[FF] 다시… 사랑합니다 (Love Again) – Chapter 12

CHAPTER 12


 

Chaerin kembali duduk dengan boneka Sally-nya, sedangkan Eunji duduk berhadapan dengan Lee Aerin, guru di kelas Chaerin.

“Chaerin hari ini bertengkar dengan salah satu teman laki-lakinya.” Wajah Guru Lee tampak tidak enak mengatakannya.

“Astaga, kenapa itu bisa terjadi?”

Guru Lee menghela napas, “Chaerin selalu membawa boneka Sally-nya kemana pun dia berada, benar Miss…?”

“Eunji. Jeong Eunji. Ya, benar. Tolong teruskan.”

“Ya, Ms. Jeong. Teman laki-lakinya ini ingin meminjam boneka Sally-nya tapi yang ada ia malah berebut. Mereka pun saling pukul dan menangis. I’m so sorry, Ms. Jeong.”

Eunji menelan ludahnya. Apa Suho perlu tahu ini? “Tidak apa-apa, Guru Lee. Namanya juga anak kecil.” Eunji mencoba postive thinking.

Guru Lee tertawa, “Yeah, Ms. Jeong. Ini selalu terjadi setiap harinya. Hanya saja… apa Chaerin punya masalah?”

Senyum Eunji pudar, “Masalah?”

“Uhm… Chaerin cenderung tertutup. Ia tidak suka bergabung dengan teman-temannya. Hanya ia dan bonekanya. Jika ada yang mendekatinya, ia akan menjauh. Sebenarnya ini terjadi di umurnya yang masih 4 tahun, tapi jika diteruskan, ia akan menjadi murid yang pasif, bukan yang aktif.”

Eunji pun menatap Chaerin yang duduk di sudut ruangan, lalu menghela napas.

“Thankyou for your information, Ms. Lee”

“Your welcome.”

 

Eunji menghela napas. Setelah mendengar laporan tentang Chaerin dan beberapa nasihat, mereka pun pulang. Jam 2 siang, mereka sampai di apartemen. Sekarang, Eunji sedang membuat Chaerin makan siang. Saat perjalanan pulang tadi, Eunji membeli beberapa bahan masakan. Di apartemen Suho, kulkasnya kosong dan hanya dipenuhi oleh makanan fastfood.

Aigo, Suho… kau ini… bagaimana bisa kau makan fastfood setiap hari?

Eunji tersenyum saat kulkas kini sudah penuh dengan makanan sehat dan segar. Ia juga menyimpan makanan cepat saji di rak paling dalam, agar tidak mudah dijangkau.

Kini, ia sedang membuat Samgyetang untuk makan siang. Saat matang, Eunji memindahkannya ke mangkuk kecil dan memasukkan nasi.

“Chaerin-ah~ Samgyetangnya sudah jadi~” Eunji membawa mangkuknya ke ruang TV, dimana Chaerin sedang bermain dengan lego-nya.

“Mom, Sally kesakitan.” Ucap Chaerin.

“Sakit?”

“Mm.” Angguknya sedih, “Seseorang bernama Woobin menarik Sally. Tangan Sally jadi patah, lihat?”

Chaerin mengacungkan Sally ke hadapan Eunji. Eunji bisa melihat lengan boneka cantik itu robek sedikit.

“Chaerin, ini bukan patah. Ini hanya robek sedikit, kok. Dijahit sedikit nanti juga sembuh.” Eunji geli sendiri dengan perkataannya. Hihihi, Chaerin ini polos sekali ya? Bagaimana bisa ia bertengkar?

“Benarkah? Mommy bisa mengobatinya?”

Eunji mengangguk, lalu mengelus kepala Chaerin. “Yup. Sekarang, taruh dulu Sally-nya dan kita makan siang.”

Chaerin memekik senang. “Yaaaay! Mommy penyelamat! Tenang ya, Sally… My Mom akan mengobatimu.”

Eunji hanya tersenyum kecil, lalu mulai menyuapi Chaerin Samgyetang a-la Jeong Eunji.


 

Akhir-akhir ini Suho sering menderita sakit kepala, juga pegal-pegal. Mungkin Eunji benar, ia terlalu memaksakan diri.

“Sir, are you alright?” Shim Hyunseong, yang sejak tadi menunggu Suho untuk menandatangani sejumlah dokumen mengkhawatirkan atasannya itu. Suho tersenyum kecil.

“I’m alright, Mr. Shim. Thank you.”

