[FF] 다시… 사랑합니다 (Love Again) – Chapter 14

CHAPTER 14


 

 

Eunji memainkan tangannya, gugup. Kyungsoo memasukkan tangannya ke dalam saku, berkeliling menatap apartemen Suho. Lalu mata lebarnya menatap Eunji,

“Dunia sangat sempit, ya, Ms. Jeong?”

Tidak ada jawaban. Eunji menahan napasnya saat merasakan Kyungsoo sudah ada di depannya. “Boleh aku tahu apa yang kau lakukan disini, Ms. Jeong?”

Eunji memainkan tangannya semakin cepat, ya ampun apa yang harus aku jawab… Ya tuhan, tolong aku…

“Oh, apa… jangan-jangan, kau… baby-sitter-nya Chaerin?”

Eunji mendongak, Kyungsoo menatapnya dengan penuh selidik, “Ms. Jeong—“

“Mommy!” Chaerin memeluk kaki Eunji, “Mom, Daddy kenapaaa?”

Eunji menelan ludahnya. Sekarang aku harus berkata apa?!

“C—Chaerin…”

Kyungsoo mengerjap, lalu menatap Chaerin, “Chaerin, tadi kau memanggil Eunji siapa?”

“Mommy,” ulang Chaerin senang, “Kyungsoo umma, ini Mommy!”

Kyungsoo menahan senyumnya, “Oh my, kau… ternyata benar, kau baby-sitter Suho.”

Eunji menatap Chaerin, “Chaerin, tolong masuk kamar dulu, ya? Eonn—uhm, Mom mau bicara dengan K—Kyungsoo umma. Oke?”

“Oke!” ia pun mulai berjalan menuju kamarnya. Blam. Saat pintu tertutup, hup! Eunji langsung membungkuk perfectly 90 drajat di depan Kyungsoo.

“Please forgive me, Sir! I—I’m sorry… I’m so, so sorry… please dont fired me… please…” ucapnya panik.

“Well, well… Ms. Jeong… kau tahu aku sangat keras dengan peraturan kan? Pantas saja, kau masih memikirkan promotion yang aku beri padamu.”

Eunji kini berdiri, “Please, please… Mr. Do—“

“Kenapa kau bekerja sebagai baby-sitter, Ms. Jeong?”

Eunji menghela napas, “Jika aku menceritakannya… kau tidak akan marah?”

Kyungsoo tertawa, “It depens what your reason is.”

Eunji menghela napas. “Eomma… Eomma sakit. K—kanker. Biaya operasinya sangat besar. K—kau tahu… uhm… aku dalam keadaan bangkrut s—sekarang..”

Kyungsoo tampak terkejut, “Astaga, apa yang terjadi?”

Eunji menelan napas. Ia benci saat harus menceritakan hal ini, “P—pernikahan yang gagal. Mempelai pria yang kabur. Uhm… b—begitulah, Mr. Do.”

Pat. Eunji terkejut saat tangan Kyungsoo menyentuh pundaknya, “I—I’m so sorry, Ms. Jeong…”

Eunji menggeleng, “Aku tidak ingin dikasihani, Mr. Do. Makanya… aku sedang menormalisasi tabunganku… juga mencari uang untuk operasi kedua ibuku.”

Kyungsoo menghembuskan napas, “Well… kalau begitu… ini jadi rahasia kita berdua saja… bagaimana Ms. Jeong?”

“Eh? J—jadi?”

Kyungsoo mengulas senyum, “Aku tidak akan memecatmu.”

Mata Eunji berbinar, senyumnya mulai terkembang, “B—Benarkah?!”

“But,” Kyungsoo mengacungkan telunjuknya, “I have a favor, Ms. Jeong.”

“What is t—that, sir?”

Kyungsoo terkekeh, “Mungkin ini terkesan… cheesy… Uhm, can you be Chaerin’s mother forever?”

Blush. “E—EH?! Mr.Do—“

“I’m kidding,” Kyungsoo mengulas senyum. “I’m just happy… saat melihat Chaerin memanggilmu ‘mommy’. Kau tahu, ia gadis yang malang. Ia butuh seorang ibu, really. Yah, dasar Suho keras kepala.”

Eunji meras pipinya menghangat sekarang. God, Eunji! Kenapa kau berdebar sekarang??

“Y—yeah, I just wanna help Suho…”

Kyungsoo menghela napas, “Well, ini sudah jam setengah 2, aku harus kembali ke kantor. Si Suho ini sepertinya, flu. Urus dia, Ms. Jeong. Dia benar-benar orang yang sangat keras kepala, kau tahu?”

