[Flash Fic] Untuk Rara

Untuk Rara

 

Namanya Rara. Kamu bisa panggil dia ‘Ra’ untuk pendeknya. Gadis berumur 21 tahun itu sekali lihat sih, seperti mahasiswa lainnya. Tidak begitu menarik. Biasa saja. Tapi tidak di mata Badai.

Badai tidak tahu, sejak kapan memperhatikan Rara menjadi semenarik ini. Melihat alisnya yang berkerut saat berpikir, ujung bibir yang ditarik saat mendengar jokes teman-teman sekelas, atau sekedar menguncir rambut panjangnya saat AC kelas tidak menyala.

Dari semua itu, yang paling Badai suka dari diri Rara adalah, senyumannya. Bibir itu selalu melengkung ke atas, apapun yang terjadi. Mendengar banyak tugas, dosen yang tidak masuk, atau mendengar ada rapat setiap pulang kuliah. Memang sih, seperti para gadis lainnya, she did complaining, but ended up with smile. Hal itu yang mengundang rasa penasaran badai, why she can smile so easily?

At first, he just adores her smile.

Sampai akhirnya, perasaan itu lebih dalam dari Badai kira.

Entah perasaan dari mana, hati Badai remuk saat melihat senyuman itu berubah menjadi lengkungan ke bawah. Bergetar, disertai air mata.

Rara menangis.

Dan ia merasa tuhan tidak adil, mengapa ia harus menyaksikan ini.

Tapi Badai terdiam.

Badai tidak melakukan apa-apa.

Hatinya terus bergelut dengan otaknya. Tapi bagi lelaki, otak selalu menang ketimbang hati. Badai memutuskan untuk melangkah mundur, membiarkan gadis itu menangis.

Malamnya, Badai tidak bisa tidur. Masih terbayang lelehan air mata Rara yang begitu deras, isaknya, juga bibir yang melengkung ke bawah. Nyeri hati Badai. Penyesalanlah yang akhirnya Badai rasakan.

Badai berpikir keras. Mencoba menutup matanya, tetapi bayangan Rara muncul lagi. Apa yang membuat gadis yang begitu mudah tersenyum itu menangis? Perasaan Badai semakin besar. Ia harus tahu. Saat itu juga, Badai berjanji untuk menjaga senyuman Rara.

 

***

 

Keesokan harinya, ia tidak melihat Rara. Bahkan teman-temannya pun mempunyai pertanyaan yang sama, kemana Rara? Muncul kekhawatiran di hati Badai. Kali ini, ia membiarkan hatinya yang menang. Ia menelpon Rara, chat, bahkan sms tapi tidak ada hasil. Bahkan teman-temannya. Badai benar-benar merasa bersalah.

“Badai, lo udah coba telepon Rara?” tanya salah satu sahabat Rara, Dhira.

Badai mengangguk, “Iya Dhir, tapi nggak diangkat.”

Dhira menggigit bibirnya, “Tu anak kenapa sih, tiba-tiba ngilang gitu! Gak biasanya ini anak ilang. Kalau sakit juga pasti ngabarin.” Cerocos Dhira, terdengar marah tapi Badai tahu gadis itu khawatir, begitu juga dengannya.

“Dhir, can I ask you a favor?

 

***

 

Bisa dibilang, ini adalah tindakan berani dari Badai untuk Rara. Kali ini dia tidak mau merasa menyesal lagi, he must do something. Kini Badai duduk nervous di dalam mobil jazz miliknya, menunggu kehadiran Dhira dan Rara. Ya, Rara. Lusa kemarin, Badai dan Dhira merencanakan untuk ‘menghibur’ Rara. They know something bad happens to her, but they don’t know exactly what. Jadi, hari inilah mereka mengajak Rara keluar untuk memakan sesuatu yang manis. Oh yes, he knows she love sweet. Badai yakin, pasti Rara akan tersenyum hari ini.

 

Rara itu super polos, bahkan sifatnya sama seperti anak kecil. Badai tidak bisa menahan senyumnya saat Rara tersenyum girang memakan sajian ice cream dan mochi di suatu kedai makanan manis. Dhira juga senang bukan kepalang karena Badai yang bayar.

“Tumben banget lo ngajak gue makan, pake dibayarin lagi.” Komentar Rara disela melahap es krim green tea nya. Dhira terkikik,

“Ada yang pengen liat lo senyum!”

“Hah?”

