

“Mm… kind of that…” Eunji memainkan tangannya.

Suho terkekeh, “Sepertinya aku mencium bau writesblock, am I right? You’re writer, right?”

Eunji mengangguk pelan, “I’m so dead today, Suho-ssi… Editorku meminta artikelnya jam 9 tepat.”

Suho melihat jam, lalu melebarkan matanya, “Oh my, kalau begitu tunggu apalagi?? Let me help you, Eunji-ssi.”

Eunji kaget mendengar pertolongan Suho, “Eh? Its… it’s okay, Suho-sshi. You dont have to help me–“

“I insist. Kau banyak menolongku dengan menjaga Chaerin, uhm, memasak dan beres-beres juga… jadi kini aku akan membantumu. Jadi, apa yang kau tulis?”

Eunji menatap jam sekali lagi, lalu menghela napas. Awalnya ragu dan merasa tidak enak, tapi melihat keadaan yang terjepit ini… Eunji akhirnya mengiyakan. Suho pun mendengar penjelasan dari gadis itu. Gadis itu menulis rubrik tips and trick dan kini ia bingung harus menulis apa.

Suho tampak berpikir, lalu menjentikkan jarinya, “Oh, I know!”

Secercah harapan muncul di hati Eunji, “Apa itu, Suho-sshi?”

“Karena kau suka bersih-bersih… kenapa kau tidak membuat Tips n’ trick tentang ‘How to keep your house clean and neat’?”

Eunji mengerjap. What a brilliant idea! Kenapa ia tidak pernah terpikir apa yang dekat dengannya?!

“That’s wonderful, Suho-ssi! Thank you so much!”

Suho mengulas senyum, “No problem. Kau sebaiknya cepat, waktumu hampir habis.” Suho menunjuk pada jam tangannya. Eunji melipat kemeja panjangnya sampai siku,

“Oh, jangan remehkan kecepatan mengetik seorang penulis, Suho-ssi.”

 


SENT!

Fuh! Eunji menyenderkan punggungnya ke sofa dan bernapas lega. Akhirnya, tepat jam 9 Eunji bisa mengirimkan artikelnya. Ia bahkan belum sempat membacanya lagi, ia yakin pasti banyak typo di dalamnya. Hey, tapi bukankah itu gunanya Editor? Editor Yoon akan mengoreksinya… kau tenang saja, Jeong Eunji.

“Kopi, Ms. Jeong?”

Eunji mengerjap saat Suho menyerahkan cangkir berwarna biru tua ke hadapannya. Dengan pelan, Eunji menerima kopi itu. Ah, caffein. This is all I need…

“T—thanks…”

Suho mengangguk lalu membuka mulutnya, “So? Sudah dikirim?”

Eunji megulas senyum, “Sudah! Oh, aku sangat bersyukur… kalau tidak aku bisa kehilangan pekerjaanku… Sekali lagi terima kasih idenya, Suho-ssi. Kau sangat membantuku.”

“Tidak apa-apa, Eunji-sshi. Uhm, it’s getting late… kapan kau mau pulang?”

Eunji tersadar. Ini sudah jam 9 lewat 10 menit, dan ia belum pulang.

“Oh, ya! Ya ampun, hahaha. Maaf. Aku pulang sekarang.”

Eunji pun membereskan baranganya, dan siap untuk pulang.

“Uhm, Eunji-sshi?”

“Yes?”

“Kau yakin tidak mau diantar?”

Ya! Aku sangat lelah, bisakah aku menumpang mobilmu? Dengan pelan, Eunji menggeleng. “No, it’s okay, Suho-ssi.”

God gracious, Eunji. Dia atasanmu. Tidak boleh seperti itu, oke?!

“Padahal tidak apa-apa. Oh iya, besok hari libur… kau tidak usah kesini.”

Eunji mengerjap. Sudah hari libur lagi, ya? Berarti sudah seminggu gadis itu bekerja pada Suho. Eunji mengangguk,

“Yeah. Kau harus menghabiskan banyak waktmumu di rumah, Suho-ssi. Sebelum tidur, Chaerin pasti menanyakanmu. And… aku dengar dari Kai dan Sehun bahwa kau bekerja seharian penuh… Uhm, aku tahu aku bukan siapa-siapa tapi… Just… kurangi porsi bekerjamu, Suho-ssi. Apa kau sadar ada lingkaran hitam dibawah matamu?”

