[FF] First Snow

First Snow

Cast: Kim Jongin (EXO), Son Naeun (A-Pink)

Disclaimer: Don’t own characters!

A/N: HELLO~~ kembali lagi dengan FF di akhir tahun! Hihihi kali ini EXOPINK yang akan menghiasi FF Christmas Special! Yeay~ akhirnya aku membuat juga dengan karakter Kai dan Naeun :’) Well, this is one of my ultimate OTP~ so, enjoy!

+++

 

Bulan Desember.

Bagi Jongin, bulan Desember identik dengan dingin, salju dan bekerja. Ya, sebagai arsitek, pekerjaannya tidak menentu. Tidak menutup kemungkinan datang order di saat-saat tertentu. Termasuk di bulan Desember ini.

Jongin melangkah masuk ke dalam kantornya, Half Moon Design. Sudah genap 3 tahun Jongin bekerja disini. Saat masuk, ia sudah dikagetkan dengan satu pohon natal besar lengkap dengan dekorasinya. Ia menatap hal di depannya bingung. Ini bahkan belum tanggal 25!

“Ya! Apa maksudnya pohon natal norak ini?” ucap Jongin sambil berjalan ke meja kerjanya, yang berserakan kertas dan juga sisa-sisa ampas penghapus. Rekan kerjanya, Park Chanyeol menggeser kursinya,

“Oh-ho-ho-ho! Santa Park yang melakukannya. Alias, aku! Kenapa? Kau tidak suka?”

Sebelum Jongin menjawab, sebuah tangan merangkul Jongin dari belakang,

“Yak! Kau selalu begini kalau memasuki bulan Desember. It’s Christmas, dude, for god sake!” Jongin menggeram. Kali ini, Kim Junmyeon, sunbae di Half Moon Design membuatnya merengut.

“Aku yang menyuruh Chanyeol mendekorasi tempat ini. Kemarin aku dan Jongdae yang membeli semua ini. Chanyeol mau berbaik hati mendekor studio kita sejak pagi bersama Baekhyun dan Sehun. Yak, kau tidak menghargai usaha mereka?”

Jongin menatap Chanyeol yang pura-pura sedih di depan Junmyeon. Jongin menghela napas,

“Oke, aku tidak apa-apa. Tapi… Norak banget! Lihat, apa-apaan dengan wajah kita semua yang dipasang disana?!”

Itu yang Jongin lihat. Ke-9 penghuni studio ini dipotong kepalanya, dan ditempel di setiap bola hiasan pohon natal. Super norak!

Junmnyeon menggaruk tengkuknya, “Ah, itu sih…”

Dari ujung, Chanyeol terkikik. Tidak heran, sih. Pasti kerjaan Baekhyun. Ia bisa melihat di meja Baekhyun terlihat bekas foto-foto yang sudah dipotong-potong setiap kepalanya. Dasar.

“Jha, jha! Karena ini bulan Desember, ayo bekerja lebih semangat lagi! Yosh!” Junmyeon menepuk punggung Jongin dan Chanyeol, lalu berbalik masuk ruangannya. Jongin menghela napas, tapi tersenyum tipis. Inilah yang ia sukai dari Half Moon Studio. Junmyeon, CEO (ah, CEO terlalu keren…) atau ketua Tim mereka berusaha sekeras mungkin agar this shitty job (yeah, semua mengakui pekerjaan sebagai arsitek memang a shitty job) menjadi menyenangkan! Ya, nyatanya 9 orang di dalamnya sudah betah selama bertahun-tahun.

“Oh! Aku melihatmu tersenyum!” Chanyeol menunjuk ke arah Jongin, yang membuat lamunan pria itu buyar.

“Eh? Aish, shut up!”

 

+++

 

Jam 6 lewat 7 menit.

Beberapa rekan kerjanya di Half Moon Design sebagian sudah pulang. Lampu ruangan Junmyeon masih menyala, berarti ia masih bekerja, batin Jongin. Chanyeol, yang sudah ribut dari pagi akhirnya ijin pulang duluan. Arah jam 12, ia melihat Jongdae yang sedang asyik scrolling di iMac kantor. Jongin sendiri melihat ke mejanya. 20% pun belum selesai, ia mendesah.

Beberapa menit kemudian, ia melihat lampu ruangan Junmyeon dimatikan, dan Junmyeon keluar lengkap dengan mantel hitamnya.

“Jha, jha. Pulanglah kalian semua.” Kata Junmyeon sambil menepuk-nepuk punggung Minseok yang half asleep di depannya.