“Nih!” Dhira dengan seenaknya menyikut Bara yang sedari tadi memperhatikan Rara makan, padahal pesanannya sudah ada di depannya.

“Sumpah? Hahaha! Badai lebay, gue gak papa kok.”

“Lo kenapa, Ra?” pertanyaan Badai itu membuat atmosfir menjadi kelabu. Rara yang tadi asyik makan, kini berhenti mengunyah. Pandangannya ke bawah, tangannya dengan nervous mengaduk es krim yang mulai mencair di depannya. Badai menggigit bibir, gue salah ngomong, ya?

“Ra,” Dhira meraih tangan Rara, “Sebenarnya gue dan Badai khawatir banget sama lo. Lo kemarin hilang, dan Badai bilang dia liat lo nangis. Lo kenapa, Ra? Plis, jangan dipendem sendiri. Ada kita buat jadi tempat berteduh lo. Lo gak sendirian, Ra.”

Seperti rintik hujan, Rara mulai menangis. Badai berusaha untuk menahan keinginannya untuk memeluk Rara. He really wants to hug her, so much, saat mendengar semua permasalahan Rara yang ia simpan sendirian. Badai tidak percaya, dibalik senyuman yang ia paling favoritkan, terdapat kesedihan yang mendalam. Kisah Rara sungguh membuat Badai terenyuh. Selama ini ia hidup tanpa ada masalah, tetapi Rara, hidup dalam kisah yang tidak beruntung tetapi ia masih bisa tersenyum tulus.

Badai sadar.

Badai jatuh cinta pada Rara.

 

***

 

“Badai!”

Langkah Badai berhenti saat ia sedang berjalan di koridor kampus, membawa beberapa spanduk untuk kegiatan BEM Fakultas. Badai menoleh, melihat Rara dengan baju andalannya—kemeja corak dan celana jeans kumal, menenteng tas laptopnya.

“Ya, Ra?”

Terlihat keraguan di mata Rara, hingga keraguan itu hilang dan digantikan oleh senyum.

“Uh… itu… Err… Dhira bilang… yang kita makan di Kedai ManisManis itu… ide lo ya?”

Deg! Entah kenapa jantung Badai berdegup sangat kencang, hingga ia takut jika Rara bisa mendengarnya.

“Eh, iya. Hahaha. Pasti lo kaget ya?”

“Iyalah! Habis, tiba-tiba. Dan lo juga jarang banget kan ngajak gue makan gitu…”

Badai menggaruk tengkuknya, “Hehe, habisnya… lo juga sih, kayak anak kecil. Dikasi yang manis-manis baru diem, terus cerita.”

Rara menonjok pelan lengan Badai, yang membuat lelaki itu makin nervous.

“Sialan!”

“Makanya, jangan nangis lagi ya. Malu, udah mahasiswa. Kalau ada apa-apa bilang, Ra. Sumpah gue siap bantu. Gue juga siap dengerin cerita lo seharian. Trust me.”

Rara tersenyum malu, “Hehe, thanks a lot ya. It means so much to me.”

Merasa semakin awkward, Badai pun pura-pura mengecek jam, “Eh! Udah jam segini! Lo mau kemana, Ra?”

“Gue gabut sih, nunggu Dhira selesai kelas. Tapi masih lama banget.”

“Mau bantuin gue gak?” Badai mengangkat spanduk yang ada di tangannya.

“Boleh” jawab Rara dengan senyum.

 

Tidak ada lagi yang Badai inginkan di dunia ini selain Rara. Dengan ia berjalan disampingnya saat ini, bersenda gurau, tertawa, dan terutama…melihat Rara tersenyum, it’s more than enough.

 

***

 

Ra, bunga mawar punya duri begitu juga hidup, pasti ada masalah. Tetapi, mawar tetaplah mawar yang cantik dan indah ketika mekar. Aku akan merawat dan menjaga mawarku hingga mekar.

Untukmu, mawarku.

-Badai

 

***END***

 

Untuk Rara, 26 November 2016, 12:36 AM.

 


 

Author notes: just like the categories, this is flash fic. It’s just 900++ words, and I write this in 10 minutes, more less. No edit (so bare with the typos). Hehe, cheesy I know. It’s been a long time I didn’t write with Indonesian character. And, the letter from Badai for Rara is actually… wrote by someone. That letter always light up my day 🙂 it’s beautifully written, isn’t it?

If you have comments just fill the comment section down below! Thankyou so much 🙂

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s