Suho mengerjap. Apa tadi? Hendak menjawab, tapi gadis itu membungkuk,

“Maaf! K—kalau begitu, aku permisi dulu. Selamat malam, Suho-ssi.”

Eunji menutup pintu apartement Suho, lalu menghela napas. God, Eunji! Kau harus menghetikan kebiasaan menghawatirkan dan ikut campur masalah orang lain…

 


Suho menatap wajahnya di cermin, dan menatap matanya sendiri. Oh my god! She’s right! Sejak kapan aku punya kantung mata seperti ini? Suho memejamkan mata, lalu menghela napas. Mungkin dia benar, aku terlalu larut dalam pekerjaanku.

Kini Suho masuk ke dalam kamar, dan menatap kamarnya. Lemari dan meja masih terlihat barang-barang milik istrinya. Dari make-up… sampai baju. Suho menghela napas, dan mengambil sebuah frame dari mejanya. Seorang gadis tersenyum disana.

Seketika Suho menangis, I miss you, Chorong-ah… What should I do now, Chorong-ah?

Ia terus menangis, menangis dan menangis. Menyesali semuanya. Marah akan semuanya. Bertanya akan semuanya. Hingga matanya mulai mengantuk, dan tertidur… masih memeluk frame foto istriya.

 


Suho merasa badannya bergoyang, diikuti sebuah suara cempreng yang membuatnya membuka mata perlahan. Awalnya tidak jelas, tapi lama-lama ia bisa melihat Chaerin yang ada di atas perutnya.

“Daaaad! Dad, dad, daaaddy! Wake. Up!” katanya gemas. Suho mengerjap, lalu tersenyum.

“Aigoo… Chaerin-ah, jam berapa sekarang?”

“Jam 9! Daaad, dad habis makan apel beracun, ya? Tidak mau bangun dari tadi!” omel Chaerin. Gemas, Suho langsung menarik Chaerin lalu memeluknya,

“I’m up, honey! Oh my, I miss you so much Chaerin!”

Chaerin tertawa dalam pelukan ayahnya, “Dad, stop it! It’s tickle!”

Suho mencium pipi Chaerin pelan, “So, breakfast?”

“Of course! Come on, daddy! I’m hungry and Pororo gonna start!” tangan Chaerin menarik Suho dari kasurnya. Suho terkekeh geli,

“Alright, alright! Slow down, Chaerin-ah!”

 

Chaerin mengunyah Honey starnya sambil anteng menonton Pororo. Suho, seperti biasa membuat kopi pada pagi harinya. Ia duduk sebelah Chaerin, lalu membuka mulutnya.

“So, bagaimana sekolah?”

Chaerin menoleh, “Great.”

“Do you make friends?”

Chaerin tampak berpikir, “Mmm…”

“Chaerin?”

“Yes, Sally it’s my friend…”

Suho menaikkan alisnya. Sally… ah, bonekanya. “Chaerin, dad serius.”

Chaerin tidak menjawab. Seketika Suho merasa gagal dalam mengurus Chaerin. God, sepertinya aku harus menyuruh Eunji untuk menanyakan kabarnya di sekolah.

Suho berdehem, “O~kay. Uhm. So…—“

“Dad, where’s Eunji eonni?”

Froze. Suho mengerjap, “Mmm… she’s… dia tidak datang hari ini, honey.”

Chaerin menatap mata ayahnya, “Kenapa?”

“Karena… ini hari libur, dan ini saatnya Dad yang mengurusmu—“

“I want Eunji eonni. She’s my friend. I want to play with Eunji eonni.”

Bang. Seketika Suho teringat sesuatu. Ia ingat kata-kata Chanyeol dan Baekhyun saat menyuruhnya untuk mencari baby-sitter.

Saat itu Chanyeol dan Baekhyun sudah mau keluar dari apartementnya, tapi Baekhyun berbalik,

“Ah! I have to warning you, Suho”

Suho menaikkan alisnya, “Apa itu?”

“Kalau kau ingin sekali memakai jasa baby-sitter, kau harus menerima satu konsekuensi.”

