[FF] 다시… 사랑합니다 (Love Again) – Chapter 09

CHAPTER 09


 

Fresh. Suho merasa segar setelah mandi. Saat air dingin itu mengguyur seluruh tubuh Suho, seluruh rasa pegalnya seakan hilang disapu air. Ia keluar, mengganti bajunya dengan kemeja biru, celana jeans hitam, oh… dan tidak lupa cukuran. Ia bisa lihat kumis dan janggutnya yang sudah menebal. Setelah itu, dia menyisir rambutnya dan menyemprotkan parfum-ehm-mahalnya.

Saat menatap cermin, ia jadi tersadar. Oh my god, Suho. Kau pikir kau mau kemana? Kau hanya menjemput Chaerin! Dengan berpenampilan seperti ini, kau akan meng-impress siapa? Eunji? Suara hatinya terdengar mengejek. Suho mendesis, shut up! Aku akan meng-impress… Chaerin. Kali ini ia mendengar suara hatinya tertawa keras, yang benar saja. Karena sudah terlanjur, Suho pun tidak terlalu peduli.

Ia pun keluar kamar, dan menemukan Eunji yang sibuk di dapur.

“Eunji?”

Mendengar namanya dipanggil, gadis itu berteriak, “Wait a minute!”

Suho melangkah menuju dapur, dan melihat apa yang gadis itu lakukan. Trak. Gadis itu menaruh dua cangkir kopi di hadapan mereka.

“Coffee?”

Suho mengulas senyum. “Sure.”

Entah sejak kapan, gadis ini selalu membuatkan kopi untuknya. Dan entah darimana, kopi buatan Eunji…sama seperti apa yang Suho suka, padahal ia tidak pernah memberi tahu gadis itu takaran kombinasi kopi yang Suho suka.

“You know, aku suka kopi buatanmu. It’s just… right. Gula satu sendok. Tidak terlalu manis, tidak juga terlalu pahit. Darimana kau tahu?”

Eunji menyeruput kopinya, “Uh… kebiasaan.” Katanya.

Suho menaikkan alisnya, “Oh, jadi selera kopiku sama dengan selera kopi ‘that jerk’?”

Eunji itu terkekeh, menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi. Seketika Suho sadar, gadis ini cantik kalau tersenyum, apalagi tertawa.

“Oh well, iya… tidak hanya ‘that-jerk’ tapi juga ayah. Told you, kebiasaan.”

“Kalau takaranmu?”

Eunji menjilat bibir atasnya, “Mmmh, karena aku suka manis… aku biasa 2 sendok gula, dan 1 sendok creamer.”

“Kalau begitu, aku juga”

“Eh?”

Suho terkekeh, “Kalau begitu, ganti takaranku sama sepertimu. Aku tidak mau punya selera kopi yang sama dengan ‘that-jerk’.”

Ia bisa melihat ekspresi wajah Eunji yang kaget, lalu tersenyum. “You sure?”

“Mm.” Tangan Suho pun mengambil cangkir kopi milik Eunji, lalu meminumnya. Srup. Wow, it’s taste… good! Suho tidak bisa menahan senyumnya, “This is… really good, Eunji. Tidak salah lagi, aku ganti takarannya jadi sepertimu.”

Eunji tidak bisa berkata lagi selain tersenyum.

“Oh my, Chaerin! Eunji, ato kita pergi sekarang! Chaerin menunggu.”

Suho turun dari stool nya dan menatap wajah Eunji. Ada noda hitam di pipinya. Dia mandi dengan benar tidak sih?

Dengan satu gerakan, Suho mengambil sapu tangannya dan mengelap noda hitam di pipi Eunji.

“You miss that spot, Miss Jeong.” Ujar Suho sambil terkekeh. Lagi-lagi ekspresi Eunji tampak terkejut.

“Uhm, ah… t—thanks…”

“You’re welcome.”


 

Alunan lagu ‘Lost’ oleh Michael Buble menemani suasana perjalanan menuju daerah Seocho, tempat dimana Chaerin berada. Tidak ada yang berani mengeluarkan sepatah katapun. Bisa dibilang… ini adalah awkward moment. Bagaimana tidak? Hari ini ia dikagetkan dengan gestur-gestur manis dari Kris… juga Suho. Setelah sekian lama… Ugh! Lupakan itu Eunji. Mereka Cuma… gentleman. Ya, gentle. Bukan suatu masalah, Jeong Eunji. Fokus.

 

Eunji…

Eunji…

Eunji…

Eunji mendengar suara yang memanggil namanya.

Eunji-sshi!

Eunji mengerjap. Ia bisa melihat dua pasang mata cokelat tua milik… milik… Suho! Oh my god! Ia mengangkat tubuhnya, menjadi posisi duduk. Mengerjap satu, dua, tiga kali.

“Kita sudah sampai, Eunji.” Katanya.