“Whoa? Really? Kenapa?” tanya Minseok yang setengah menguap, “Ini bahkan belum jam 7, daebak!”

Hampir semuanya berteriak senang, kecuali Jongin.

Hyung, kenapa?” tanya Jongin bingung. Siapa yang tidak senang pulang kerja lebih cepat? Jongin hanya merasa, pekerjaannya belum selesai, dan ia tidak mau pulang sebelum selesai.

“Hari ini adalah hari salju pertama turun! Kalian tidak mau melihatnya bersama—ya… orang special?” ucap Junmyeon dengan nada sumringah. Ia bahkan mengacak rambut Kyungsoo yang sedang serius menggambar dengan Wacom-nya.

Salju pertama?

Jongin menatap ke arah jendela. Hari ini?

Melihat semua kegirangan, dan Junmyeon tidak akan membiarkan seorang pun lembur hari ini, jadi Jongin terpaksa mengepak barang-barangnya dan keluar kantor.

 

 

Udara diluar sudah mulai dingin. Jongin merapatkan jaketnya, dan duduk tenang di subway menuju apartemennya. Terdengar suara radio yang mengumumkan bahwa salju pertama akan turun setengah jam lagi. Tiba-tiba Jongin teringat perkataan Junmyeon di kantor,

“Hari ini adalah hari salju pertama turun! Kalian tidak mau melihatnya bersama—ya… orang special?”

 

Ini yang Jongin benci dari musim dingin. Ia… selalu sendirian.

Orang special? Tch, siapa. Cukup diriku sendiri. Ya kan?

Drrrrt.

Jongin merogoh sakunya, mencari ponsel-nya yang mulai ramai berbunyi. Semua isi pesan tentang salju pertama di LINE di berbagai grup. Tch, payah. Aku tidak akan menjawab—

Tangan Jongin berhenti scrolling layar ponselnya.

Ia berhenti di satu chat yang ia belum read sejak 5 jam yang lalu. Memang begini, Jongin jarang mengecek ponsel, terutama saat ia bekerja.

 

From: Son Naeun

Ya, dimana?

Bekerja?

JIka kau tidak sibuk, temui aku di Clover Café jam setengah 8.

 

Jongin pun menutup ponselnya, dan berdiri. Satu pemberehentian lagi ia akan sampai di daerah dimana Clover Café berada.

 

Dan disinilah Jongin.

Di depan Clover Café. Tanpa bertanya gadis itu dimana, ia sudah tau ia dimana. Dari jendela bulat besar café itu, sudah ada Son Naeun, duduk dengan tenang. Tangannya memegang sebuah buku, di depannya sudah ada green tea latte kesukaannya. Jongin tersenyum tipis.

Dengan langkah ringan, ia masuk ke Clover Café yang langsung disapa ramah oleh pemilik café ini. Tentu saja. Ia sudah menjadi pelanggan tetap café ini selama 6 tahun.

Saat masuk, ia bisa mencium bau cinnamon dan black coffee. Kedua aroma itu membuatnya kembali lagi ke 6 tahun yang lalu, dimana ia baru pertama masuk kuliah. Ia menemukan dua teman sebayanya, yang kini menjadi sahabat sejatinya.

Salah satunya, Son Naeun.

“Jongin! Pulang cepat hari ini?” tanya pemilik café, Mr. Shim dengan ramah.

“Ah, iya… Junmyeon hyung membolehkan kita semua pulang cepat…”

“Mau melihat salju pertama dengan Ms. Son ya???” tanyanya keras. Entah kenapa wajahnya mulai menampakkan semburat merah,

“Ah, tidak, tidak!”

“Yak! Kita kan selalu melewati salju pertama bersama, yak an Mr. Shim?” Jongin kaget saat tangan Son Naeun melingkar di tangannya. Mr. Shim tertawa,

“Tentu saja! Dan selalu di café ku! Ho-ho-ho! Ini, long black coffee kesukaanmu, Jongin!”

 

Bau cinnamon, long black coffe dan green tea latte bercampur menjadi satu. Jongin bersandar di kursi, melihat Naeun yang lahap memakan cinnamon roll khas Clover Café.

“Aigoo, lihat pipi itu. Sudah menggembung tidak karuan. Sudah piring ke berapa?”

Naeun jengkel, tapi tetap menjawabnya juga, “Dua. Aku sudah disini dari jam 5!”