“Haha, I can see that…”

Plung~ Kyungsoo melempar kunci mobil ke hadapan Eunji. Reflek, Eunji pun menangkap kunci mobilnya. “A—apa ini?”

“Kunci mobil Suho. Kalau begitu, Good day, Ms. Jeong.”

Eunji mengangguk. Saat Kyungsoo membuka pintu, ia berhenti dan memutar badannya menatap Eunji.

“Ms. Jeong?”

“Y—yes?”

“Do you like Suho?”

Blush! Thump! “E—eh?! Mr. Do—“

“I’m kidding. Hahaha. I’m leaving now. Goodbye.”

Blam. Eunji menghela napas lega. Tapi hatinya masih berdebar. P—pertanyaan macam apa itu, sih, Mr. Do?! D—dasar… tapi anehnya tidak ada satupun yang bisa aku jawab… Get your self, Jeong Eunji. Fuuuh, tapi kenapa Mr. Do baik sekali ya tidak memecatku? Aigoo…

 


 

Suho mencoba membuka matanya. Rasa sakit kepalanya mulai menyerang, tapi tidak sesakit yang tadi. Ia mengerjapkan matanya, lalu melihat sosok yang menatapnya khawatir.

“Ugh…” Suho berusaha bangun, tapi sebuah tangan menahannya.

“Sssh, Suho, kau kembali pada posisimu.”

Suho menyipitkan matanya, “Euh… Eunji?”

Gadis itu tersenyum, “It’s me, Suho”

“Kyungsoo… dia sudah pulang?”

Eunji mengangguk. Tangannya mengambil handuk kecil di kening Suho. Menggantinya dengan yang baru. “Kau memang keras kepala, Suho. Lihat kan akibatnya? Kau demam, flu dan… sepertinya juga tenggorokanmu juga sakit, kan?”

Suho menghembuskan napas, “Kau orang ke-1000 yang bilang aku keras kepala.”

“Pfffhh, karena itu memang kenyataan. Feel better now?”

“Yeah. T—thanks, Eunji.”

“That’s a relief. Kau tidak boleh sakit, Suho. Chaerin membutuhkanmu.”

“So… sorry?”

Eunji terkekeh, “Hahaha, katakan itu pada Chaerin. Hungry?”

Kruyuuuk~ suara perut Suho terdengar. Mereka berdua menyemburkan tawa. “Wait here. Aku bawakan sup hangat untukmu.”

Gadis itu keluar, dan Suho merasa… senang. Ia sudah lama tidak merasa… diperhatikan dan dirawat. Ia selalu menanggung sakit sendirian. Ia juga enggan ke dokter, ia selalu berpegang pada vitamin-vitamin dan obat-obatan tradisional yang sering ibunya beri. Entah kenapa, ia sangat sangat senang saat ia sakit… ada yang merawatnya.

Swung~ pintu terbuka muncul Eunji dengan nampan berisi satu mangkuk sup dan satu gelas air putih. Dibantu Eunji, Suho bangkit dan merubah posisinya menjadi posisi duduk.

Suho terkejut saat Eunji menyuapkan sup padanya. “Say aaah~”

Blush. Pipi Suho menghangat. Mungkin efek demam? “H—hey… aku bisa makan sendiri…”

“Oh come on, Suho. Aaah!” dia memaksa. Menyerah, ia pun membiarkan Eunji menyuapinya. Suho tersenyum.

“Good as always.” Puji Suho.

“Hihihi, thanks. Aku sering memberikan sup ini jika adikku sakit. It’s good when you had flu and shorethroat.”

“Where’s Chaerin?” tanya Suho disela makannya.

“Sudah tidur. By the way… ini sudah jam… 11 malam…”

Suho melebarkan matanya, “11 malam!? Aku tidur selama itu, kah? D—dan kau… masih disini?”

Eunji menaruh mangkuk kembali ke nampan, “Uhm.. ehehe, iya… aku tidak mungkin meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini… So… yeah…”

Kini Suho tidak bisa menahan senyumnya. Antara senang, haru, malu, juga tidak enak bercampur jadi satu. “T—thank you… Eunji. Really…”

Eunji tertawa sambil menggaruk tengkuknya, “Ahahah! It’s okay. Aku khawatir karena kau pucat sekali, kau bahkan harus dibopong oleh Mr. Do…”

“Sorry… sepertinya aku harus menelepon Kyungsoo setelah ini.”