Great. Just great. Kau baru saja tertidur di mobil Suho. How you could do that, Jeong Eunji!

“Oh my, Suho-sshi… apa baru saja aku… tertidur?”

Suho mengangguk, “Mm, sepertinya kau kelelahan. Tahan sebentar lagi, setelah ini kau boleh pulang.”

Eunji mengusap matanya, dan mengangguk kecil.

 

Kini mereka masuk ke daerah apartemen yang sama elitnya dengan di daerah Gangnam. Hanya saja, gedung apartemen disini lebih sedikit dan sepi. Mereka masuk lift, dan Suho menekan tombol 21. Tidak usah menunggu lama, mereka pun sampai di lantai 21. Langkah mereka terhenti di kamar nomor 2103. Tangan Suho pun langsung memencet tombol.

Trak.

Sosok wanita dengan rambut hitam panjang, kulit putih dan tinggi semapai membuka pintu. Eunji menelan ludah. C—cantiknya…

Bibir tipisnya mengembang, “Suho! Kau sudah datang. Chaerin sudah merengek minta pulang.” Katanya.

“Thanks, Hayoung-ah. Chanyeol di rumah?”

“Nope, dia masih di kantornya. Oh ya dan—“ Eunji menahan napas saat mata bening milik wanita yang diyakini bernama Hayoung itu menatap matanya. “—Oh, halo. Are you—“

“Mommy! Daddy!” sosok kecil Chaerin langsung menerobos keluar, memeluk kaki Eunji. 3 pasang bola mata langsung membulat. T—tadi… barusan… Chaerin memanggilku… apa?

Eunji tidak mau melihat ekspresi Suho. Entah kenapa… ia tidak mau melihat eskpresi Suho saat anaknya memanggil ‘baby-sitter’-nya ini Mommy. Oh, bahkan julukan ‘baby-sitter’ terasa menyakitkan sekarang.

 


 

Hening.

Gulp. Suho menelan ludahnya dengan susah payah. Kali ini, Suho yakin sekali apa yang ia dengar. Sangat jelas. Wanita di depannya—Hayoung juga pasti mendengar.

Be careful, there Suho. Someday, Chaerin will call her ‘Mommy’.

Tiba-tiba perkataan Kyungsoo beberapa waktu lalu terngiang jelas di pikiran Suho. Ia juga jadi teringat dengan konsekuensi yang diberitahu oleh Baekhyun. Ia kira ini tidak akan terjadi. Well, mungkin akan terjadi.

Tapi tidak sekarang. Tidak di depan Hayoung… dan ia bisa melihat Gongchan dan Himchan yang juga menyaksikan dibelakang sosok ibunya.

“My, my… Suho… wanita ini adalah—“

“No!” Suho dan Eunji mengatakannya bersamaan. Shit. Suho mengumpat. Suasana jadi semakin awkward.

“I miss you, mommy! Daddy!” kini Chaerin mengeratkan pelukannya di kaki Eunji. Ia bisa melihat wajah Eunji yang terlihat shock. Jika ia jadi Eunji, pasti ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

“Hayoung-ah, ini mungkin ada sedikit kesalahpahaman. Uhm… kenalkan, ini Jeong Eunji. Dia… hanya baby-sitter Chaerin.”

Hayeong  menutup mulutnya, tidak tahu harus berkata apa. “Ah? Ah… I see… Uhm…”

Suho menghela napas, lalu berjongkok, “Chaerin-ah. Lihat aku.”

Chaerin menatap ayahnya dengan ceria. “Yes, daddy?”

“Mana bisa kau memanggil Eunji eonni dengan ‘Mommy’? Eonni, mengerti?”

Chaerin mengerjap, “Mommy!” ia tetap dengan penderiannya.

“Chaerin-ah.”

“Mommy! Mommy!”

“Chae—“

“Suho-sshi.” Suara gadis itu keluar juga. Suho menatap Eunji dari bawah. Mulutnya mengatakan ‘it’s okay, kita bicarakan nanti’ tanpa suara. Menyerah, Suho mengangguk.

“Hayoung, maaf membuatmu terkejut. Terima kasih sudah menjaga Chaerin. Apa ada masalah selama menjaga Chaerin?” tanya Suho. Hayoung berdehem.

“Well, Chaerin anak yang baik, kok! dia sama sekali tidak rewel. Haneul, and the twins menjaganya dengan baik.”

Suho bernapas lega, “Syukurlah. Sekali lagi terima kasih, ya? Oh, katakan terima kasih pada Sojin (istri Baekhyun) juga ya?”

Hayoung mengangguk, “No problem.”

Suho pun menggendong Chaerin, sedangkan Eunji menenteng koper kecil berwarna pink milik Chaerin.

“Kalau begitu, kami pulang dulu.” Suho dan Eunji membungkuk. Hayoung melambai, begitu juga dengan the twins Gongchan dan Himchan.

 


OMG this is happening!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s