“You look pale, sir. Bagaimana jika aku yang mengurusi semua dokumen ini, dan anda pulang lebih cepat?”

Suho mengerjap. “Tapi—“

“Sir, anda bekerja sudah sangat keras. Kau bahkan jarang meminta bantuanku. As your PA, aku akan membantu anda, Sir.”

Mendengar itu dari Asisten pribadinya, Suho merasa tersentuh. Suho menatap Hyunseong dengan mata bling-bling (?)-nya, “Aigo… Mr. Shim! Kau baik sekali, sungguh… aku… terharu.”

Hyunseong tertawa, “That’s my job, Sir. Lagipula, kau harus banyak memperhatikan anakmu. Ya kan?”

Anak. Chaerin. Tiada hari tanpa memikirkan anak satu-satunya itu. Suho menghela napas, “Kau benar, Mr. Shim. Aigo… Kalau begitu… aku serahkan semua pekerjaan padamu, Mr. Shim.”

Hyunseong mengangguk, “Yes sir.”

 

Suho menyetir mobilnya pelan, ia tidak mau membahayakan dirinya sendiri. Keluar dari kantor, entah kenapa sakit kepalanya sedikit berkurang. Mungkin, jika ia sudah melihat Chaerin dan Eunji sakit kepalanya bisa hilang. Wait, did I say Eunji?

Setelah memakirkan mobilnya di basement, Suho akhirnya sampai di apartementnya. Jam 4 sore, Eunji pasti masih ada di rumah. Dan benar saja. TV menyala, menunjukkan Disney Channel. Balok masih berantakkan, dan tercium bau makanan. Hmm. Bau apa ini…? Samgyetang?

Krieet~ pintu kamar Chaerin terbuka dan keluar Eunji dari situ. Lagi-lagi, kehadiran Suho membuat gadis itu melompat kaget.

“Omona! Suho-sshi!”

“Kau tidak perlu sekaget itu, aku bukan hantu lho.”

Eunji pun membantu membuka mantel yang dipakai Suho, sambil bertanya, “Pulang cepat?”

“Yeah. Sedikit tidak enak badan.”

Eunji menggantung mantel Suho, “I told you, jangan memaksakan diri.”

Suho membanting tubuhnya di sofa. “Ah~ yeah. I think you right, Eunji. You cooking?”

Eunji mengangguk, “I know your hungry. Tunggu, aku ambilkan.”

“You just read my mind, do you?”

 

Eunji memang diberi mukjizat, kau tahu? Masakannya begitu enak, bahkan Cuma sekedar ramyun.

“Waaaaaakh, daebak~! Kau ini memang berbakat!” puji Suho dengan senyum. Suho merasa seperti anak kecil yang diberi makan makanan favoritnya.

“Well thankyou! Aigoo, Suho-sshi, kau makan seperti bayi.” Eunji terkekeh, melihat mulut Suho yang belepotan. Ia pun mengambil tissue, dan mulai mengelap mulut Suho,

“Nah, sudah. Makan yang benar, Suho-sshi!”

Suho terkekeh, “Yes, yes.. kau terdengar seperti ibuku.”

Tak terasa, ini sudah piring kedua, dan ia bisa melihat ekspresi tidak percaya dari Eunji.

“What?” ujar Suho dengan mulut penuh.

“Kau benar-benar kelaparan, ya?”

Trak! Suho menaruh mangkuknya yang kosong, “Yeah, dan bukan karena itu juga. Ini super enak, Eunji. Jalmogesseumnida~”

Eunji terkekeh. Yang benar saja, rasa sakit di kepalanya seketika hilang entah kemana.

“Suho-sshi.”

Suho meneguk air putihnya, “Oh please, Eunji. Kita sudah kenal berapa lama, sih?” ucapnya. Eunji menaikkan alisnya,

“Eh? Uhm… sudah hampir sebulan… kenapa?”

“Drop that formalities…” Suho mengelap mulutnya dengan serbet, “Just call me Suho. Su. Ho.”

“S—Suho..” katanya. “Suho, Suho, Suho… Okay, I’ll get used to it.”

Suho tersenyum, “Good. Jadi… ada apa?”

“Uhm, ada yang aku ingin bicarakan. Ini tentang… Chaerin.”

Suho melipat tangannya, “Chaerin? Ada apa dengan Chaerin?”