 


 

Jam menunjukkan pukul jam setengah 12 malam. Eunji baru saja memberi Suho makan, mengganti kompresnya dan memberinya obat lagi. Apartemen ini sepi, hanya terdengar suara air yang keluar dari pencuci piring dan dentingan sendok dengan mangkuk.

Eunji mengelap tangannya dengan serbet dan terkejut saat Suho sudah ada di belakangnya.

“Sorry.” Suho mumbles. Eunji menatap Suho khawatir,

“Aigoo, Suho! Apa yang kau lakukan disini? Kembali istirahat…”

“Sekarang aku yang mengkhwatirkan dirimu.”

Blush. Calm, Eunji. Calm. “Eh? Kenapa?”

“I’m so sorry telah membuatmu di sini sampai tengah malam begini… karena mengurusku…”

“Tidak apa-apa, Suho. Jika orang lain melihatmu seperti ini, mereka akan melakukan hal yang sama. Uhm, sepertinya aku akan pulang—“

“Pulang? Eunji, are you lose your mind? Ini tengah malam, bahaya.”

Eunji menelan ludahnya. Benar. Kau tahu betapa takutnya aku sekarang? Gosh! Bagaimana aku bisa pulang?? “Tidak apa-apa, Suho. Aku bisa—“

“Menginaplah disini.”

Silence.

Blush. “EH?!”

“Eunji, I’m serious. Uhm, kau… kau bisa memakai kamarku. Aku akan tidur di sofa.”

“No, no, Suho. Aku—“

“Eunji, I insist.”

Melihat jam yang kini sudah menunjukkan tepat jam 12, Eunji menyerah. “O…okay… tapi, aku yang tdiur di sofa. Kau masih sakit, Suho. Tidurlah di kamar.”

“Eunji—“

“Aku tidur di sofa atau aku pulang sekarang” ancamnya. Owh, kau mulai mengancam bos mu sendiri Eunji? Great. Lagi-lagi suara hatinya mengejek.

“…fine.”

Eunji tersenyum, “Get back to rest, now. Okay, Suho?” tangannya mendorong punggung Suho ke arah kamarnya.

“H—hey, tapi jangan pulang, eo? Kau dengar itu, Jeong Eunji??”

“Iya, iya!”

Blam. Eunji menutup pintu kamar Suho, lalu menghela napas lega. OH MY GOD OH MY GOD, WHAT DO I DO NOW? Kyaaaak, breath, Eunji. Breath. Aaarrrgh! Bagaimana bisa aku tenang aku menginap di apartemen seorang PRIA dengan SATU ORANG ANAK?? Oke, aku bisa saja kabur sekarang… tapi, god, Eunji ini jam 12! Pria pria pervert akan memakanmu di jalan.

Trak. Eunji kaget karena Suho keluar lagi, dengan sesuatu di tangannya.

“Here.” Ujarnya. Eunji menaikkan alisnya,

“Apa ini?”

“Kau akan tidur dengan baju itu? Ini, ganti bajumu.”

Eunji menelan ludahnya, “Uh… T—thanks.”

“Setelah itu langsung tidur. Eo?” ia mengingatkan. Eunji pun hanya mengangguk, dan pintu kamar Suho kembali tertutup.

Lagi-lagi Eunji panik sendiri saat di kamar mandi. OH MY OH MY KAU MEMAKAI BAJU SUHO, JEONG EUNJI!! Jeritnya dalam hati. Kini ia memakai kaos hitam dengan tulisan ‘WOLF 88’ di belakangnya. Ya ampun, Suho. Kau ini memang berjiwa muda, ya. Pikir Eunji saat melihat merk dari kaos itu; BWCW. Yang ia tahu, BWCW itu adalah brand anak muda. Dan… kebesaran. Eunji bisa lihat sebagian pundaknya yang terekspos karena kaos yang kebesaran itu. Begitu juga training yang diberi oleh Suho. Kepanjangan. Ah, kau maunya apa, sih? Hanya untuk tidur saja kok.

Dengan tenang, akhirnya Eunji pun menuju sofa. Ia pun memakai kaos kaki dan jaketnya, menepuk-nepuk bantal di sofa dan tidur. Ugh, aku tidak bisa tidur tanpa selimut. Tapi, ya sudahlah. Selamat malam, Chaerin. Selamat malam, Suho…

Eunji pun tertidur.

 


 

Eunji menginap! Ulala~

Btw, maafkan baru nge post lagi. Double post untuk hari ini 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s