Suho menatap Baekhyun, menunggu kelanjutannya. “…Kau harus terima jika suatu saat anakmu akan bergantung padanya, dan jauh darimu. It’s happen all the time. Kau tahu, anak kecil akan lebih dekat dan sayang dengan orang yang selalu ada di sisinya. Do you understand?”

Suho mengangguk-angguk, “Yeah, yeah, I’ll take the consequences.” It’s better than finding a new mom, tough, batinnya.

Dan inilah yang terjadi. Ini konsekuensinya. Chaerin bergantung pada Eunji.

“Chaerin-ah, Eunji butuh istirhat—“

“I just don’t want to be alone!” Chaerin berdiri, lalu berlari ke kamarnya. Suho merasa hatinya hancur berkeping-keping, mendengar teriakkan anaknya. Suho menggigit bibir. What should I do now?! Matanya mencari sebuah ponsel, setelah ketemu ia langsung menelepon seseorang.

Seseorang dimana jadi tempat segala curahan hati seorang Suho.

“Halo?” jawab seseorang di sebrang sana.

“Kyungsoo-ya, I… I need your advice.”

 


Hari sabtu.

Hari libur, Eunji membiarkan dirinya bangun pada siang hari. Jam sudah menunjukkan jam 10, dan matahari sudah bersinar terang, cahayanya masuk ke dalam kamar Eunji. Eunji mengerjap. Gosh… thank god it’s Saturday.

Eunji pun melompat dari kasurnya, lalu memanggang roti untuk sarapan. Ia membuka laptopnya, dan mulai membuka site gosip artis tanah air. Eunji tersenyum, Yes! Infinite akan comeback~ Yeah yeah~ saatnya PO album~ ucapnya senang. Saat asyik membaca artikel tentang boyband terkenal Infinite, ponselnya bergetar. Eunji tersenyum. Naeun.

“Halo?”

“Eunji-yaaah~! I miss you!” katanya dengan nada sok imut. Eunji terkekeh,

“Me too~”

“Hihihi, how your job, Eunji?”

Eunji tampak berpikir, lalu bangkit dari kursinya. “Mmm. Fine. Chaerin semakin cute, hehehe.”

“…and… How about Suho?” canda Naeun di sebrang sana.

Eunji terkekeh, “He’s fine. Dia tetap menjadi busy-dad-type, and… oh, dia membatuku dalam membuat artikel.”

“He does? Wow! Are you two get along?”

Eunji tampak berpikir. Well, mereka sering bicara setiap jam 9 sampai jam 9.30, dan Eunji merasa mereka cocok, tidak ada yang membuat dirinya ilfil.

“Yeah, we’re fine.”

“Eunji-ya, it’s Saturday! Mall, yuk!” ajaknya. Eunji menatap to do list nya, dan tidak ada jadwal hari ini. Suho membutuhkannya hanya hari senin sampai jumat, dan ia baru saja menyelesaikan satu artikel untuk bulan ini.

“Okay!” Eunji menerimanya dengan senang. Terdengar pekikan Naeun dari sebrang sana.

“Okay, sweety! I’ll pick you up at 11.” Pip. Sambungan terputus. Eunji pun bangkit dan mengambil roti yang habis ia panggang. Saat mau memakannya, ponselnya bergetar lagi. Eunji membulatkan mata saat tahu siapa yang meneleponnya.

“H—halo?”

“Eunji-ssi, are you free today?”

Thump. Entah kenapa Eunji merasa gugup dan… tegang. Did he.. did he just…

“Mmm… not really, why?”

“It’s urgent. Can you come to my house, right now?”

Eunji tidak ada pilihan lain. Ia pun mengiyakan, mandi, dan pergi ke apartemen Suho.

Sambil menggigit bawah bibirnya, Eunji mengetikkan pesan untuk Naeun:

 

            To: Naeun

            Sorry Naeun, aku tidak bisa ikut ke mall. Duty calls. Maybe next time.

 


Eunji sampai di apartement Suho dengan napas terengah. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi Suho bilang ini urgent. Tangannya memencet bel, lalu Suho membukanya. Eunji terkejut saat melihat Suho hanya memakai kaos putih dan celana training berwarna abu-abu. Senyumnya merekah saat melihat kedatangan Eunji.

“Eunji-sshi, you came.”