“Kau tidak ada kerjaan lagi? LAGI?” tanya Jongin tidak percaya,

Naeun mengangguk keras, “Mm. Bukan tidak ada kerjaan, kerjaanku semua sudah beres. Semua desainku sudah aku submit, tinggal menunggu acc dari Ms. Hong dan aku bebas! Hehehe.” Ceritanya masih sambil mengunyah cinnamon roll-nya.

“Gosh, aku tidak percaya. Aku sibuk sekali tahu.”

“Pekerjaanmu belum selesai juga? Daebak, you are slow as ever.”

“Ya!”

Naeun hanya menjulurkan lidahnya. Jongin hanya tersenyum kecil. Mereka sudah bersahabat selama 6 tahun. Ia, Naeun dan Sehun. Sehun dan Jongin memang satu kantor, tetapi pekerjaan mereka membuat mereka jarang bertemu. Di kantor tadi saja, Sehun hanya datang saat makan siang, makan bersma Jongin dan pergi lagi. Ia bertugas mencari client dan mengadakan MoU dengan para client. Maka dari itu ia jarang di kantor. Ditambah, ia mempunyai tunangan sekarang. Sudah pasti ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan tunangannya. Tinggallah Naeun dan Jongin 3 tahun terakhir ini. Kalau dipikir-pikir, Jongin memang banyak menghabiskan waktu dengan gadis ini—dalam hal apapun.

“Kenapa dengan wajahmu?” tanya Naeun setelah ada keheningan diantara mereka.

“Apanya kenapa?”

“Kau murung. Ah! Jongin-ah!”

Jongin terkaget saat Naeun berteriak. Ia pun melihat kemana gadis itu melihat. Ke luar jendela.

Salju pertama turun.

Pengunjung Clover Café mulai berdiri dan melihat ke arah jendela. Televisi dalam café itu pun menampilkan pembawa acara ramalan cuaca yang memberitahukan jatuhnya salju pertama pada hari ini.

Jongin pun melihat ke arah Naeun.

Ia tersenyum senang. Ia hanya diam di kursinya, melihat keluar jendela.

Tampak tenang… dan cantik.

Jongin berkedip.

Kenapa ia tidak pernah sadar sebelumnya?

Bahwa selama ini Naeun selalu ada untuknya.

Selama ini Naeun berada di sampingnya.

Semenjak 6 tahun yang lalu. 2190 hari yang lalu. Jongin merasa dadanya sesak. Wajahnya menghangat.

Ia… tidak sendirian…

 

“Huh? Kau kenapa, Jongin?”

 

Jongin mengerjap. Menatap Naeun.

Lagi-lagi kenapa Jongin baru sadar sekarang?

Bahwa gadis itu mempunyai mata yang indah.

Bahwa gadis itu mempunyai senyum paling cantik yang pernah ia lihat.

Bahwa… ternyata ia menyayangi gadis itu.

 

“Jongin?”

 

Jongin terkekeh sebentar, menertawakan dirinya sendiri. Ia merasa bodoh. Jongin, kau bodoh.

“Hey, Naeun, mau nonton film setelah ini?”

“He? Sekarang? Hari ini?”

“Mm. Di apartemenku. Banyak koleksi DVD yang belum kita tonton kan?”

Naeun terlihat bersemangat, “Oke! Aku akan membuat mac and cheese, bagaimana?”

“Sounds good!”

 

+++

 

Paboya” ucap Mr. Shim sambil menghitung uang yang dibayarkan Jongin di kasir.

“Excuse me?”

“You fool, Kim Jongin. Kau terlambat menyadarinya kan?”

Wajah Jongin merona, “Mr Shim! Bu—bukan seperti itu…”

“Tidak apa-apa. Sebelum benar-benar terlambat, natal nanti kau harus—“

“Iya, iya! Terima kasih, Mr Shim atas sarannya!”

Mr. Shim terbahak. Jongin pun keluar, melihat Naeun, dengan rambut yang sudah dijatuhi beberapa butiran salju. Dengan cepat, Jongin membersihkan butiran salju itu di rambut Naeun, dan membalutkan syal merahnya menjadi tudung bagi gadis itu.

“Thanks”

“No problem.”

 

Bulan Desember.

Bagi Jongin, bulan Desember identik dengan dingin, salju dan… Naeun. Ya, Naeun. Kali ini tidak apa-apa mau sedingin apa, atau sebanyak apa salju yang turun di bulan Desember, asalkan ada Naeun di sampingnya…

Ia tidak apa-apa.

Ia akan baik-baik saja.

 

+++FIN+++

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s