“Ia bertengkar dengan temannya hari ini,” Eunji menghela napas, “Gurunya juga bilang, Chaerin menutup diri. Ia tidak punya teman…”

Alis Suho turun, “Chaerin bertengkar? Tch! Siapa anak nakal yang berani dengan anakku, huh?!”. Suho tidak percaya ini. Ia tidak pernah mengajarkan anaknya bertengkar! “Bagaimana ini bisa terjadi, Jeong Eunji?”

Suho pun mendengarkan cerita dari Eunji. Tiba-tiba ia merasa gagal (lagi) jadi seorang ayah.

“Aku salah didik apa selama ini, Eunji? Aku selalu mengajarinya hal-hal baik, ia baik-baik saja dengan Haneul and the twins! Ia selalu di rumah—“

“Di rumah!” Eunji memotong, “Really, Suho? Kau tidak pernah membiarkan Chaerin main di luar?”

Kenapa gadis ini seakan menceramahiku? “Nope. Never. Aku tidak mau ia terluka, ada bertemu anak-anak nakal diluar sana. Ditambah, banyak virus dan—“

“Suho” lagi-lagi Eunji memotong, “Itu yang membuat Chaerin jadi tertutup. Karena kau tidak pernah membiarkannya bermain diluar. Di rumah, ia menjadi pasif dan—“

“Hey, aku hanya ingin anakku baik-baik saja, oke?”

“Suho, apa kau tidak—“

“Enough already, Jeong Eunji!” tanpa sadar, suara Suho meninggi yang membuat Eunji diam di tempatnya. Ia bisa melihat kekecewaan di mata Eunji. Eunji pun berdiri, lalu membungkuk. Mata Suho melebar, K—kenapa…

“Maaf! Aku tidak bermaksud ikut campur. U—uh… lagipula, Chaerin itu anakmu. Maaf, tentu itu hakmu. Maafkan aku.” Katanya dengan suara sedikit bergetar.

Suho kini merasa bersalah. Dia mencoba membantumu, for god’s sake, Suho! Stupid!

“E—Eunji… please, stand up.” Suho mendekati Eunji dan menyuruhnya kembali menegakkan badannya. Ia bisa melihat wajah Eunji yang memerah.

“I—I’m sorry. Kenapa kau meminta maaf, Eunji? Harusnya aku yang minta maaf. Aku minta maaf. Tidak seharusnya aku membentakmu seperti tadi.”

Eunji mengusap lengannya, “S—sorry… Aku hanya ingin Chaerin tumbuh seperti anak yang lainnya. Aku mengatakan ini… karena aku sayang Chaerin. Uhm…”

Karena aku sayang Chaerin. Entah kenapa kata-kata itu membentur hati Suho. Oh my, aku sudah jahat sekali pada Eunji.

“I know, I know. I’m sorry. I’m terribly sorry, Eunji. Please dont tell me you gonna resign?”

Kini Suho bisa melihat Eunji yang mulai tertawa, “No… ofcourse no, Suho.”

Suho menggaruk tengkuknya, “W—well, ada alasan mengapa aku tidak membiarkan Chaerin main ke luar…”

Suho mengigit bibirnya, ingatan masa lalu memenuhi kepalanya. Eunji mengedikkan bahunya, “I’m listening.”

Suho menghela napas, dan mulai bercerita.

Dua tahun lalu. Suho masih menjadi seorang ayah yang berbahagia. Chaerin sudah menginjak umur 2 tahun, dan Chorong masih disisinya. Saat itu, Chorong pergi sebentar untuk urusan pekerjaan. Suho pun ditugaskan untuk menjaga Chaerin. Mereka pun memutuskan untuk main di taman. Tapi… sesuatu yang buruk terjadi. Chaerin jatuh, dan pelipisnya robek terkena ujung kayu kolam pasir. Darahnya banyak sekali yang keluar. Suho panik, sangat panik dan menelepon ambulan. Untuk anak pertama, kekhawatiran Suho amatlah besar. Ia terus menerus menyalahkan dirinya, dan meminta maaf pada Chorong berulang kali. Saat itu, Suho tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena lalai dalam menjaga Chaerin.

“Jadi… kalau kau lihat lebih dekat, pelipis Chaerin ada bekas jahitannya.” Suho bercerita.

“Uh… ya, aku melihatnya. Aku kira itu bekas luka gores atau apa.”

Suho terkekeh, “Itu… adalah pengalaman paling buruk. Saat operasi berlangsung, rasanya aku ingin bertukar tubuh dengan Chaerin… biar aku yang merasakan sakitnya.”