Eunji menatap Suho khawatir, “Ada masalah apa? Kau bilang ini urgent—“

“Eonni!” sebelum Suho menjawab, Chaerin muncul dengan wajah cerianya dan memeluk kaki Eunji. Suho menggaruk tengkuknya,

“That’s the problem.”

 

Eunji tidak percaya bahwa kata-kata urgent oleh Suho adalah mengajak anaknya bermain. Bermain. Disaat Eunji ingin menikmati hari liburnya, dan pergi jalan jalan dengan Naeun. Kini sudah 3 jam Eunji disibukkan oleh Chaerin.

Jam 1 siang.

Eunji menutup pelan kamar Chaerin, lalu bernapas lega. Akhirnya, Chaerin lelah dan tertidur. Eunji berbalik dan kaget saat melihat Suho dengan dua cangkir kopi di tangannya.

“Coffee?” tanyanya. Tanpa berpikir, Eunji mengangguk.

 

Mereka pun duduk di mini bar yang ada di dapur Suho. Bau kopi menenangkan Eunji.

“Look, I’m sorry to call you in the middle of free day.” Suho meminta maaf. Eunji tersenyum tipis,

“It’s okay, Suho-ssi. Aku juga tidak ada apa-apa kok hari ini.” Hello? You ruin my schedule with my bestfriend!

Alis Suho terangkat, “Really? No dates?”

Der. Kata-kata Suho membentur hati Eunji yang paling dalam. Seketika, air wajah Eunji berubah. Ia menunduk, lalu memainkan jarinya.

“Uhmm… I…”

 

 

Suho merasa menyesal setelah menanyakan hal ini pada Eunji. Ia bisa melihat wajah Eunji yang langsung berubah. Rasa bersalah menggrogoti Suho.

“Uhmm… I… I have no dates, Suho-ssi.”

Suho menggaruk tengkuknya, “Uhm, sorry. You’re 25, right? I tought you have boyfriend or… fiancee… maybe?”

Eunji menggeleng, “Nope. Hehe. Itu… terjadi berbulan yang lalu, Suho-ssi.”

Rasa penasaran Suho begitu hebat. Dia ingin tahu. Entah sejak kapan, ia ingin tahu segala sesuatu tentang gadis ini.

“What happened?”

Eunji terkekeh, lalu menghela napas, “Bukan Cuma kau yang kehilangan seseorang. Aku… juga. Calon suamiku meninggalkan aku… saat hari pernikahan berlangsung.”

Tubuh Suho membeku. Ia bisa melihat gadis itu makin menunduk, seperti menyembunyikan sesuatu agar tidak dilihat olehnya. “…it hurts so… much.”

Ia bisa melihat tangan gadis itu mengelap matanya, dan menatap Suho kembali, “Tapi… itu masa lalu. Tidak perlu diingat lagi, ya kan? I have to move on, right?”

Perlahan, tangan Suho menepuk punggung Eunji. Menenangkannya. Suho memang tidak tahan jika melihat seorang wanita menangis.

“I’m sorry, Eunji… Well, laki-laki seperti itu tidak perlu ditangisi. He’s a jerk. Ia adalah laki-laki yang sangat menyedihkan, kau tahu? Karena ia meninggalkan gadis sepertimu.”

Blush. Wajah Eunji perlahan memerah, lalu berdehem,

“Ekhm. C—can I go home, now?”

Suho mengerjap. “Oh! Yes, sure, sure. I’m sorry to ruin your weekend, Eunji-ssi.”

Suho menatap kepergian Eunji, lalu duduk. Apartemennya kembali sepi. Sepi, terlalu sepi. Drrrt. Ponselnya bergetar. Kyungsoo.

“Yeah, Kyungsoo?”

“So? Bagaimana? Kau sudah panggil dia ke rumah?”

Suho mengangguk kecil, “Mm. And little Chaerin saved. Thank god.”

Terdengar kekehan dari sebrang sana, “Be careful, there Suho. Someday, Chaerin will call her ‘Mommy’.”

Blush! Suho memerah, what the hell?! “What?! No, Kyungsoo! Stop talking nonsense.”

“Haha, listen to me. Soon or later, okay? Prepared your self.”

Pip. Suho melempar ponselnya ke sofa, lalu menutup matanya. Damn you, Kyungsoo.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s