Pat, pat. Eunji mengelus punggung Suho. Rasanya… nyaman.

“Aku tahu itu membuat sedikit trauma bagimu… tapi Chaerin kini sudah besar. Ia… bisa menjaga dirinya sendiri. Mulai besok, aku akan membiarkan Chaerin main diluar.”

“T—tapi—“

“Ssst. Tenang saja, Suho. Aku akan mengawasinya. Tanpa berkedip.” Canda Eunji, untuk menghilangkan ketegangan. Suho menghela napas,

“Hh, baiklah… Kau menang, Miss Jeong.”

Eunji giggles, “Alright! If something happens, just blame me. Uh… Suho?”

“Yeah?”

“Aku juga ada alasan mengapa aku menginginkan Chaerin menjadi anak yang aktif..”

“I’m listening” kata Suho lembut. Ia pun menatap Eunji, menunggu gadis itu bercerita.

Gadis itu menceritakan tentang adiknya, Minseok. Saat Minseok kecil, kasusnya persis sama dengan Chaerin. Hanya saja, karena Minseok punya badan yang lemah. Jadi ibu Eunji tidak pernah membiarkan Minseok keluar rumah. Akibatnya, Minseok jadi pendiam dan anti-sosial. Tidak punya teman. Dan itu menyulitkan hidupnya. Akhirnya, Eunji mencoba menolong adiknya itu. Tepat saat masuk SMA, Minseok menjadi anak yang terbuka dan menyenangkan. Caranya, berani membuka diri dan main keluar. Sekarang Suho mengerti mengapa gadis itu memaksa.

“Ah, I see… Sepertinya aku menjadi ayah yang jahat, ya?”

Eunji mendorong pelan lengan Suho,  “It’s not like that. Hm, you just… over-protective-dad. That’s all.”

“Begitulah jika kau punya anak perempuan, satu-satunya pula.”

“I know, Suho-sshi. Aku anak pertama, dan aku perempuan. Aku tahu rasanya.”

Tidak terasa, hari sudah malam. Setiap berbicara dengan gadis itu waktu berlalu lebih cepat. Gadis itu pun pamit pulang.


 

Saat gadis itu pulang, Suho pun memutuskan untuk mengganti bajunya dan mandi. Setelah mandi, ia pun keluar dan memutuskan untuk menonton TV. Ia menonton serius berita tentang politik dalam negri. Saking seriusnya, ia tidak sadar Chaerin sudah duduk di sebelahnya.

“Dad.”

Suho melompat kaget, saat mendengar suara Chaerin. “C—Chaerin!”

“Dad… kok sudah pulang?” tanyanya sambil mengusap matanya yang masih mengantuk.

“Daddy rindu padamu, sih. Jadinya pulang cepat.”

Chaerin tersenyum kecil, lalu melompat ke atas pangkuan ayahnya. “Dad, Disney Channel, now! Mickey Club House gonna start!” katanya menyuruh ayahnya. Suho tersenyum, lalu memencet tombol dan jreeeng~! Suara Mickey mouse dengan lagu ‘Mickey Club House’-nya memenuhi ruangan. Chaerin melompat dan mulai mengikuti lagu dan gerakannya.

“Daaad~” Chaerin berbalik. Suho menaikkan alisnya,

“Apa, sayang?”

“I’m hungry. Ramyuuuun!” pintanya.

“Oke! Tunggu sebentar ya, honey.” Suho mengacak rambut Chaerin.

Suho pun melangkahkan kakinya ke dapur, dan membuka rak dimana ia menyimpan ramyun.

Kosong.

Suho menaikkan alisnya, Kosong? Where’s that damn Ramyun! Suho pun membukakan semua raknya, dan ia tidak menemukan satu ramyun pun. Masa sudah habis, sih? Kemarin kan aku baru membelinya! Ia pun membuka kulkas, dan terkejut melihat sayuran, buah dan sayur yang memenuhi kulkasnya. What the—

Matanya pun jatuh pada sticky notes yang ditempel di depan sebuah apel.

 

Kau harus memulai memakan makanan yang sehat, Suho-sshi. Healthy life start with the healthy food! 🙂

PS: aku menyembunyikan semua junkfood yang kau beli. Kekeke~

 

Suho tersenyum lebar. Jeong Eunji… kau ini benar-benar…


 

Panjang. Tapi akhirnya mereka sudah mulai terbuka, kan?

What next?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s